Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 28 Jun 2019 12:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cerita di Balik Kampong Glam Singapura

Annisa Budiarti
d'travelers
Foto 1 dari 5
Welcome to Kampong Glam
Welcome to Kampong Glam
detikTravel Community - Populer sebagai tempat belanja yang Instagramable, Kampong Glam di Singapura lekat dengan etnis Arab dan Melayu. Ini kisah di baliknya.

Siapa yang belum tahu lokasi Kampong Glam di Negara Singapura? Saya yakin kalian pasti sudah melirik bahkan mengunjungi daerah lokasi wisata yang kekinian ini. Kampong Glam dipenuhi berbagai Toko lokal dari mulai Cafe, Butik hingga toko souvenir.

Pastinya para wisatawan juga ke sini untuk berburu foto instagramable. Namun, tahukah kalian tentang awal mula Kampong Glam ini dan kenapa nuansanya kental sekali dengan Melayu dan Arab?

Dahulu kala daerah Kampong Glam ini dipenuhi pohon 'Cajeput' yang kalau dalam Malaysia bernama Gelam. Sebelum zaman penjajahan Inggris di tahun 1819 daerah Kampong Glam ini merupakan rumah para bangsawan Melayu Singapura.

Kemudian pada perencanaan tata letak kota oleh Raffles di tahun 1822, Stamford Raffles menetapkan pemukiman ini menjadi lokasi Melayu, Bugis dan Arab untuk tinggal, berniaga dan berkembang. Kampong Glam sendiri diperuntukkan untuk Sultan dan keluarganya, selain itu juga masyarakat Melayu dan Arab. Saat ini tanah kesultanan melayu Singapura dihibahkan menjadi pusat warisan sejarah dan budaya Melayu.

Di Kampong Glam ini banyak pusat penjualan alat ibadah bagi unat muslim. Bahkan di Haji Lane sendiri dulunya adalah tampat penyelenggaraan layanan ibadah haji untuk wilayah Singapura. Karena itulah sampai saat ini kampong Glam disebut sebagai Muslim Quarter karena banyaknya populasi umat muslim yang tinggal di daerah Kampong Glam ini.

Bahkan Masjid Sultan menjadi landmark bagi masyarakat muslim Singapura. Masjid Sultan ini pada masa pembangunannya mendapat sumbangan dari Stamford Raffles. Wilayah Kampong Glam ini berada di daerah sungai Rochor.

Sesuai dengan budaya asli Singapura yang terdiri dari berbagai macam etnis. Melihat sejarah Kampong Glam ini jadi semakin paham betapa beragamnya budaya Singapura.

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED