Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 10 Jul 2019 13:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pulau Karampuang Nan Perawan di Mamuju

Windy Adryana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Welcome to Pulau Karampuang. Jernih kan airnya, semoga akan seterusnya seperti ini terbebas dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap sampah.
Welcome to Pulau Karampuang. Jernih kan airnya, semoga akan seterusnya seperti ini terbebas dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap sampah.
detikTravel Community - Nama Kabupaten Mamuju di Sulawesi Barat mungkin masih asing terdengar di telinga traveler. Namun, kabupaten ini punya pulau perawan nan indah.

Pada bulan puasa lalu yaitu sekitar tanggal 20-an Mei, saya berkesempatan untuk menghampiri salah satu Kabupaten yang ada di Sulawesi Barat, yaitu Kabupaten Mamuju. Menuju Kabupaten Mamuju dapat ditempuh menggunakan pesawat terbang.

Jika menggunakan pesawat terbang, transit terlebih dahulu untuk pindah pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar. Butuh waktu selama kurang lebih 40 menit untuk tiba di bandara Tampa Padang, Mamuju dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar.

Hanya ada dua maskapai yang dapat melayani penerbangan dari Makasar ke Mamuju, yaitu Garuda Indonesia dan Wings Air. Tidak heran, makanya Bandara Tampa Padang ini tidak begitu besar. Alternatif lain untuk sampai di Mamuju, dapat menggunakan mobil dari Makasar dan kurang lebihnya ditempuh selama 10 jam perjalanan (fyi, ini info Saya dapat juga dari driver sewaan selama di Mamuju).

Sebenarnya ada apa saja sih di Mamuju? Sudah jauh-jauh datang kan, pasti pada penasaran soalnya emang kan selama ini belum terekspos sekali wisata yang ada di Mamuju. Saat tiba di Mamuju saya pun langsung menuju hotel, yaitu D'Maleo Hotel and Convention Center.

Hotel di pusat kota Mamuju itu baru ada 2 guys, yang lebih lama ada yaitu D'Maleo Hotel and Convention Center dan yang baru dibuka itu hotel yang ada di dalam mal, Maleo Town Square atau disingkat Matos. Daerah sekitaran Matos ini rupanya merupakan pusat kotanya Mamuju.

Karena hanya ada 1 mal yaitu Matos yang sepertinya masih mal baru, dan ada Pantai Manakarra, ya mungkin kayka Pantai Losari nya Makasar. Bulan Ramadhan di Mamuju ini lumayan ramai, karena di sekitaran Matos dan Pantai Manakarra banyak berjualan es kelapa muda, es pisang ijo, dan berbagai kudapan lainnya.

Untuk es kelapa muda sendiri 1 batok kelapanya dihargai Rp 10.000 saja. Ya lumayan kan gak terlalu mahal, dan bisa disantap saat berbuka dengan ditemani sepoi-sepoi angin Pantai Manakarra. Selain itu, di Mamuju ini mayoritas beragama muslim.

Karena yang saya perhatikan kemarin terdapat dua masjid besar yang ada di sekitar pinggiran jalan Pantai Manakarra, salah satu mesjid besarnya ada persis di depan D'Maleo Hotel and Convention Center. Tata Cara mengumumkan berbuka puasa di sini juga unik d'travellers. Soalnya tanda berbuka puasa ditandai dengan sirine terlebih dahulu, bukan dengan kumandang adzan.

Adzan berkumandang sekitar kurang lebih 10-15 menit setelah sirine tanda berbuka puasa berbunyi (mungkin khatibnya buka puasa dulu kali ya). Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, keesokan paginya saya beserta teman-teman mencoba untuk pergi ke salah satu pulau, yaitu Pulau Karampuang.

Untuk menuju ke pulau ini, Kami menaiki perahu dari belakang hotel D'Maleo Hotel and Convention Center. Perahu ini lumayan besar d'travelers, katanya biasa diisi hingga 10 orang. Biaya perahu ini cukup murah, hanya Rp 200.000 PP per satu perahu itu, karena kita berempat yaudah jadinya biaya dibagi deh.

Sepanjang perjalanan menuju Pulau Karampuang, disajikan dengan jernihnya air laut, dan sepoi-sepoi angin. Makin mendekati tujuan, airnya semakin jernih, berwarna biru toska, dan memang sepertinya masih sepi dan belum terlalu dikomersilkan.

Setelah kurang lebih 20-30 menit, tibalah kami di Pulau Karampuang. Benar saja d'travelers, air di pulau ini jernih banget, berwarna hijau toska dan kita bisa bebas melihat ikan-ikan yang ada. Memasuki pulau ini, kita gak dipungut biaya. Percaya tidak, waktu kita datang ke sini wisatawannya hanya tim kami saja.

Jadi secara gak langsung sudah kayak private island. Wah benar-benar deh, ini sih memang wisata yang masih jarang terjamah. Aktivitas yang bisa dilakukan di pulau ini adalah berenang, snorkeling atau sekedar santai-santai di warung yang kebetulan pada saat itu hanya ada 1 warung yang buka.

Usai dari Pulau Karampuang, kita melanjutkan perjalanan ke salah satu bukit yang dinamai Mamuju City. Di sini juga terdapat Rujaba yaitu Rumah Jabatan Bupati Mamuju, yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman warga. Rujabanya lumayan luas, dan ada satu pendopo yang memang dapat digunakan untuk umum. Di mana lokasinya berdekatan dengn bukit bertuliskan Mamuju City.

Akhir kata, tidak afdol rasanya apabila setelah bertandang singkat di Mamuju kalau kita tidak mengetahui apa sih potensi ekonomi yang ada di Mamuju. Atau apa sih buah tangan yang bisa dibeli untuk mendukung perekonomian di Mamuju.

Oleh-oleh khas Mamuju dapat berupa makanan ringan seperti kerupuk yang terbuat dari rumput laut, kacang-kacangan, abon ayam dan abon ikan marlin, serta cinderamata lainnya seperti kain tenun khas Mandar dan sarung sutra khas Sulawesi.

Pada kesempatan kemarin, saya juga sempat berkunjung ke salah satu UKM yang ada di perumahan BTN Ampi, di sini dibuat olahan rumput laut, yaitu snack rumput laut yang rasanya gurih dan renyah. Harga untuk snack ini juga cukup murah sekitar Rp 10.000-15.000 per pack (250 gram).

Sekian cerita perjalanan singkat dari saya, semoga saya bisa berkunjung ke daerah-daerah yang masih belum terlalu terekspos dan dapat berbagi pengalaman kepada para d'travelers semua. Terima Kasih.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA