Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 25 Mar 2020 15:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Memborong Batik di Pekalongan Dapat Bonus Sate KTL

Hariadhi
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pekerja di pusat pengrajin batik H Abbas menggulung kembali batik-batik yang selesai dijemur.
Pekerja di pusat pengrajin batik H Abbas menggulung kembali batik-batik yang selesai dijemur.
detikTravel Community -

Saat mendengar kata Pekalongan, apa yang kita pikirkan? Salah satunya, batik! Saya dapat bonus sate KTL pula.

Banyak yang menyangsikan apakah Pekalongan akan bertahan sebagai salah satu penghasil batik ternama di Indonesia. Terutama,  oleh gempuran batik printing dari China dan Jalan Tol Jawa yang kini sudah rampung dan membuat banyak orang tidak lagi singgah di Pekalongan karena waktu tempuh Jakarta – Surabaya yang kini hanya 12 jaman.

Tapi saya mendapat cerita lain.

Dini hari setelah sampai dari perjalanan kereta dari Cirebon, saya dan rekan seperjalanannya saya, Tommy, minta diantarkan ojek dari Stasiun terdekat ke hotel yang murah. Saya tanya hotel mana yang mereka rekomendasikan untuk paginya bisa jalan ke lokasi pengrajin batik? Mereka menjawab,"Hotel Alegria saja mas!"

Toh, walau kemudian saya agak menyesal mengikuti saran ini karena sebenarnya jauh dari pusat pengrajin batik, tapi saya merasa hotel ini cukup nyaman dengan kisaran harga Rp 200 ribuan.

Tidak ada air hangat memang, namun tempatnya cukup artistik dan suasananya sangat nyaman. Pelayanannya juga sangat bagus. Walau kami tidak memesan sarapan berbiaya ekstra, tetap saja di pagi hari diberikan nasi gudeg.

Pagi hari, seperti biasa, saya bangun lebih awal dan Tommy masih ngorok. Menyapa warga sekitar, saya kembali memetakan berbagai UMKM di sekitar hotel. Tujuannya agar saat turis mancanegara berkunjung, mereka bisa memesan layanan dari UMKM dan warung-warung di sekitar.

Dan di pojokan jalan, saya beruntung bisa menemui penjaja jajanan tradisional. Ada kue putu ayu, wajik, ketan, dan sebagainya. Cukup untuk mengisi pagi bersama teh hangat.

Agar makin meriah, saya buatkan kuis di media sosial yang langsung ramai tebak-tebakan nama jajanan pasar. Padahal saya sendiri tidak hapal semua namanya, hehehe.

Menjelang siang, saya kembali tidur, dan Tommy membangunkan.

"Ayo checkout! Katanya mau lihat pusat pengrajin batik."

"Wah, iya."

Saya agak jetlag karena sebenarnya susah tidur karena ngoroknya Tommy. Jadi, tidur menjelang siang ini kesempatan untuk bisa sedikit lebih pulas.

Taksi online kemudian membawa kami ke arah Kertoharjo. Beberapa kilometer dari Hotel Alegria. Sesampai di Pusat Pengrajin dan Grosir H Abbas, kami menikmati proses pembuatan batik, terutama bagian penjemuran yang indah sekali. Puluhan meter kain batik baru jadi direntangkan di lapangan, dan pekerjanya melipat batik-batik tersebut menjelang siang.

Surprise, selain batik cetak dan tulis yang selama ini popular, ternyata Pekalongan sendiri sudah mulai bisa memproduksi batik printing dengan warna dan motif menarik. Ibu Lis, salah satu penjual di sana tampak dengan santai duduk, hanya melayani 2 orang pembeli.

“Sepi amat ya?" pikir saya. Saya merasa harusnya untuk sebuah pusat grosir, tempat ini terlalu sepi.

Ternyata rahasianya, walaupun terlihat bukan gadget savvy, Ibu Lis memanfaatkan aplikasi online Whatsapp dan Telegram untuk bisa melayani pembelinya.

“Enggak bikin tambah rame sih. Dari dulu juga udah rame! Cuma sekarang bisa duduk lebih santai," ia tertawa.

“Kalau dari Jakarta, kan sudah pesan dari dulu, sejak masih ada Pak Haji," ujar dia.

Bu Lis menyilakan kami memilih motif batik manapun yang kami inginkan. Saya memilih batik printing karena harganya sangat murah dan pasti disenangi anak-anak muda, untuk dijadikan bahan kuis.

Benar saja, begitu saya upload fotonya dan bertanya apakah ada yang mengikuti kuis berhadiah batik-batik tersebut, semua menjawab mau.

Selesai berkunjung ke pusat pengrajin batik, kami memutuskan makan siang karena sudah lapar. Iseng saya bertanya,“Pak di sini makanan apa yang aneh dan jarang ditemukan di Jakarta ya?"

Pak Supir menjawab sambil tertawa,"Ya Sate KTL pak!"

Ia kemudian memberi saran untuk mencarinya di sekitaran Wiradesa, karena memang terkenal. Tapi sayang setelah berkeliling kami menjumpai warungnya tutup.

"Sate KTL memang sangat laris. Cuma buka siang dan langsung habis diserbu," ujar di Bapak.

“Utamanya untuk meningkatkan daya tahan di ranjang," katanya tertawa-tawa.

Walau gagal menemukan sate KTL, singkatan dari alat kelamin sapi jantan, kami berjalan ke pusat kota dan mencari soto tauto.

“Soto biasa, tapi diberi bumbu tauco," kata Pak Supir.

Tapi, dia menjamin yang di Warung Pak Haji Rochmani ini yang paling enak se Pekalongan. Tentu kami tertarik untuk mencoba.

Saat saya mencoba, ternyata benar-benar dahsyat. Entah karena memang lapar setelah berjam-jam mencari Soto KTL, atau memang dari sananya enak. Tapi yang jelas saya sampai nambah.

“Enak banget Tom, worth it lah nyari sampe sejauh ini!" kata saya.

Tommy setuju dan kami pun mencoba bertanya harga seporsinya.

“Harganya cuma Rp 20 ribu semangkuk," kata penjualnya.

Malu-malu saat diwawancara, ia mengaku di sini sudah lama dan meneruskan usaha keluarga.

Kenyang makan soto, kami leyeh-leyeh di alun-alun Kota Pekalongan. Menjelang sore, perut sudah lapar lagi. Maka saya tertarik mencoba Sego Megono yang sebenarnya juga tersedia di seluruh sudut kota Pekalongan, seperti halnya Sego Lengko di Cirebon.

Bedanya dengan nasi biasa, Sego Megono adalah nasi yang diberi semacam sayur urap dari potongan nangka muda mentah. Nangka ini kemudian dicampurkan dengan parutan kelapa. Ya jadinya mirip urap. Lalu lauknya boleh dipilih, bebek, ayam, atau ikan lele. Saya pilih lele supaya tetap sehat.

Menjelang malam, kami harus melanjutkan perjalanan ke Semarang. Soalnya Mas Tedy Tricahyono dan Budiman Sudjatmiko juga berpacu ke Semarang naik mobil lewat Tol Jawa. Berdasarkan perkiraan mereka, 5 jam cukup untuk sampai dari Jakarta-Semarang.

Luar biasa!

Saya memilih perjalan dengan kereta lagi karena tiba-tiba mendapatkan deadline mengedit video, sesuatu yang tidak mungkin bisa saya lakukan di bus atau pesawat.

Duduk di gerbong restorasi yang kini rapi dan enak dipakai nongkrong karena suasananya mirip kafe kecil, saya bisa menyelesaikan pekerjaan itu dalam 1,5 jam saja. Sambil memesan makan malam berupa Nasi Krengseng Sapi, saya terus berpacu dengan waktu supaya video tersebut bisa sampai ke tangan klien tepat waktu.

Dan surprise, beda dengan di masa lalu, di mana makanan di restorasi sering dianggap tidak enak dan jorok, sekarang makanan restorasi sudah dikemas profesional dan menarik.

Bahkan, kalau kecewa dengan pelayanan gerbang restorasi, kita bisa menscan qrcode yang tertera di kemasan dan langsung diarahkan ke halaman komplain di internet. Luar biasa!

Sisanya saya mengajak ngobrol seorang perempuan cantik, ibu muda yang membawa anaknya menikmati perjalanan kereta ke Semarang. Beberapa kali anaknya tertarik melihat video yang sedang saya edit.

Dan malam pun mengantarkan kami terhanyut dalam perjalanan menuju Semarang.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA