Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 15 Mei 2019 13:44 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pengalaman Seru Touring Naik Motor dari Italia ke Kroasia

Wijaya Kusuma
d'travelers
Foto 1 dari 5
Ini adalah rute kami
Ini adalah rute kami
detikTravel Community - Touring naik motor bersama teman-teman memang seru. Apalagi kalau dilakukan di luar negeri dari Italia, Bosnia Herzegovina, hingga ke Kroasia.

Perjalanan ke Negeri Balkan ini kami mulai dari tanggal 30 Agustus 2018, Perjalanan ini kami batasi hanya 10 orang saja untuk memudahkan pengaturan perjalanan. Peserta kali ini dari manca daerah ada yang dari Bali ada yang dari Yogyakarta, Surabaya dan Bandung.

Tim berkumpul di Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2018 dan kita berangkat menuju Milan pada pukul 16.00 sore. Kita transit di Abu Dhabi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Milan, Italia. Kami tiba pada pukul 07.30.

Setelah kami mengambil mobil, kita menuju Linate Airoporto yang terletak di daerah Segrate atau sekitar 45 menit dari Bandara. Setibanya di hotel kita unloading barang dan kita menuju ke tempat pengambilan motor. 6 GS, 1 F700 dan 1 F800 serta 1 ducati Scrambler yang akan kita pergunakan. Semua motor keluaran tahun baru.

Motor bisa diambil hari itu juga sehingga kita bisa lebih mudah mempersiapkan pakaian yang akan kita simpan di dalam box motor. Setiap motor ada 3 box yang bisa digunakan untuk menyimpan kebutuhan sehari hari.

Esok harinya kita mempersiapkan diri dan hari pertama kita akan menuju Kota Pisa. Kami arahkan motor ke arah Genoa. Kami sengaja tidak melalui Tol road.

Mendung dan gelap menaungi cuaca pagi itu. Sempat kami khawatir karena hari pertama sudah hujan begitu lebatnya. Tetapi Andrea dengan tenangnya bilang. Pasti nanti jam 10 hujan berhenti. Wah bener, hujan akhirnya benar benar berhenti. Ramalan cuacanya tepat sekali.

Kita makan siang di atas pegunungan di Toriglia. Kami melewati National Park Ente Parco Naturale Regionale dell'Antola dan Parco delle Cinque Terre.

Setelah itu kami melewati pinggir laut dalam perjalanan kami ke Pisa. Kami melewati kota Genoa yang terkenal karena ada jembatan yang runtuh bulan lalu.

Team terpecah, ternyata si Andrea lewat Pisa Nord sedangkan saya lewat Pisa kota. Kami tiba di hotel pada pukul 19.00 malam.

Sampai di hotel B and B Pisa, kami langsung keluarkan makanan kami yang kami bawa dari Indonesia. Rendang, Abon, dan lain lain kita sikat habis. Tanggal 02 September kami habiskan waktu kami di Pisa.

Pisa adalah sebuah kota di Tuscany, wilayah Italia Tengah. Pisa adalah ibu kota Provinsi Pisa. Meskipun Pisa dikenal di seluruh dunia karena menara miringnya, kota ini berisi lebih dari 20 gereja bersejarah lainnya.

Beberapa istana abad pertengahan dan berbagai jembatan di seluruh Arno. Sebagian besar arsitektur kota dibiayai dari sejarahnya sebagai salah satu republik maritim di Italia.

Kota ini juga merupakan rumah dari Universitas Pisa, yang memiliki sejarah akan kembali ke abad ke-12 dan juga memiliki Scuola Normale Superiore di Pisa, yang didirikan oleh Napoleon pada tahun 1810.

Kami selesai mengelilingi Pisa. Siang itu kami bergegas mempersiapkan diri menuju Provinsi Siena. Jalanan yang dipilih Andrea memang sangat cantik. Kami pun memilih kastil abad ke 13 yang sudah di renovasi sebagai tempat nginap kami.

Andrea juga mengajak rombongan menikmati perjalanan melalui perkebunan anggur dan jalanan gravel. Jalanan dan pegunungan Italy ini memang sangat indah sekali. Pemandangan yang luar biasa indah membuat kami terkesima. Kastil tempat kami menginap juga terletak di atas bukit dengan tanaman hijau di sekelilingnya.

Jalur yang kami lewati yakni SS1 Aurellia dan melewati Colle Val d Essa yang sangat Indah. Kami berhenti makan siang di Bosco De La Spina yang terletak di SP 33. Bosco De La Spina adalah rumah makan yang juga merangkap sebagai museum sepeda dan hotel. Tempatnya Indah dan makanan Fine Dining yang nikmat.

Sore hari kami tiba di Castil yang terletak sekitar 8 Km dari Monteroni D Arbi. Jalanan gravel membuat andrenalin kami tertantang. Ditambah sedikit rintik membuat jalanan agak licin.

Semua terbayar dengan pemandangan yang indah di kastil yang kami inapi. Kastil milik Roberta Heksta ini sangat bagus untuk diinapi. Ada 16 kamar di kastil ini.

Setiap kamar ada kamar mandi di dalamnya, membuat kami merasa betah tinggal di situ. Apalagi di kastil tersebut sudah tersedia semua peralatan makan plus 2 botol wine yang disediakan oleh pemilik kastil.

Hari ke 3 riding. Pagi hari kami bersiap-siap. Kami kali ini menuju Ancona. Kota pelabuhan di tepi pantai timur Italia.

Sebelumnya kami mampir dulu ke Kota tua Siena yang terletak di Provinsi Tuscany. Siena, seperti kota-kota bukit Tuscan lainnya, pertama kali didirikan pada zaman Etruscans (sekitar 900-400 SM). Ketika itu, kota ini dihuni oleh suku yang disebut Saina.

Orang Etruria adalah suku orang-orang maju yang mengubah wajah Italia tengah melalui penggunaan irigasi untuk merebut kembali tanah yang sebelumnya tidak bisa diolah. Kebiasaan mereka membangun pemukiman mereka di benteng-benteng bukit yang dibelah dengan baik.

Sebuah kota Romawi bernama Saena Julia didirikan di lokasi pada masa pemerintahan Kaisar Augustus. Beberapa arkeolog menyatakan bahwa Siena dikontrol untuk periode oleh suku Gaulish yang disebut Senones.

Menurut legenda setempat, Siena didirikan oleh Senius dan Aschius, dua putra Remus dan dengan demikian keponakan Romulus, setelah kemudian Roma dinamai.

Beberapa mengklaim nama Siena berasal dari Senius. Etimologi lain mengambil nama dari nama keluarga Etruscan Saina, nama keluarga Romawi Saenii, atau kata Latin senex 'tua' atau bentuk senja 'menjadi tua'.

Siena tidak berhasil di bawah pemerintahan Romawi. Itu tidak berlokasi di dekat jalan-jalan utama dan tidak memiliki peluang untuk berdagang. Status piciknya berarti bahwa Kekristenan tidak menembus sampai abad ke-4, dan tidak sampai orang orang Lombard menyerbu Siena dan wilayah sekitarnya yang dikenalnya kemakmuran.

Kami berkeliling Kota Siena dan mempelajari tentang sejarahnya. Istirahat sejenak di sini sebelum lanjut ke Ancona. Kami melewati Urbino tempat kelahirannya Valentino Rossi. Aroma balap pun terasa karena ternyata memang tempat kelahiran Valentino Rossi itu dekat sekali dengan San Marino. Andrea pun pernah latihan balap di situ.

Saya lupa, di dalam perjalanan yang kami lewati kami sempat makan di situ dan ternyata tempat kami makan pemiliknya adalah bikers dan pemilik KTM 1290. Saya sempat ke garasinya di bawah ternyata motornya banyak. Dia sangat senang kedatangan tamu dari Indonesia dan memberikan discount khusus buat kami.

Kami makan siang di sini a la carte sebelum kami lanjut ke Ancona. Ancona adalah kota pelabuhan tempat kapal kapal bersandar menuju Eropa Timur.

Sebelum sampai Ancona, kami menyusuri sungai yang terletak di Urbino. Sesampainya di Ancona maka kita harus menukarkan confirmation booking dengan tiket untuk naik ke kapal. Persyaratan naik kapal juga cukup ketat, karena setiap orang diminta passport, copy surat kendaraan, termasuk rental form yang membuktikan bahwa motor anda bisa digunakan di Eropa Timur.

Sempat terjadi drama, justru passport Wijaya Kusuma terselip di SIM International, sementara petugas portnya meminta asli passport. Namun setelah ketemu semua beres. Setelah beres semua, maka kita bersiap siap naik kapal SNAV dari Ancona Italy ke Kota Split di Kroasia. Mungkin ditanyakan passport karena kami keluar dari negara Italy di Eropa Barat menuju Eropa Timur.

Kapal yang kita tumpangi dari pelayaran Snav. Kapal yang sangat besar panjangnya saja 162 meter dengan lebar 30 meter. Jadwal kapal berangkat jam 8 malam dan tiba di Split Kroasia jam 06.00 pagi. Total penyeberangan adalah 10 Jam perjalanan. Maklum kapal berlayar maksimum 30 km/jam dengan jarak tempuh 318 km menyeberangi Laut Adriatic.

Ferry yang digunakan luar biasa bagusnya. Kapal itu ada 8 tingkat dan 4 tingkat untuk kendaraan. Setelah dapat tiket maka kami ke resepsionis untuk tuker kunci kamar. Beruntung yang order Andrea, Sehingga kita mendapat discount untuk ruangan kapal ini dan di upgrade dari kamar berempat menjadi kamar hanya berdua.

Senja terasa lambat di sini. Pemandangan Indah nampak di kejauhan. Kapal kami angkat sauh menuju Kroasia pada jam 20.00 malam. Tapi jangan salah, di sini jam 20.00 masih terang dan sunset terjadi jam 8 malam.

Di ferry ini apabila kita sudah naik ke dek, maka kita tidak boleh menuju mobil. Ruangan mobil segera di seal dan kita tidak boleh lagi kembali ke mobil. Oleh karena itu, kita setelah naik ke kapal, harus membawa seluruh perlengkapan mandi dan kebutuhan kita selama menginap di kapal.

Teman teman menuju ke geladak kapal ingin menyaksikan tenggelamnya matahari di ufuk timur. Setelah kembali, kami mandi dan segera mencari makan malam. Makan malam yang disajikan juga beragam. Ada makanan muslim dan makanan Eropa yang harganya juga terjangkau.

Di kapal ini juga tersedia berbagai macam fasilitas mulai bioskop, tempat sauna, refleksi, bar, mini market dan lain sebagainya. Layaknya kapal ini adalah kapal pesiar yang nyaman.

Setelah makan malam sayapun memutuskan untuk tidur, lelah dan mempesiapkan riding untuk hari ke 4 menuju podgorica.

Pagi jam 05.00 kami dibangunkan oleh pengumuman awak kapal bahwa kapal sudah menyediakan sarapan pagi, jam 06.00 kami di informasikan bahwa kapal bersiap bersandar dan penumpang di perbolehkan menuju ke mobil atau motor setelah mengembalikan kunci kamar kepada receptionis kapal.

Kami pun bergegas mempersiapkan motor dan jam 07.30 pagi motor kami pun sudah keluar dari lambung kapal.

Kroasia

Setelah kami memutari Kota Split dan sarapan, segera kami persiapkan motor ke arah Podgorica. Ini adalah perjalanan yang terpanjang (450 km). Kami arahkan motor kami ke Dubrovnic.

Perjalanan kami kali ini tidak membosankan karena di Kroasia tidak ada kamera pengintai kecepatan. Memang di beberapa tempat terlihat polisi memantau arus lalulintas di tempat tempat yang rawan.

Kami melewati Makarska, kota pantai yang cantik. Kami terus menyusuri pantai hingga Dubrovnik. Kroasia sekarang sangat maju dengan infrastruktur yang luar biasa tertata.

Kami juga sempat berhenti di Gradac. Kami sempat berfoto di sini sebelum jalan ke dubrovnik. Kira kira 10 km dari Gradac, kami memutuskan makan siang.

Pilihan fine dining mengakibatkan waktu molor menjadi cukup panjang. Kita menghabiskan waktu hampir 2 jam hanya untuk makan siang. Setelah itu kami meluncur ke Dubrovnik dalam arah kami menuju Podgorica di Montenegro.

Dubrovnik adalah sebuah kota di Kroasia Selatan yang menghadap Laut Adriatik. Kota yang berbenah menjadi kota cantik ini di kelilingi dengan dinding batu besar yang diselesaikan pada abad 16. Beruntung peninggalan ini tidak hancur karena perang saudara yang terjadi di tahun 1990-an.

Ada dinding besar yang diselesaikan pada abad ke 16 dan sekarang masih teawat baik seperti Gereja Blaise Baroque hingga Renaissance Sponza Palace dan Ghotic Rector Palace yang sekarang menjadi museum sejarah. Sayang kami tidak sempat mampir karena keterbatasan waktu.

Dubrovnik dahulunya hancur karena perang, dimana pada tahun 1991, perang Yugoslavia pecah. Dubrovnik dikepung oleh tentara Serbia dan Montenegro. Tapi sekarang kota ini berubah menjadi kota yang bagus dan maju sekali.

Kira-kira 5 km setelah kota ini, kami mengambil kiri ke arah border. Hari sudah semakin sore dan lambat laun matahari pun menghilang. Waktu menunjukan jam 19.00. Kami memasuki border Bosnia-Herzegovina. Pemeriksaan dokumen mulai dilakukan dan saya paling duluan.

Saat pemeriksaan dokumen mereka mendapati bahwa motor yang saya pakai tidak ada green card, demikian pula 6 motor lainnya. Sempat kami disuruh kembali ke Kroasia. Saya tanyakan bagaimana syaratnya agar bisa masuk ke Bosnia. Dia bilang bahwa kita harus bayar ijin kendaraan motor dan asuransi kendaraan sebesar 30 EUR.

Akhirnya kami memilih membayar asuransi tersebut dan kami menunggu petugas asuransinya datang dari kota terdekat. Cukup lama kami menunggu sehingga akhirnya gelap pun datang. Setelah selesai kami segera tancap gas ke arah Trebinje.

Perjalanan masih jauh dan saat tiba di Trebinje rombongan kembali terpecah. 7 orang ikut Andrea, sedangkan sisanya ikut saya. Terpaksa saya mengikuti offline maps Sygic yang sudah saya set di motor saya.

Sygic menunjukan jalan yang pendek. Saya sempat ragu apakah benar arah yang dituju. Sempat kita kesasar dan Sygic menunjukan salah arah jalan ke rumah orang, sampai orangnya kaget ada rombongan motor yang tidak bisa Bahasa Bosnia.

Ternyata arah jalan yang dimaksud berdempetan dengan jalan ke rumah orang tersebut. Tetapi kembali saya ragu meneruskan karena jalannya hanya cukup satu mobil serta menyusuri sungai dan hutan yang sangat lebat.

Saya lihat kembali GPS, kita bandingkan dengan GPS Michael yang dia bawa ternyata arahnya sama. Akhirnya kita lanjut dan sekitar 1 jam kemudian kita menemukan jalan besar dan border hanya 1/2 jam dari situ.

Saya berpikir bahwa kami ketinggalan jauh, kami pun bertiga mencap di border Montenegro. Ternyata setelah selesai ngecap rombongan Andrea mendekati border dan selisih hampir 1 jam dengan saya.

Karena sudah gelap, saya memutuskan maju ke depan bertiga. Saya harus duluan sampai hotel karena saya harus memastikan bookingan kamar di Ramada Podgorica. Saya harus mempersiapkan kunci kamar dan makan malam teman-teman.

Jalanan sangat bagus. Malam yang dingin itu kecepatan saya kembangkan sampai 140 km per jam. Ternyata Johandi dan Bagoes Sadono sepertinya lebih dari 160 kpj. Lambat laun saya tertinggal karena motor saya tidak bisa mengikuti GS1200 K50, juga karena saya mengendarai F800 GSA yang jangkung.

Ada kelemahan F800 ini, dimana kalau nikung motor ini serasa mau jatuh. Hal ini terjadi karena berat motor ini cenderung ke belakang, sehingga saat ngerem bobot belakang mendorong ke depan. Namun di medan jelek suspensinya memang sangat top.

Sesampai di Podgorica sekitar jam 1.00 dini hari, saya dikagetkan oleh Johandi dan Bagoes yang ada di belakang saya. Lha kenapa posisinya mereka di belakang, padahal saya jauh tertinggal.

Akhirnya touch down hotel, dan ternyata team mobil Shandi Widjaya sudah menyiapkan kamar hotel dan makanan. Sekitar 1 jam kemudian team tiba di hotel dan langsung menyantap makanan yang sudah disediakan.

Montenegro

Hari ini kita akan melewati Pegunungan Balkan, di antara Montenegro dan Bosnia Herzegovina, lewat Taman Nasional Durmitor, Montenegro di ketinggian 1.800m, terus lewat perbatasan ke Bosnia dan menuju Mostar.

Rombongan walaupun tiba di Podgorica Montenegro pada pagi hari tetapi jam 09.00 sudah siap ngegas lagi. Tentunya setelah sarapan jam 07.00 pagi, team mempersiapkan motor. Tidak ada yang dikunjungi di Kota Podgorica, karena teman teman berencana ke Durmitor National Park. Jarak tempuh hari ini adalah 391 km apabila kita memutar ke arah Durmitor.

Saya, Deddy, Lioe Tat Sen serta Mikhael memutuskan langsung ke Mostar, sehingga kelompok terbagi dua. Saya memilih mendaki gunung di Danilograv Belgrad dan jalan menuju Meteor Blizu Ostroga yang terkenal, daripada ke Durmitor National Park.

Meteor Blizu Ostroga terletak di perbatasan Niksic dan Danilograv. Biara Ostrog adalah biara Ortodoks Serbia yang terletak di dalam sebuah batu besar yang disebut 'Ostro Greda' di Montenegro.

Biara Ostrog terletak sekitar 50 km dari Kota Podgorica dan 15 km dari Kota Nik. Biara ini dipersembahkan untuk Santo Basil dari Ostrog yang dimakamkan di tempat itu.

Ketika pembangunan Biara untuk kediaman Saint Basil dimulai, pembangunan berfokus pada gua di atas Desa Zagorak. Ketika itu, setelah seharian mengamati pekerjaan di lokasi ini, Santo Basil memberi perintah untuk memperpanjang Biara ke tebing-tebing Ostrog.

Konon ceritanya, ketika dia kembali ke daerah itu keesokan harinya, Dia mengikuti perintah Dewa untuk untuk membangun Gereja Vavedenja di gua pertama, gudang dan kamar tidur untuk tamu di gua kedua dan sebuah kapel di gua ketiga, dimana sebagian besar artefak keagamaan di mana disimpan.

Hanya di bawah biara sebuah gereja kecil sudah berada. Jadi dia menambahkan sebuah rumah kecil untuk dibangun di sana untuk mengolah gandum dan kehidupan para biarawan muda. Ada dua bagian ke biara, biara bagian atas dan bawah.

Kami mendaki naik motor mengikuti jalan yang indah melalui hutan selama sekitar 45 menit ke biara bagian atas. Kendaraan mobil sebaiknya di tinggal dibawah dan kita naik tangga ke atas karena naik mobil sangat beresiko, dengan jurang yang curam dan dalam.

Setelah puas berkeliling memutari Ostrog, kami turun menuju Biara yang di bawah. Di dekat situ juga terdapat banyak restoran dan penjual cenderamata. Kami menyempatkan makan siang di sini dan ternyata hidangannya lumayan enak dan murah. Kami mencoba makan steak sapi, omlette dan lain sebagainya. Kami membawa sambel sendiri sebagai bumbunya.

Pemilik restoran sempat bertanya, sambelnya apakah pedas?. Ya tentu pasti akan lebih pedas dibandingkan di Bosnia. AKhirnya dia minta 3 sachet sambel khas Indonesia untuk diberikan ke orang tuanya. Mereka juga tak lupa meminta berfoto sebagai bukti ada tamu jauh yang telah mampir di restorannya.

Sementara Andrea dan Istri, Dr Tedjo dan Istri, Bagoes Sadono dan Istri, Johadi Hastarika, Denny Ariyasa dan Widiantoro menuju Durmitor Park. Kalau kita lewat sini maka sangat jauh memutar, tetapi tetap akan bertemu di Border yang sama di Niksic.

Durmitor Park adalah Taman Nasional Montenegro yang terletak di barat laut Montenegro. Tempat tersebut adalah bagian dari Alpen Dinarik. Puncak tertingginya, bernama Bobotov Kuk, memiliki ketinggian 2,523 meter.

Dalam perjalanan ke Niksic mereka melewati jembatan tua Tara yang sangat panjang. Durmitor Park sekarang juga menjadi bagian dari warisan dunia dan menjadi World Heritage UNESCO.

Setelah foto foto di Tara Bridge, mereka langsung ke Niksic border Montenegro dan Bosnia. Kita ketemu lagi di situ. Saya hanya bertiga berjalan konstan menuju Mostar. Jalan yang luar biasa mulus dan pemandangan indah disajikan selama perjalanan. Kami setelah lewat border sempat memasuki jalan tol sebentar di Trebinje sebelum akhirnya kami keluar melalui jalan biasa.

Mostar adalah sebuah kota di Bosnia dan Herzegovina selatan, yang terletak di Sungai Neretva. Kota ini dikenal dengan ikon Stari Most (Jembatan Tua), jembatan yang dibangun kembali dari abad pertengahan.

Gang-gang di dekatnya penuh dengan toko-toko dan kios-kios pasar, dan Museum Jembatan Tua yang mengeksplorasi sejarah panjang jembatan itu. Sebuah tangga sempit mengarah ke menara Masjid Koski Mehmed-Pasha dengan pemandangan panorama kota.

Kroasia

Kami tiba malam hari di Mostar, kami menginap di city hotel yang terletak di pusat kota. Setelah tiba, motor diparkir di basement. Kami lanjut makan di resto yang terletak di depan hotel. Ternyata di sekeliling hotel berisikan pub high class di Mostar.

Tentang Mostar itu sendiri, kurang banyak tujuan wisata di sini. Kota ini berada di lembah, dan salah satu yang terkenal adalah Permata Mostar, atau Jembatan Stari Most yang dibuat pada abad ke-16.

Jembatan bergaya Ottoman ini membentang di Sungai Neretva dan menghubungkan kedua sisi kota. Jembatan ini telah menjadi simbol kota selama lebih dari 400 tahun dan sempat hancur selama Perang Bosnia dan dibangun kembali pada tahun 2004.

Jembatan khusus ini dirancang oleh Mimar Hayruddin, seorang siswa dan murid arsitek terkenal, Mimar Sinan, dan dibuka pada tahun 1556. Kota ini mengambil namanya dari penjaga jembatan, Mostari, yang menjaganya. Jalan-jalan di sekitar jembatan menjadi hidup dengan berlimpahnya restoran, kafe dan toko-toko, semua diatur dalam gado-gado pra-Ottoman, timur Ottoman, Mediterania dan arsitektur Eropa Barat.

Menyelam dan melompat dari di atas jembatan adalah tradisi lama. Ada kegiatan penyelaman tahunan yang diadakan di sini setiap tahun di bulan Juli dan jembatan menjadi kegiatan terakhir dari Red Bull Cliff Diving World Series.

Pada waktu tertentu di musim panas ada sekelompok pria muda menyelam dan berpose untuk foto. Anda dapat mencobanya sendiri, jika Anda merasa berani. Anda cukup mengeluarkan uang pecahan 20 atau 25 Kuna untuk 'pelatihan singkat' dari pemuda setempat.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA