Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 05 Mar 2020 19:05 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kabupaten Ini Tak Dijajah Belanda dan Kini Status Istimewanya Hilang

Tedi Permana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Gerbang Istana Bulungan
Gerbang Istana Bulungan
detikTravel Community - Mungkin tak banyak yang tau jika Kabupaten Bulungan yang beribukota di Tanjung Selor, Kaltara memiliki status istimewa. Ya, itu sama dengan Aceh, Yogyakarta, dan Papua.

Memang tak banyak buku sejarah yang menceritakan kentang keistimewaan Kabupaten Bulungan. Namun, kamu dapat menemukan sisa-sisa keistimewaan tersebut di Istana Bulungan yang berada di Kecamatan Tanjung Palas.

Untuk mengunjungi sisa hegemoni Kesultanan Bulungan di Kecamatan Tanjung Palas, traveler cukup dengan naik perahu kayu dari Pelabuhan Kayan V dengan tarif Rp 5.000 per orang. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk menyeberangi Sungai Kayan dari Kota Tajung Selor menuju Tanjung Palas. Dan ini adalah cara tercepat jika dibanding dengan menempuh perjalanan darat yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit dengan jalan memutar.

Setibanya di depan Istana Bulungan, mungkin traveler akan terkejut karena hegemoni Kesultanan Bulungan yang pernah menyandang status istimewa ini. Nampak lapuk dan usang. Padahal Kesultanan Bulungan yang berdiri sekitar tahun 1771 ini wilayah kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Utara bahkan sampai ke Negeri Jiran.

Untuk berkunjung ke Istana Bulungan, traveler tidak dikenakan biaya sepeser pun. Karena istana dikelola oleh keturunan Sultan Bulungan yang setia menjaga sisa kejayaan Kesultanan Bulungan. Traveler cukup meminta ijin saja untuk masuk ke dalamnya.

Kesultanan Bulungan sendiri merupakan daerah otonom pada zaman kependudukan Belanda hingga periode awal kemerdekaan. Bulungan sendiri baru bergabung dengan Negara Republik Indonesia Serikat dalam Federasi Kalimantan Timur melalui konvensi Malinau pada tanggal 7 Agustus 1949.

Setelah bergabung dengan Negara Republik Indonesia Serikat, Kesultanan Bulungan ditetapkan sebagai wilayah swapraja atau daerah istimewa. Keistimewaan Bulungan itu sendiri terletak kepala daerah yang dipimpin oleh seorang Sultan dengan Istana Bulungan sebagai pusat semua kegiatan pemerintahan. Namun status keistimewaan itu dicabut pada tahun 1964 seiring terjadinya tragedi Bultiken yang waktunya bersamaan dengan konfrontasi Indonesia Malaysia sekitar periode 1962-1965.

Perlu traveler ketahui bahwa museum Istana Bulungan ini merupakan bangunan replika. Karena bangunan Istana asli berlantai dua hangus terbakar pada saat peristiwa Bultiken tersebut. Dan untuk membangkitkan lagi cerita tentang kejayaan Kesultanan Bulungan, maka dibuatlah museum Kesultanan Bulungan yang dapat traveler kunjungi saat ini.

Di halaman dan teras museum, terdapat meriam-meriam tua yang menghadap ke Sungai Kayan. Konon meriam ini merupakan pemberian Belanda untuk pertahanan Kesultanan Bulungan dari invasi kesultanan lain dan melawan pembajak yang datang dari arah Sungai Kayan. Unik ya, ada satu daerah di Indonesia yang tidak dijajah Belanda.

Di dalam museum, traveler dapat melihat berbagai koleksi unik seperti meja rias marmer, guci dari China dan berbagai cenderamata atau hadiah dari kerajaan lain untuk Sultan Bulungan. Di salah satu sudut ruang terpajang nama-nama Sultan Bulungan yang pernah memerintah dan ada replika ranjang Sultan Bulungan yang didominasi warna kuning dan replika tempat penobatan Kesultanan Bulungan berwarna merah marun.

Untuk koleksi foto, traveler dapat melihat foto-foto Sultan Bulungan mulai dari Datu Perdana hingga Sultan Adjimudin yang bertahta pada periode 1889-899. Travelers juga dapat melihat foto-foto yang menggambarkan kedekatan hubungan Sultan Bulungan dengan Ratu Belanda.

Ada foto acara penobatan Sultan Maulana Moehamad Djalaludin yang dihadiri oleh perwakilan negeri Belanda, kunjungan Pejabat kolonial Belanda ke Istana Bulungan, hingga kunjungan Sultan Maulana Moehamad Djalaludin ke Belanda pada 30 juni 1938 untuk menghadiri pesta pernikahan ratu Juliana. Hal ini menggabarkan keistimewaan Bulungan tempo dulu di mata Negeri Belanda.

Keistimewaan lainnya yang pernah melekat pada Kesultanan Bulungan adalah kesultanan ini pernah memiliki kapal Boelongan Nederland dengan kontruksi dari baja anti karat sebagai hadiah dari Ratu Wihelmina kepada Sultan Bulungan. Travelers dapat melihat foto kapal tersebut pada salah satu sudut ruang museum ini.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA