Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 19 Sep 2019 10:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengenal Sejarah Lengkap Myanmar di Museum Ini

Muchamad Irfan
d'travelers
Foto 1 dari 5
Patung Raja Anawarahta
Patung Raja Anawarahta
detikTravel Community -

Tak lengkap berkunjung ke Yangoon tanpa mengenal sejarah panjang dari Myanmar. Berkunjung ke Museum Nasional Myanmar, kamu bisa belajar banyak.

Setiap negara memiliki museum nasional, tempat di mana pengunjung bisa mengetahui sejarah negara yang bersangkutan sejak dari awal berdiri hingga sekarang. Bagi rekan-rekan yang sedang berkunjung ke Myanmar dan kebetulan sedang berada di kota Yangoon maka mengunjungi Museum Nasional Myanmar sebuah gedung berlantai 4 yang berada di seberang gedung Kemnterian Luar Negeri Myanmar akan membuka pengetahuan kita akan sejarah bangsa ini. Ciri utama museum ini adalah patung Raja Anawarahta (8 maret 1015 M-23 maret 1078 M) yang meruapakan seorang raja besar dan pendiri kerajaan Bagan yang termasyhur yang berdiri tepat di depan museum.

Sama seperti di Museum Jenderal Aung San, kamera, video camera dan HP termasuk tas tidak boleh dibawa masuk ke dalam museum. Harus pengunjung titipkan di loker yang ada di luar gedung museum. Biaya penitipan gratis, setelah itu pengunjung boleh masuk ke dalam museum. Di dalam pengunjung akan membeli tiket masuk museum seharga USD 5/orang bisa juga dalam kyat 5000 kyat/orang.

Kita mulai perjalanan dari lantai paling bawah, di sini ada beberapa ruangan ruangan pertama bernama Myanmar Epigraphy And Calligraphy. Di sini pengunjung melihat kertas, batu dan kayu yang bertuliskan alfabet Myanmar yang mirip tulisan sansekerta dari India. Skrip tulisan tangan dari periode yang berbeda ada dari abad ke 5 -9 dan abad 16 termasuk yang ditemukan di Istana Kambawzathadi di bago.

Dari ruang Myanmar Epigraphy And Calligraphy kita masuk ke ruang lion throne show room. Sesuai namanya di ruangan ini pengunjung akan melihat singgasana singa yang dulu pernah digunakan Raja Myanmar. Singgasana ini ukurannya sangat besar dan tinggi, hampir setinggi ruangan. Menurut sejarah, usia singgasana ini umurnya lebih dari 150 tahun yang berarti merupakan peninggalan Dinasti Konbaung. Singgasana ini terbuat dari kayu yamanay yang seluruh bagian singgasana dilapisi dengan emas.

Sebenarnya ada 8 singgasana lainnya peninggalan konbaung dinasti yang masih ada saat tentara Inggris merebut kota Mandalay tahun 1885, tapi ke 8 singgasana itu sayangnya hancur saat Perang Dunia kedua. Singgasana singa ini beruntung karena saat itu dipamerkan di Museum Kolkata, India. Akhirnya di tahun 1948 pemerintah inggris mengembalikan benda-benda milik kerajaan yang telah mereka ambil, salah satunya singgasana singa ini. Fungsi singgasana ini digunakan Raja saat hendak memutuskan masalah hukum.

Ruang ketiga yang kita masuki adalah ruang periode Yadanabon suatu periode yang dimulai sejak pemindahan ibukota kerajaan ke kota Mandalay yang dilakukan raja mindon min (8 Juli 1808-1 oktober 1878) dan juga merupakan masa akhir kekuasaan dinasti konbaung kita bisa menyaksikan tandu berlapis emas yang digunakan kaum bangsawan bepergian dari abad ke 19 M, pembatas ruangan dari gelas mosaik, sepatu milik bangsawan. Replika Istana Myanansankyaw yang ada di kota Mandalay tempat Raja Mindon Min dan penerusnya Raja Thibaw Min memerintah, foto-foto Mandalay di abad 19 dan awal abad 20, furniture milik bangsawan, serta pakaian yang akan dikenakan bangsawan saat upacara

Kita naik ke lantai 1, bisa melalui tangga atau lift diruang pertama yang kita masuki bernama Ruang Regalia Bangsawan. Sesuai namanya, di sini pengunjung dapat melihat benda-beda milik keluarga bangsawan. Benda-beda tersebut seluruhnya terbuat dari emas kualitas tinggi dan dipercantik permata serta batu berharga lainnya. Benda-benda tersebut digunakan para bangasawan dalam upacara-upacara khusus yang diadakan raja dan ratu saat menerima persembahan dari bawahan meraka 3 kali dalam setahun.

Selesai dari ruangan ini kita beralih ke ruang pamer zaman sejarah Myanmar. Di sini Batu dolomite, terracotta, kopi, lukisan mural di dinding fot-foto ekskavasi, lukisan pagoda-pagoda di bagan, tulisan di atas batu dari abad 10-13 M dan barang-barang dari zaman pinyu hingga konbaung dipamerkan di sini. Ruang zaman prasejarah Myanmar juga menarik dikunjungi. Di sini benda- berusia lebih dari 10 ribu tahun yang ditemukan di Gua Padalin saat penggalian arkeologi, benda dari jaman perunggu, serta benda- benda dari periode piyu abad ke 5 -9 M benda-benda tersebut seperti paku besi dari srikhsetra abad 5 SM-1 M, kapak besi dari hanlin abda 5 SM -9 M.

Disamping ruangan ini terdapat Ruang Pamer Sejarah Alam Fosil primata yang telah membatu dan berusia 40 juta tahun,fosil-fosil hewan bertulang belakang (vertebrata) dan hewan tidak bertulang belakang (invertebrata) baik yang hidup di laut maupun di darat, untuk tumbuhan ada fosil biji-biji dan akar pohon dari seluruh penjuru Myanmar.

Kita naik ke lantai dua di sini mari kita ke ruang pamer benda-benda yang bisa kita saksikan kipas yang terbuat dari bulu burung merak, lukisan yang menggambarkan pekerjaan yang dikerjakan rakyat Myanmar seperti pandai besi, pandai emas dan perak, pandai tembaga, ahli ukir kayu maupun gading, pematung, replica kereta yang ditarik kerbau, miniature stupa dibuat dari cangkang kelapa dan ruangan kaca dengan boneka-boneka maronett di dalamnya. Dari sini kita beralih ke ruang seni pertunjukkan benda-benda yang dipamerkan di sini adalah alat musik dari berbagai suku seperti xylophone besi berbentuk pancaharupa (binatang mistis).

Selesai di lantai dua kita naik ke lantai tiga, ada 2 galeri berisi lukisan beberapa lukisan di antaranya lukisan Jenderal Maha Bandula dibuat oleh u ba lon (1894-1944). Keluarga Myanmar di masa lalu oleh Saya Myoh abad 19 M, air terjun oleh U Ba Nyan (1897-1945). Di galeri kedua lukisan yang ada upacara pengangkatan raja oleh U Saw Maung dan lukisan perhisan yang digunakan kaum wanita di zaman pyu, bagan, inwa dan yadanabon ,bergeser sedikit kita sampai di ruang pamer perhiasan masa lalu di sini kita bisa menyaksikan cincin emas bermaterai, kalung emas, cincin emas dengan dua sisi bergambar singa dengan wajah manusia.

Sekarang kita naik ke lantai terakhir lantai 4 ruang pertama kita masuki ruang lukisan Buddha beberapa d antaranya lukisan sang Buddha oleh U Ngwe Gaing (1901-1967), lukisan biara batu bata Ratu Me Nu Innwa abad 15 M. Ruang terakhir ruang pamer bagi kebudayaan suku-suku nasional Myanmar ruangan ini berisi boneka yang mengenakan pakaian suku masing-masing untuk alat musik berupa shan drum,kayin harp (nardain) dandrum perunggu, kayah flute, hiasan kepala yang dipakai wanita suku chin saat perayaan dan xylophone berbentuk buaya dari rakhine.

Alamat : jalan pyay 66/74 dagon township,yangoon

Tiket masuk : USD 2/orang atau 20 ribu kyat

Waktu buka : rabu-minggu jam 10.00-16.00 tutup hari senin,selasa dan libur nasional

BERITA TERKAIT
BACA JUGA