Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 22 Mei 2019 15:10 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mendaki Batu Baginda, Granit Terbesar di Belitung

Foto 1 dari 4
Batu Baginda di Belitung.
Batu Baginda di Belitung.
detikTravel Community - Selain tersebar di hampir seluruh pantai Belitung, batu-batu granit tersebut juga banyak ditemukan di darat. Salah satu yang terbesar adalah Batu Baginda.

Belitung dan batu-batu granit besarnya memang dua hal yang tak terpisahkan. Kehadiran granit-granit raksasa ini memang menjadi ciri khas yang membuatnya beda dari destinasi-destinasi wisata alam lain di Indonesia. Terlebih lagi ketika granit-granit yang berusia 247 juta tahun tersebut bersandingan pasir putih nan halus dan biru lautan yang menenangkan. Ia tak ada duanya.

Siang itu, setelah puas mengagumi indahnya granit di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung Barat, saya penasaran dengan batu granit besar yang letaknya tak jauh dari Pantai Penyabong. Warga sekitar menyebutnya Batu Baginda (Batu Baginde). Tepatnya, ia terletak di Desa Padang Kandis, Membalong. Untuk sampai ke sana, saya harus berkendara sekitar satu jam setengah dari Kota Tanjung Pandan.

Perjalanan menuju Batu Baginda menyenangkan. Jalan aspal mulus yang kulalui membelah desa-desa tak padat penduduk, hutan-hutan rimbun dan perkebunan kelapa sawit. Setelah lama berkendara, akhirnya dua buah batu besar menyerupai bukit yang bersebelahan tampak dari kejauhan. Itulah dia, batu granit terbesar yang ada di Pulau Belitung.

Kompleks Batu Baginda terdiri dari dua bongkahan granit raksasa yang dikenal dengan batu jantan dan batu betina. Tidak keduanya boleh didaki, hanya batu betinanya saja yang bisa dieksplorasi. Dipandu oleh Diki, anak pemilik salah satu warung makan di Pantai Penyabong, akhirnya saya mulai ekplorasi ini.

Butuh waktu sekitar lima belas menit saja untuk sampai di puncak granit. Treknya sendiri cukup mudah, hanya ketika mau sampai atas, kita harus meniti tangga agak curam yang sudah disediakan. Cukup menguras keringat. Namun, semua jerih payah itu terbayar oleh pemandangan menawan yang disuguhkan di puncaknya.

Hamparan hutan luas dibingkai oleh laut Belitung yang jernih begitu memanjakan mata. Belum lagi angin sepoi-sepoi yang tak pernah berhenti berhembus, mampu mengusir hawa sumuk sisa pendakian.

Oh ya, jika berniat mendaki Batu Baginda, jangan lupa untuk mengenakan pakaian yang nyaman, membawa air minum yang cukup dan yang paling penting adalah alas kaki yang aman. Demi keselamatan, mendaki dengan sandal jepit biasa tidak disarankan, terutama ketika sudah mulai mendaki bagian granitnya.

Setelah puas menikmati Belitung dari ketinggian, akhirnya aku mengajak Diki pulang. Kebetulan juga hari sudah semakin petang. Langit oranye yang semakin lama semakin temaram menemaniku kembali ke Tanjung Pandan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA