Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 20 Agu 2019 11:36 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Air Terjun Perawan di Pulau Biak, Syurdori

Foto 1 dari 5
Sungai Syurdori
Sungai Syurdori
detikTravel Community - Masih tersembunyi di balik hutan bakau, Air terjun Syudori menjadi destinasi asri Pulau Biak. Lelah sehabis treking terbayar karena keindahannya.

Pulau Biak memiliki destinasi alam yang belum terjamah. Untuk menuju ke lokasi air terjun saja, harus menjelajah hutan bakau dengan akar yang menjulang serta melewati batu licin dan lumpur.

Kuliah Kerja Nyata adalah kegiatan yang membuat saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Kabupaten Supiori yang berada di Pulau Biak. Awalnya, Supiori adalah bagian dari Kabupaten Biak Numfor, tapi Supiori kini menjadi kabupaten baru.

Pulau ini dipenuhi berbagai destinasi alam yang belum banyak terjamah. Bahkan, pantai indah bisa ditemui di sepanjang jalan pesisir utara pulau. Selain pantai, bagian tengah pulau masih asri dengan perbukitan hijau.

Pada hari minggu, tim KKN kami diajak oleh warga lokal untuk berkunjung ke air terjun yang terletak di Kampung Syurdori. Perjalanan itu dimulai dengan keberangkatan tim dari Kampung Sauyas menuju sungai di Kampung Syurdori. Di sini, sungai sangat dekat dengan pantai sehingga saat pantai surut, air sungai juga surut.

Sampai di lokasi, kami turun ke tepi sungai kemudian lanjut dengan naik perahu kayu untuk menuju lokasi air terjun. Sialnya, karena air sedang surut, sungai pun menjadi lebih dangkal dan lagi di tengah perjalanan ada pohon tumbang yang rubuh, menghalangi perahu untuk melanjutkan perjalanan sampai ke air terjun.

Akhirnya, kami harus berjalan menyusuri tepi sungai demi menuju air terjun yang dituju. Kami tidak pernah sekalipun membayangkan akan menjelajah hutan bakau sebelumnya. Akar bakau yang menjulur dan menjulang di depan kami, batu lincin dan lumpur yang siap melahap kaki adalah tantangan yang harus kami hadapi untuk menuju ke sana.

Perjalanan berat menyusuri hutan bakau itu benar-benar menguras tenaga. Keringat tidak berhenti mengucur. Tangan dan kaki yang selalu digunakan untuk menjaga keseimbangan dan keselamatan diri sendiri selama berjalan.

Batu licin bukan pilihan untuk memijak, sebagian besar dari kami memilih untuk telanjang kaki. Namun lumpur tidak kalah ekstrim, sekali memijak, kaki bisa tenggelam sampai lutut. Bahkan ada seorang teman yang tenggelam sampai pinggang. Akar bakau adalah pilihan yang sedikit aman, tapi kami harus tetap berhati-hati karena banyak kayu lapuk yang niscaya akan patah jika terkena beban berat badan kami.

Sungguh, itu bukan pengalaman yang dialami banyak orang. Banyak hal yang bisa dipelajari dari perjalanan itu. Menghargai sebuah proses rasanya lebih penting dari pada hanya memuji sebuah tujuan.

Perjalanan berat selama kurang lebih setengah jam telah terlewati, akhirnya kami bisa menikmati Air Terjun Syurdori yang indah. Namun jujur saja, proses menuju ke sana jauh lebih berkesan dari pada mandi di air terjun itu. Kami masih harus menghadapi hal yang sama saat kembali dari air terjun. Perjalanan itu menyisakan memori dan badan pegal beserta luka kecil.

Setelah perjalanan itu, saya merasa tidak patut mengeluh dengan berbagai tantangan alam yang ada di Jawa, apalagi tempat seperti Dubai. Perjalanan jauh dengan pesawat, jalan-jalan di pusat kota rasanya enteng untuk dijalani setelah menghadapi hutan bakau selama setengah jam.

Selain itu Dubai yang terkenal dengan berbagai olahraga ekstrimnya, membuat saya sangat ingin kesana dan mencoba Skydiving, Zip Line dan olahraga ekstrimnya. Setelah hutan bakau, rasanya saya siap menantang ketinggian dan kecepatan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA