Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 15 Apr 2019 14:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengenal Nyegara Gunung, Simbol Kesakralan Laut dan Gunung

Foto 1 dari 5
Sebuah keluarga sedang melanjutkan ibadah pasca Upacara Nyegara Gunung.
Sebuah keluarga sedang melanjutkan ibadah pasca Upacara Nyegara Gunung.
detikTravel Community - Tradisi dan budaya Bali memang selalu menarik untuk diulik. Kalau kamu biasanya tahu soal Ngaben, inilah tahapan lanjutannya Nyegara Gunung.

Suatu ketika, ada segerombol orang menggunakan baju putih-putih tradisional Bali berjalan memasuki Pura Goa Lawah, Klungkung, Bali. Usut punya usut, rombongan ini datang dari sebuah dusun di Singaraja. Jarak yang cukup jauh untuk ditempuh. Ternyata, mereka sedang melakukan upacara Nyegara Gunung. Apa sih Nyegara Gunung itu?

Kalau Anda tahu upacara Ngaben, Nyegara Gunung adalah beberapa tahapan setelahnya. Setelah mayat melalui proses Sekah atau digali dari kuburannya, di-Geseng atau dibakar, di-Nganyud atau dibuang abunya ke laut, lalu diupacarai lagi, runutan paling akhir adalah Nyegara Gunung.

Tujuannya untuk memanggil kembali roh leluhur keluarga yang ditinggalkan agar lebih suci lagi dan ditempatkan di Sanggah Kemulan. Sanggah Kemulan adalah pura yang ada di masing-masing keluarga tempat leluhur dipuja. Umat Hindu di Bali percaya kalau belum melakukan upacara ini, roh itu belum benar-benar bersih dan belum bisa reinkarnasi.

Lalu, kenapa lokasinya di Pura Goa Lawah? Biasanya salah satu petinggi agama Hindu di suatu wilayah mendapatkan wangsit untuk menentukan lokasi upacara Nyegara Gunung, sehingga upacara kali ini diadakan di sana.

Sebagai pengunjung, Anda bisa masuk ke Pura Goa Lawah dan menyaksikan langsung upacara ini. Tiket masuk ke Pura Goa Lawah Rp 25 ribu per orang, plus dapat bonus kalung etnis unik. Pengunjung juga wajib menggunakan sarung.

Tenang saja, begitu masuk Anda akan langsung dipinjamkan sarung oleh penjaga loket. Mengingat Pura adalah tempat suci, bagi wanita yang sedang menstruasi tidak diijinkan masuk ke dalam Pura.

Konon jika ditelusuri, Goa yang ada di Pura Goa Lawah bisa tembus ke Goa Raja yang ada di Pura Besakih. Jaraknya berkilo-kilo meter jauhnya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Goa ini.

Masyarakat percaya, hanya orang yang cukup sakti dan punya ilmu tinggi yang bisa melewatinya. Dinamakan Goa Lawah karena goa ini tempat hinggapnya para kelelawar (lawah). Pas sekali untuk melaksanakan upacara Nyegara Gunung.

Selain letaknya di atas bukit yang menjorok ke laut (segara), saat magrib kelelawar-kelelawar ini ramai keluar goa untuk mencari makan. Fenomena ini menjadi penanda bahwa upacara telah selesai dilaksanakan. Di sinilah daya tarik wisata Pura Goa Lawah, prosesi keluarnya kelelawar dari goa, lengkap diiringi pekikannya yang ramai.

Nyegara berarti laut (segara) dan gunung bisa diartikan bukit atau tempat tinggi. Sebuah filosofi Bali mengartikan upacara Nyegara Gunung adalah hubungan antara laut dan gunung sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Maka, setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut dan sebaliknya. Gunung, daratan yang menjulang ke angkasa adalah sumber penghidupan semua makhluk. Sedangkan lautan mengelilingi daratan dan hampir memenuhi seluruh permukaan bumi.

Mirip seperti lambang lingga yoni. Vibrasi dari dua tempat ini juga memancarkan aura keagungan dari Sang Pencipta, sehingga sangat tepat dinamakan Upacara Nyegara Gunung.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA