Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 21 Jun 2019 14:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melihat Jailangkung di Museum Kesehatan Surabaya

Foto 1 dari 4
Dr. Adhyatma yang dulunya juga Menteri Kesehatan RI
Dr. Adhyatma yang dulunya juga Menteri Kesehatan RI
detikTravel Community - Surabaya punya museum yang tak biasa, Museum Kesehatan namanya. Di dalamnya ada koleksi berupa jailangkung!

Salah satu alasan Museum Kesehatan dibangun adalah melestarikan dan menyimpan benda-benda bernilai sejarah yang berkaitan dengan ilmu medis dan juga memberikan informasi mengenai seluk-beluk ilmu pengetahuan budaya, sejarah, dan IPTEK. Sehingga, masyarakat umum terutama yang bergelut di dunia ilmu kedokteran bisa mempelajarinya.

Tapi kalian pernah nggak sih lihat dengan mata kepala sendiri peralatan yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit secara non-medis seperti, Jailangkung misalnya?

Nah, di Museum Kesehatan Dr Adhyatma ini kalian bisa mengetahui banyak kebudayaan di Indonesia yang kerap digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Sejarah Singkat Museum Kesehatan Dr Adhyatma

Jadi, Dr Adhyatma adalah seorang Menteri Kesehatan RI yang menjabat di periode 1988-1993. Beliau dikenang dengan cara mengambil namanya sebagai nama museum kesehatan ini. Sedangkan, perintis sesungguhnya museum ini adalah Dr. Haryadi Soeparto, asal Rembang, dimana beliau adalah seorang dokter umum berdarah biru yang dianugerahi "kelebihan".

Sebagai lulusan Kedokteran Universitas Airlangga, dosen, pengawas dan peneliti LIPI dan Puslitbang, beliau telah memberikan banyak kontribusi terutama di dunia medis dan sejarah kebudayaan. Cara beliau yang menggunakan ilmu medis dan non-medis telah menolong banyak masyarakat kita terbebas dari berbagai macam penyakit.

Museum ini sebetulnya dirintis oleh Dr Haryadi sejak tahun 1990. Namun baru diresmikan oleh Menteri Kesehatan saat itu, Dr. Sujudi, pada tahun 2004. Museum ini dulunya adalah sebuah rumah sakit kulit dan kelamin.

Awal Mengunjungi Museum

Saat masuk kawasan museum pukul 10.30 WIB, tempatnya itu luas banget dan terlihat bangunan tua namun bersih dan terawat. Sampai saya bingung parkirnya dimana saking luasnya dan juga sepi. Akhirnya saya memarkirkan motor di dekat kantin kecil dan berjalan memasuki museum.

Saya yang menjadi satu-satunya pengunjung museum saat sudah wanti-wanti pada diri sendiri bahwa disini saya mau belajar dan mencari inspirasi. Entah apa yang merasuki saya mengunjungi tempat yang digadang-gadang sebagai salah satu tempat angker di Jatim sendirian!

Saya melihat loket kecil dan ada seorang pria paruh baya di dalam ruangan tersebut. Tidak ada lagi orang selain beliau. Setelah menanyakan apa museum buka (soalnya sepi banget takutnya tutup), beliau meminta uang Rp 1.500 saja sebagai uang masuk museum. Murah banget.

Sedangkan setelah itu, saya diberikan tiket, brosur singkat mengenai museum dan juga poster kesehatan berisi buah-buahan dan manfaatnya. Poster ini bisa untuk main 'Umbul'.

Saya langsung melihat anak panah ke kanan yang ada di kaca loket. Sebelah kanan adalah menuju ke 'Kesehatan Budaya"' Saat saya berjalan ke kanan, si bapak di loket tadi memanggil, "Mbak, mau kemana? Ke arah sini dulu saja". Saya pun putar balik lagi. Dan... Untunglah saya tidak jadi ke tempat itu sendirian.

1. Ruang Kesehatan Sejarah

Sasana Dr Adhyatma

Ini seharusnya menjadi ruang pertama untuk dikunjungi. Saya melihat berbagai macam koleksi album foto dan piagam penghargaan Dr. Adhyatma selaku Menteri Kesehatan kala itu. Terdapat juga Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI terkait berdirinya museum. Kalian juga bisa melihat album foto beliau beserta quotenya. Ada salah satu quote yang saya ingat dari beliau:

"Jangan sampai orang sakit mau berobat tapi bingung dananya dari mana... Caranya dengan dana sehat, yang sehat membantu yang sakit".

Sasana Pendidikan dan Organisasi Kesehatan

Disini, kalian bisa melihat baju dokter modern yakni berwarna putih. Ada juga baju dokter Jawa jaman dahulu yang terdiri dari blangkon, beskap hitam, dan keris. Kalau kalian mau tau bagimana kartu berobat, resep, dan kartu kesehatan jaman dahulu, kalian bisa melihatnya di bingkai yang menempel di dinding.

Sasana Sejarah Instansi

Di bagian ini, terdapat berbagai macam foto tokoh Menteri Kesehatan RI di dinding mulai dari yang pertama kali yakni Dr. Boentaran Martoatmodjo sampai Dr. Nafsiah Mboi. Ada pula gambar-gambar ilustrasi mengenai pengobatan di negara barat.

Sasana Alat Non-Medis

Berbagai macam peralatan non-medis seperti semprotan pembasmi nyamuk malaria bisa dilihat disini. Ada pula motor jadul berwarna abu-abu yang menarik perhatian saya. Dulunya, sepeda motor ini digunakan oleh KOPEM (Komando Pemberantas Malaria).

Sejauh ini, saya menjelajah semuanya sendirian. Namun, tiba-tiba saya melihat kursi roda dan kursi kayu tua di lorong sempit. Hmm kaget, dong :').

Disini bulu kuduk saya langsung berdiri dengan indahnya. Dan detak jantung saya berdegup kencang. Saya memutuskan kembali ke tempat sebelumnya. Kelililing-keliling 2x ngga jelas. Terus saya ngelihatin kursi roda itu. Keliling lagi. Sampai akhirnya langkah kaki saya begitu berat mau ke tempat selanjutnya. Ruangan yang ber-AC dingin itupun mendadak membuat saya keringat dingin. Sampai akhirnya saya putuskan, "I can't go in there alone".

Beneran deh, itu kali pertama saya merasakan "energi" yang begitu berbeda :'). Saat saya menulis ini pun, saya masih ingat perasaan saya melihat kursi roda di pojokan itu...

Di luar, saya melihat bapak loket tadi yang sudah berganti memakai baju batik biru serta celana panjang kain warna hitam, dan tas slempang kecil. Ternyata eh ternyata, bapak tersebut juga pemandu museum. "Pak, di dalam ngga ada penjaganya ya?", begitu saya tanya. Bapaknya bilang, "Lho kenapa mbak?". Saya jawab, "Ruangan selanjutnya besar pak, saya takut nyasar (padahal dalem hati, ini kaki udah lemes kek jeli, bapak).

Dan petualangan baru pun dimulai bersama bapak pemandu (berat euy mau nulis nama aslinya, kalian kenalan sendiri aja ya). Pemandu ini telah bekerja sejak diresmikannya museum tahun 2004. Bapak yang sudah menjumpai "semuanya". Bapak yang sudah memasuki ruangan yang kini menjadi tempat terlarang. Bapak yang oleh Dr. Hariyadi sudah pernah "dibersihkan" dan menjadi saksi hidup Dr. Hariyadi pernah mati suri.

Sasana Alat Medis

Disini saya melihat kursi besar hitam dengan bak dibawahnya. Oh mungkin ini buat ibu hamil. Benar saja, di kursi tersebut ada informasinya untuk ibu hamil. Tapi saat saya melihat kotak kaca di dekat kursi tersebut, saya membaca "Alat Abortus". Sontak saya bertanya pada bapak, "Pak ini kursinya buat apa ya?". "Itu untuk aborsi atau kiret", kata bapak pemandu.

Pernah ngga tau rasanya minuman kaleng yang ditaruh di kulkas lama terus itu dikejutkan di tengkuk leher kita. Saya langsung semerinding itu. "Pak ini kursinya asli? Maksud saya memang ini digunakan untuk wanita yang aborsi jaman dulu?", saya memastikan. "Disini tidak ada replika mbak. Semua asli. Ya yang dulu digunakan, semua ada di museum ini. Ada beberapa wanita yang tidak selamat saat proses berlangsung".

Di sini saya juga melihat kursi untuk pasien dokter gigi dan ada Snellen Chart yakni poster untuk mengukur ketajaman visual kita.

Sebelum memasuki Sasana Flora dan Fauna

Belum berhenti rasa merinding itu, ada sebuah pintu klasik tinggi ala jaman dahulu (semua pintu di museum ini seperti itu) dengan posisi tertutup. Di knob pintu tergantung sebuah kliping berlakban hitam di pinggirnya. Di sampul depan ada gambar The Suicide Forest Jepang atau Aokigahara.

Kira-kira begini percakapannya:

Me: "Pak ini ruang apa? Kok ada kliping hutan bunuh diri di Jepang?"

Bapak: (tersenyum). "Ini ruang kematian mbak. Dulunya ini ruang jenazah. Sekarang dipakai untuk memajang tulang-belulang dan jenazah yang diawetkan. Jadi, pengunjung bisa mempelajari bagaimana jenazah disemayamkan dengan berbagai cara di Indonesia atau cara pengawetannya bagaimana. Mau masuk mbak?"

Me: (menenangkan diri menyebut nama Allah) "Menarik ya pak (menarik pengen kabur). Didalam ada apa ya pak. Mmm pak.. Itu saya lihat pintu tulisannya "Dunia Lain" itu apa ya pak? Hehehe...(keringat di tangan udah banjir)

Bapak: "Di dalam ada jenazah asli yg diawetkan mbak. Keluarga pemilik jenazah memang mendonasikannya untuk museum agar bisa mengedukasi masyarakat. Jenazah tersebut seorang pria dan meninggal tahun sekitar 2014. Kalo ruangan itu mbak...(tersenyum) ndak boleh dimasuki. Gimana mbak? Mau masuk?"

Akhirnya wanita muda satu ini berkata iya. Dan... Saya cuma ngucapin salam puelan banget sambil terus istighfar saat pintu dibuka...ngambil foto dan keluar. Saya percaya mereka ada saat itu. Pintu tinggi bertuliskan "Dunia Lain" pun tak sanggup saya tatap berlama-lama. Saya ngga mampu membayangkan histori apa yang terjadi disana. Setiap saya ambil foto, saya selalu ijin ke bapak pemandu. "Ayo pak lanjut lagi", kata saya saat saya melihat sepintas ada boneka bayi kecil di dalam batang pohon di ujung ruangan.

Sasana Flora dan Fauna

Disini, tempat kita belajar berbagai macam tumbuhan dan khasiatnya. Ada daun-daun tumbuhan yang diawetkan dan ditaruh di bingkai kaca. Sedangkan ada juga aneka binatang yg diawetkan untuk memberikan pengetahuan pada pengunjung bahwa penularan penyakit bisa melalui hewan-hewan tersebut. Namun ada juga hewan yang bisa menyembuhkan penyakit.

2. Kesehatan IPTEK

Selanjutnya, disini ada berbagai macam inovasi penemuan yang berkaitan dengan penyembuhan penyakit dan lingkungan. Seperti alat penjernih air sederhana, shoulder protesis, alat pendeteksi lepra, alat pembuatan pupuk, dan biogas. Lengkap dengan penjelasan singkatnya.

3. Kesehatan Budaya

Mungkin inilah inti dari apa yang orang-orang bicarakan tentang museum ini yang kerap disebut sebagai Museum Santet. Ruangan yang paling punya "getaran" berbeda dan menyimpan banyak koleksi alat pengobatan dan benda-benda tradisional lainnya.

Masuk ke ruangan ini untuk pertama kalinya, saya cuma bilang ruangan ini agak singup/lembab padahal sinar matahari pukul 12 siang kala itu menembus masuk kaca-kaca jendela. Dan saya tetap ngga berhenti untuk istighfar.

Hal yang pertama saya pelajari adalah proses santet dan teluh. Ternyata rangkaian proses santet itu panjang ges. Ada upacaranya segala. "Mbak, santet itu berasal dari bahasa Jawa. Yang berarti sesuatu yang pipih, gepeng, menyakitkan, gelap yang tidak terlihat secara kasat mata", si bapak menjelaskan. Ada juga lo gambar proses santet ayam di poster dan saat ayam tersebut disembelih, jantung hati ayam itu ada jarumnya. Dan saya melihat sendiri jantung ayam itu di sebuah jar lengkap dengan pengawetnya dan jarum yang masih menancap. Ada juga boneka jerami kecil menyerupai manusia dan diatasnya ada bantalan putih kecil dan ada foto seorang wanita dimana tepat di wajahnya menancap sebuah jarum. Ya Allah, manusia bisa begitu kejam menyakiti dengan cara seperti ini.

Di tempat ini saya juga melihat sauna tradisional, kitab-kitab berbagai agama seperti injil, Al-Quran, Taurat, Mormon dll untuk menangkal ilmu ghaib, juga pasung.

Sedangkan display Jailangkung dan Nini Towok berdampingan di sebuah kotak kayu. Jailangkung digunakan untuk memanggil roh seorang tabib atau dokter untuk mengetahui obat dari penyakit pasien. Biasanya pasien yang menggunakan metode ini, penyakitnya tidak bisa dideteksi oleh dokter dan peralatan medis. Nantinya, roh tersebut akan masuk ke boneka Jailangkung itu dan menuliskan resep pasien.

Saat itu saya sempat menatap mata kedua Jailangkung dan Nini Towok (ini kok jadi tatap-tatapan sih) dan saya melihat mereka mengenakan baju seperti piyama berlengan panjang. Jujur lagi nih, saya merasa "mereka" menatap balik saya. Dan bapak pemandu pernah mencuci baju kedua boneka tersebut yang berlumuran darah. Apa yang terjadi selanjutnya masih diingat oleh bapak secara detail dan sekarang...saya mengingatnya juga.

Disini kalian juga akan lihat satu kurungan ayam yang berisikan boneka bayi dan rumah adat Timor-Timor berselimuti bulu-bulu ijuk berwarna hitam. Itu adalah rumah bagi orang yang sakit. Sedangkan boneka bayi yang agak seram di dalam kurungan bayi itu adalah metode penyembuhan penyakit seorang bayi yang didoakan oleh sang dukun bayi. Tapi bayinya mukanya serem banget :(

Setelah itu ada ruangan lagi yang memuat informasi mengenai Dr. Hariyadi mulai dari silsilah keluarga beliau dan prestasi yang telah dicapai oleh beliau. Kedua anak beliau, bu Kartika dan Karmila, adalah seorang dokter pula.

Tips Mengunjungi Museum dengan Aman:

1. Niatkan pada niat yang bermanfaat dan jelas. Jangan untuk menantang atau uji nyali gitu ya. Kesannya kok kalian nyari susah terhadap diri sendiri.

2. Fokus dan jangan kosong. Jangan pernah pikiran kalian kosong. Kalau yang muslim, bisa istighfar atau menyebut nama Allah terus menerus.

3. Ucapkan salam dan "permisi". Meskipun museum serasa milik sendiri saya selalu mengucapkan itu pelan sekali. Ngga ada salahnya dilakukan.

4. Bawa minum sendiri. Museumnya gede banget dengan ruangan yang berbeda-beda. Kantinnya kadang tutup juga.

5. Tanyakan hal dengan bahasa yang sopan. Kalo pake pemandu, biasakan bertanya dengan gaya bahasa yang sopan. Sebisa mungkin hindari frasa, "ah masa?", "ngga percaya saya", "itu paling pikiran...saja", "itu bisa dijelaskan dengan ilmiah", "dalam agama saya, hal seperti itu tidak ada" dll.

6. Jangan sombong. Jangan merasa kalian tahu segalanya dan museum itu tidak akan membuat kalian takut sedikitpun. Jangan. Saya mendengar sendiri kesaksian bapak apa yang terjadi dengan pengunjung dengan tipe seperti ini. Percayalah, jangan muncul rasa sombong.

7. Ganti baju, mandi, dan berdoa selesai pulang dari museum. Untuk muslim, sangat disarankan untuk mandi besar, ganti semua baju termasuk pakaian dalam, dan selesai shalat rukyah diri sendiri. Rukyah saya kemarin adalah saat setelah selesai shalat, saya membaca Al Fatihah, Ayat Kursi, An Nas (3x), Al Falaq (3x), dan Al Ikhlas (3x) lalu saya usapkan ke ubun-ubun sampai badan saya.

8. Percayalah Tuhan agama kalian masing-masing adalah sebaik-baik pelindung. Namun, jangan menolak kenyataan bahwa kalian hidup berdampingan dengan "mereka" yang tak kasat mata. Hormati "mereka". Dan jangan sampai rasa takut overpowering pikiran kalian. Ingat kan bapak pemandu bilang apa soal ciri-ciri orang yang senang 'mereka' dekati?

9. No children or baby, please. Sebetulnya ini ngga ada larangan tertulis. Tapi asli ges, please lah ngga usah bawa anak kecil atau bayi kesini. Orang Jawa bilang bisa ketempelan karena anak kecil dan bayi masih sangat suci dan polos. Dan mohon diingat baik-baik sejarah museum ini. Ajak ke Jatim Park aja lah mereka! :)

Tiket masuk
Rp. 1500 (sudah termasuk tiket, brosur, dan poster buah dan khasiatnya)

Cara ke Museum Kesehatan

1. Terminal Bungurasih
- Naik Damri jurusan Tanjung Perak, turun di Jl Indrapura.

2. Terminal Joyoboyo
- Naik angkutan M, turun di Jl Indrapura.

3. Terminal Bratang
- Naik angkutan N, turun di Jl Indrapura.

Alamat Museum Kesehatan
Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176
Telp: (031) 3528 748, ext. 105, 133
Fax. (031) 3528 749

Buka setiap hari kecuali hari besar nasional mulai dari pukul 08.00-15.00 WIB.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya, museum ini bagaimana? Kalau saya ada 2 kata yang tepat; menarik (dari segi ilmu dan budaya Indonesia dalam mengobati penyakit belum lagi sejarah museum, dan of course segudang pengalaman bapak pemandu yang saya dapatkan) dan seram. Yap, saya akui saya takut. Namun, saya menyikapinya sebagai pengalaman yang tak terlupakan dengan banyaknya ilmu medis dan budaya Indonesia dalam mengobati penyakit yang saya dapatkan. Apakah kalian berani ke sini?
BERITA TERKAIT
BACA JUGA