Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 30 Agu 2019 11:38 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melihat Peradaban Kerajaan Kutai di Ibukota Baru

Tedi Permana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Lembu swana di halaman museum mulawarman
Lembu swana di halaman museum mulawarman
detikTravel Community - Indonesia sedang heboh dengan pemindahan ibukota ke Kalimantan. Kembali ke tempat kejayaan kerajaan pertama di Indonesia, beginilah peradaban Kutai.

Tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan tertua di Indonesia, Tentu membuat traveler bertanya apakah peradaban Kutai itu ada? Tentu itu benar adanya dengan ditemukannya 7 yupa berhuruf palawa di Muara Kaman yang menceritakan tentang kerajaan Kutai Martadipura beserta raja-rajanya yang disepakati oleh para ahli sebagai tonggak sejarah peradaban di Indonesia.

Eksistensi kerajaan di kutai ini diteruskan oleh Kesultanan Kutai Kertanegara yang berpusat di Tenggarong. Namun dua rangkaian serajah kedua kerajaan kutai tersebut dapat travelers pelajari di Museum Mulawarman yang dulunya merupakan kedaton kesultanan Kutai Kertanegara yang sebelumnya terbuat dari kayu.

Kedaton kesultanan Kutai direnovasi menjadi bangunan beton sekitar tahun 1930an untuk dan menjadi pusat pemerintahan kesultanan Kutai Kertanegara. Namun setelah kesultanan Kutai Kertanegara bergabung dengan NKRI maka kedaton ini pun tidak lagi difungsikan sebagai pusat pemerintahan.

Pada tanggal 25 November 1971 kedaton ini diserahkan kepada pemerintah daerah Kalimantan Timur dan kemudian dijadikan sebagai museum Mulawarman. Memasuki halaman museum, travelers dapat melihat monumen naga dan pelayaran Aji Imbud, Sultan ke-15 Kutai Kertanegara.

Sultan ke-15 Kutai Kertanegara menjadi pendiri kota Tenggarong serta patung Lembu Swana berlapis emas buatan tahun 1850. Patung lembu tersebut merupakan lambang kesultanan Kutai Kertanegara. Untuk masuk ke museum Mulawarman, traveler akan dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak.

Saat memasuki ruang depan museum, traveler dapat melihat singgasana Sultan dan Permaisuri Kutai Kertanegara. Singgasana berbahan kayu berbalut kain kuning dibuat pada tahun 1935 oleh arsitek berkebangsaan belanda yang bernama Ir. Van Der Lube.

Di ruang ini juga traveler dapat melihat etalase yang memajang bukti kebesaran kesultanan Kutai Kertanegara. Pameran tersebut berupa mahkota dan jubah Sultan, bendera kesultanan, simbol-simbol kesultanan, perhiasan permaisuri, bros, plakat, selempang, kalung, gelang, tempat tinta dan kelangkapan upacara kesultanan lainnya yang sebagian besar terbuat atau berlapiskan emas. 

Selain menyajikan peninggalan sejarah Kutai di jaman kerajaan atau kesultanan, museum ini juga berusaha menceritakan kutai jaman prasejarah, era kolonial, jaman kemerdekaan hingga kutai terkini.

Hal ini dapat traveler temukan pada patung kepala daerah atau gubernur yang pernah memerintah Propinsi Kalimantan Timur mulai dari IA Moeis yang menjabat pada tahun 1959 hingga Gubernur Awang Faroek Ishak pada periode 2008-2013. 

Museum Mulawarman juga difungsikan sebagai etalase budaya yang hidup di Kutai. Traveler dapat menikmati koleksi topeng, sarung tenun serta manik-manik suku dayak yang kaya ragam dan penuh filosofi.

Karena bagi suku Dayak, manik digunakan untuk perlengkapan upacara adat, penanda status sosial hingga jimat yang memiliki kekuatan supranatural. Di aula museum terdapat miniartur rumah tradisional Kalimantan Timur dengan background relief hutan Kalimantan serta diorama keseharian hidup suku Dayak seperti menggali tambang atau mendulang intan di sungai.

Travelers juga dapat melihat diorama legenda munculnya bayi Putri Karang Melenu dari sungai Mahakam yang dijunjung oleh naga dan Lembu Swana. Selain itu terdapat juga diorama yang merepresentasikan kondisi kutai saat ini. Travelers dapat melihatnya pada diorama kegiatan industri perkayuan, aktifitas pengeboran minyak bumi, pertambangan emas dan batu bara.

Di ruang bawah tanah museum, traveler dapat menemukan berbagai koleksi keramik kuno dari mancanegara serta koleksi ikat kepala dari seluruh Nusantara yang sayang untuk dilewatkan. Ayo traveler kunjungi etalase peradaban kutai.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA