Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 24 Jun 2019 18:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bersantai di Danau Hoan Kiem Kota Hanoi Nan Damai

Foto 1 dari 5
Duduk santai di tepi Danau Hoan Kiem nan damai
Duduk santai di tepi Danau Hoan Kiem nan damai
detikTravel Community - Berhari-hari di satu kawasan, berbaur dengan warga setempat, mengeksplore secara mendalam. Itulah yang bisa dilakukan selama 4 hari di Vietnam.

Danau Hoan Kiem terletak di Old Quarter, kawasan wisata utama di Hanoi. Jarak tempuhnya sekitar 40 menit dari Bandara Noi Bai. Sangat mudah mencari hotel di Old Quarter. Hotel di sini rata-rata sempit. Namun kualitas bangunannya bagus. Dan yang terpenting adalah tarifnya tergolong murah.

Jangan bangun siang jika sedang menginap di sekitar Danau Hoan Kiem. Rugi! Bangunlah pagi-pagi, pakailah alas kaki yang nyaman, lalu berjalan kakilah menyusuri jalanannya yang sempit namun rapi.

Pagi hari adalah waktu yang tepat. Selain hawanya sejuk dan segar, jalanan pun masih sepi. Agak siang sedikit, jalanan akan ramai oleh sepeda motor, lengkap dengan suara bising klaksonnya.

Kelilingi danaunya yang damai. Rasakan suasana romantisnya saat danau masih berselimut kabut. Pada pagi hari, Danau Hoan Kiem dipadati oleh warga setempat. Kebanyakan dari mereka sedang berjogging. Ada pula perkumpulan lansia yang sedang berdansa. Kebetulan juga pagi itu ada komunitas penari tradisional yang sedang berlatih. Lumayan, ada tontonan gratis.

Jarang ada turis yang terlihat. Bisa jadi para turis yang datang ke sini lebih suka menikmati dunia malam sehingga bangunnya kesiangan.

Di tengah danau ada sebuah bangunan kecil yang dinamai Menara Kura-Kura. Pasti ada legenda di balik penamaan itu. Di salah satu sisi danau, ada sebuah jembatan berwarna merah. Jembatan itu terhubung ke sebuah kuil. Kuil Ngoc Son namanya. Tentu saja saya merasa wajib menyambanginya. Pengunjung hanya diminta membayar tiket masuk dengan harga yang sangat murah.

Di kuil itu orang-orang Vietnam datang untuk berdoa. Sementara para wisatawan seperti saya, datang untuk berfoto.

Setelah puas mengelilingi kuil, saya tetap berada di sekitar Hoan Kiem. Duduk santai di kafe pinggir danau sambil menikmati kopi asli Vietnam. Nikmat sekali!

Keesokan harinya, saya masih tetap berkeliling danau. Aktivitas ini sudah seperti kewajiban bagi saya selama tinggal di sini. Setelahnya, sebelum pulang ke hotel saya mampir ke Pasar Dong Xuan. Letaknya tak jauh dari danau. Hanya 10 menit berjalan kaki. Pasar ini terkenal sebagai tempat untuk mencari oleh-oleh. Harga yang ditawarkan di sini pun tergolong wajar.

Tidak hanya turis yang berbelanja di sini, masyarakat setempat pun juga. Maka tak perlu tersinggung apabila saat kita bertanya sesuatu kepada pedagang, namun pedagang itu justru melambaikan tangan sambil menggelengkan kepala. Itu artinya dia tidak bisa berbahasa Inggris sehingga tak bisa melayani.

Ketika pertama kali menerima penolakan dari pedagang pasar, saya sempat tersinggung. Kesal! Setelah beberapa kali mengalami penolakan, saya pun menjadi terbiasa. Dan akhirnya kekesalan tadi lenyap saat saya bertemu dengan pedagang yang sangat ramah. Dia adalah seorang lelaki paruh baya berkaki satu.

Selain ramah, bahasa Inggris dan wawasannya pun lumayan. Dia tahu Indonesia dan mengenal Jakarta. Dia memberikan harga yang murah dan bahkan tanpa diminta, memberi diskon saat saya memborong dagangannya.

Di hari terakhir saya tinggal di Hanoi, ketika sedang duduk santai di pinggir danau, saya bertemu seorang anak lelaki yang mengagumkan. Dia berjualan tisu, serta beraneka pernak-pernik.

Bocah itu datang menghampiri seorang wanita warga lokal yang kebetulan duduk di samping saya. Dengan sopan anak itu menawarkan dagangannya.

Mungkin karena tidak membutuhkan, wanita itu menolak untuk membeli. Namun dia menyodorkan sebungkus roti kepada si bocah sebagai wujud simpati. Dengan sopan si bocah menolak.

Saya terkesan, lalu memanggilnya, kemudian membeli sebungkus tisu basah, serta sebuah gunting kuku. Harga yang ditawarkannya pun wajar. Saya bermaksud membayar lebih untuknya dengan tidak menerima uang kembalian. Namun secara santun ia menolak. Luar biasa!

Bagi saya, beginilah traveling yang extraordinary. Kita tidak hanya sekedar mengunjungi objek wisata, lalu berfoto-foto. Traveling yang luar biasa adalah ketika kita bisa merasa seperti warga setempat. Mengenal serta memahami budaya dan cara berpikir mereka. Tentunya hal itu tak akan terjadi tanpa adanya interaksi yang intens dengan warga lokal.

Selama ini negara yang pernah saya kunjungi masih terbatas pada kawasan Asia Tenggara. Saya ingin pergi ke negeri yang lebih jauh lagi. Maka, tahun ini, saya berniat berangkat ke Uni Emirat Arab yang memikat. Terutama ke Dubai yang aduhai.

Saya ingin ke sana karena tertarik dengan Palm Islands yang cantik. Saya ingin ke sana lalu membiarkan diri terperangah di Burj Khalifa yang megah. Saya ingin ke sana untuk menari lincah mengikuti liukan The Dubai Fountain yang indah. Lalu membuktikan diri sebagai bukan pecundang dengan mengikuti Dune Bashing yang menantang.

Dan tentu jika memungkinkan, bisa mengobrol akrab dengan warga setempat, atau dengan para pekerja dari Indonesia yang bermukim di sana. Jika keinginan ini bisa terwujud, tentu ini akan menjadi extraordinary travelling yang paling extraordinary bagi saya. Semoga...
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED

Foto: Pemandian Terpencil Cleopatra

Senin, 15 Jul 2019 22:20 WIB

Mesir tak cuma piramida dan gurun. Terpencil di Gurun Sahara, ada sebuah kota dengan pemandian Cleopatra. Meski di antara gurun, pemandian ini malah eksotis.