Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 03 Sep 2019 10:37 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Lewat Waisak, Toleransi Indonesia Dikagumi Masyarakat Dunia

Kevin Ghiffari
d'travelers
Foto 1 dari 5
Biksu
Biksu
detikTravel Community - Hari raya Waisak menjadi momen yang ditunggu umat buddha dunia. Melihat acara buddha terbesar dunia ini, masyarakat dunia kagum dengan toleransi Indonesia.

Kalau denger Waisak, banyak dari kita cuma tau kalo itu tanggal merah, hari raya buddha atau borobudur. Mungkin kebanyakan hanya menyadari kalau Waisak adalah hari libur nasional untuk memperingati hari raya saudara kita yang beragama budha, udah gitu aja. Padahal banyak banget hal didalam perayaan Waisak yang diselenggarakan hingga menuju detik-detik Waisak.

Saya memutuskan untuk berangkat ke Borobudur untuk melihat secara langsung prosesi Waisak yang sebenarnya dari pagi hingga detik-detik Waisak. Saat itu, saya dan teman saya, Barly betekad untuk berangkat. Walaupun itu sudah masuk minggu UAS.

Dari sekian banyak teman, akhirnya yang berangkat cuma saya dan Barly. Untungnya, di Solo ada sahabat saya, Razan yang mau ikut juga. Saya berangkat dengan kereta malem ke Jogja.

Sampai Jogja itu sekitar pukul 03.20 WIB. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi kami harus segera cari makan buat sahur. Thank God! Ada kawan, Ghiva di Jogja yang berbaik hati mau nemenin untuk cari sahur.

Diajaklah kami buat makan Gudeg Bu Tekluk (Gudeg Bromo). Itu sahur terenak saat ramadhan tahun itu menurut saya. Buat yang belum familiar dengan gudeg ini, saya mau share sedikit nih. Jadi Gudeg ini tergolong gudeg basah, dan untuk citarasanya cenderung pedas gurih, cocoklah ya buat traveler semua yang kurang suka makanan manis khas jawa.

Pagi harinya, saya dan teman-teman langsung berangkat ke Magelang dengan sewa motor dari jogja, kisaran harganya Rp 100-150 rb per hari. Satu hal yang saya ingat sepanjang perjalanan dari Jogja ke Magelang, masyarakat Jogja itu taat berkendara. Jadi selama di perjalanan itu saya benar-benar menikmati dan tidak pegal ngerem karena takut ada yang melanggar lalin.

Sampai di Magelang, banyak jalan yang udah di blokade sama kepolisian karena bakal ada upacara keagamaan Waisak ini. Jadi kami harus cari jalan alter buat sampe ke Candi Mendut, tempat pendaftaran prosesi lampion.

Google maps sangat membantu dikala seperti ini. Kita dibawa ke jalan desa yang cukup kecil, terus dipenuhi sama pemandangan gunung dan sawah yang super keren khas pedesaan.

Meskipun kami sempat saling tanya, "Ini bener enggak sih?"

Saat di kondisi bingung gitu, tiba-tiba berkata kalau dia sakit perut alias mules. Untungnya, ada warung kecil di pinggir sawah dan saya berenhentikan motor sembari bertanya kepada bapak pemiliki warung.

"Pak, permisi temen saya ingin buang air, kira kira jalan raya atau pom bensin masih jauh nggak ya dari sini?".

Tipikal orang jawa yang super baik kelihatan nih, bapaknya langsung berkata, "Oh, di sini saja dek, jalan raya masih jauh, kebetulan ada kamar kecil di belakang."

Sambil menunggu Barly buang air, saya sempatkan untuk ngobrol-ngobrol dengan bapak warung tersebut. Mulai dari kekaguman saya dengan pemandangan sekitar, sampai perjalanan gue dari Bandung-Jogja-Magelang.

Beliau cukup kaget juga ketika saya menceritakan maksud kedatangan kami.

"Wahh, biasanya kalo mau ke lampion pake jasa tour tour itu toh mas, ini sendiri ya," sambil tertawa ringan.

Kembali melempar pertanyaan, bapak tersebut menanyakan maksud kedatangan kami ke sana.
"Mas e, wartawan, atau memang merayakan sampai harus dateng dari pagi gini?"

"Mahasiswa pak, ingin melihat aja Indonesia itu toleransinya tinggi. Kan daerah sini di kelilingi oleh agama yang berbeda tetapi prosesi besar begini bisa dijaga dengan baik, keren pak!"

Bapak itu pun tersenyum dan berkata, "betul dek, memang itu yang harus dilihat dan diresapi yah, semoga perjalan adek selamat sampai kembali lagi ke Bandung" tutupnya. Kata-kata itu menutup pembicaraan kami seraya Barly selesai buang air.

Ini memberi pelajaran lagi buat saya bahwa masyarakat Indonesia itu dasarnya memang paham kok akan keberagaman. Meskipun Bapak warung itu tinggal di rumah sederhana dan dipinggir sawah, tapi beliau paham bahwa sebagai orang Indonesia toleransi itu penting dan kekayaan bersama yang nggak dimiliki oleh bangsa lain. Indonesia keren.

Siang itu super panas di Magelang, ditambah badan yang lumayan berasa pegel-pegel dikit karena seharian di kereta duduk tegak, sahur, motoran, langsung ke prosesi waisak itu capek tapi asyik.

Keadaan di Candi Mendut super beda sama hari biasanya, semua perangkat panitia perayaan Waisak telah rampung dalam merangkai tata panggung, dekorasi, hingga alur keluar masuk peserta, semua telah siap untuk merayakan hari besar tersebut. Mulai dari daun-daun emas yang menggantung atap tenda, ornamen-ornamen khas Agama Buddha bernuansa merah dan emas, buah-buahan segar, dan patung-patung budha lengkap sudah menghiasi Candi Mendut. Saya sangat menikmati suasana Candi Mendut hari itu. Karena acara belum mulai saya berencana untuk berkeliling sebentar.

Rasa ingin tahu saya tentang Waisak ini seolah mulai terjawab saat mengelilingi kompleks Candi Mendut ini. Di sana beberapa umat Buddha sedang melaksanakan ibadah dengan menyalakan dupa sambil mengelilingi candi tersebut.

Untuk umat Buddha, candi adalah tempat suci keagamaan dan tinggi banget nilai religinya ketika beribadah di sini. Apalagi bertepatan dengan momen Waisak ini. Jadi nggak heran, dari anak-anak, remaja, sampai orang tua yang datang ke sini tanpa melewatkan kesempatan untuk ibadah.

Ngomong-ngomong soal toleransi, saat itu Indonesia keadaannya lagi hangat nih, tepatnya sehabis peristiwa Pemboman Gereja di Surabaya 13 Mei 2018. Jarak yang hampir berdekatan dengan Perayaan Waisak yang tepat pada tanggal 29 Mei 2018 (saat dimana gue kesana).

Tentu, penjagaan di Perayaan Waisak dua kali ditingkatkan karena kejadian tersebut. Saat sampai pun, saya sudah melihat barisan kendaraan taktis polisi, brimob bersenjata lengkap, dan perimeter penjagaan yang cukup luas ruang lingkupnya. Sempat ngerasa deg-degan karena situasi menyeramkan kayak gitu mengintai saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan di Indonesia.

Namun, pikiran negatif tersebut saya coba konfrontasi dengan keyakinan bahwa Indonesia adalah rumah yang aman bagi semua penganut agama, rakyat Indonesia tahu banget soal toleransi, dan saya bisa buktikan itu di sini.

Berkeliling di Candi Mendut menuntun saya pada beberapa momen unik. Waisak di Indonesia adalah perayaan Waisak terbesar di Dunia. Hal ini diakui oleh biksu dari Thailand yang sempat mengobrol bersama saya.

Dia takjub dengan keberagaman di Indonesia. Negara yang mayoritas muslim, tetapi mampu menjadi tuan rumah perayaan Waisak terbesar di dunia, dan menjadi rumah bagi penganut Budha dengan begitu tentram. Dia bilang, bahkan di Thailand sendiri perayaan Waisak tidak semeriah di sini. Saya tertegun. Dalam pikiran saya melintas keyakinan bahwa Indonesia keren.

Biksu-biksu ini datang dan diundang oleh Walubi untuk mengikuti prosesi Waisak di Indonesia. Setiap tahunnya, acara Waisak di Candi Mendut-Borobudur selalu dihadiri oleh biksu-biksu dunia. Mulai dari Thailand, Tiongkok, Tibet, Nepal, India, hingga Australia. Mereka turut serta menambah semarak Waisak. Saya ngerasa beruntung banget bisa hadir di sini dari pagi.

Untuk ke Borobudur saat Waisak, kamu bisa ambil jasa trip gitu. Traveler tinggal pilih paket mana yang sesuai dengan budgetnya. Namanya juga paket trip, traveler sudah dijamin sampai ke Borobudur saat Waisak.

Kalo cara saya kemarin adalah :
1. Ambil kereta Jurusan Bandung Kiaracondong-Jogja Lempuyangan (kereta malam).
2. Sewa Motor di Jogja (Rp. 150.000/24 jam)
3. Langsung menuju ke Candi Mendut untuk registrasi supaya bisa ikut prosesi hingga lampion di malam harinya (Rp. 100.000/orang).
4. Ikutin prosesi hingga selesai dari Mendut-Borobudur.

Lampion dan Ramadhan

Malam itu suasanya sangat amat khidmat, semua umat buddha dengan khusyuk menjalani setiap prosesi Waisak dari awal hingga akhir. Saat itu, kondisinya hampir seluruh pelataran candi borobudur diisi oleh semacam ceramah dan ibadah, and it's very exciting!

Saya sebagai orang yang hadir di tempat tersebut, walaupun bukan sebagai umat buddha pun ikut merasakan kehidmatan prosesi tersebut. Lantunan doa-doa yang dipanjatkan oleh biksu yang memimpin ibadah tersebut, ditambah dengan suara lonceng, dan berbagai ekspresi wajah dari peserta ibadah menjadi gambaran betapa tingginya tingkat religiusitas umat buddha hari itu.

Momen itu terus meningkat seiring malam semakin larut. Sekitar pukul 22.00 WIB semua orang yang berada di pelataran ibadah, biksu-biksu, hingga turis seperti gue, diharapkan untuk berkumpul di salah satu spot taman terbuka.

Hal tersebut menjadi tanda akan semakin mendekatnya Malam Waisak. Saya, Barly, dan Razan pun gamau ketinggalan. Setelah semua kumpul, dan duduk rapih, prosesi puncak pun dimulai. Salah satu biksu, membunyikan lonceng tanda untuk dimulainya acara ibadah. Doa demi doa pun di lantunkan, fokus isi doanya pun adalah soal kedamaian, dan harapan bagi Indonesia yang semakin diberkati dan damai.

Malam itu, bukan hanya milik umat buddha yang sedang menjalani ibadah dalam merayakan Waisak, namun umat islam pun saat itu sedang menjalani ibadah salat tarawih, karena memang sedang berada di bulan Ramadhan. Saat fokus untuk mendengarkan biksu berdoa dengan cara meditasi, saya juga mendengar sayup sayup khatib masjid yang baru saja selesai menunaikan salat memberikan pengumuman. kurang lebih isinya begini:

"Assalamualaikum, Warrahmatullahi Wabarakatuh. Jamaah Masjid yang dimuliakan Allah, hari ini saudara kita, umat buddha sedang merayakan Hari besar Waisak. Mari bersama kita doakkan agar acara tersebut berjalan lancar, dan diberikan kedamaian selama prosesi khidmat, Al Fatihah"

Kata-kata itu membuka mata saya, sekaligus menjawab pertanyaan selama ini soal toleransi di Indonesia. Dasarnya memang bangsa Indonesia itu sudah toleran dari sananya. Sambil gue fokus meditasi, gue sedikit emosional saat momen itu terjadi. Seolah Tuhan benar-benar menjawab pertanyaan saya soal toleransi dan Indonesia. Pertanyaan tersebut betul-betul dijawab kontan sama Tuhan.

Pelajaran penting perjalanan kali ini benar-benar soal toleransi. Ketika perbedaan agama bukan menjadi penghalang setiap umat manusia untuk hidup berdampingan dengan tetap menjaga nilainya masing-masing. Soal keadaan Indonesia yang akhir-akhir ini lagi seolah kurang ramah dengan perbedaan, sepertinya pelaku-pelaku intoleransi itu harus jalan-jalan, biar membuka pikirannya. Kita hidup dengan berbagai macam perbedaan.

Karena pemahaman berlebihan yang cenderung memaksakan kehendak soal nilai yang dianut agaknya tidak elok diterapkan di Indonesia. Oleh karena itu, saya mengangkat tema blog saya dengan istilah Jejak Kosmopolis. Agar siapapun yang membaca tulisan-tulisan gue ini mampu memahami betul betapa indahnya perbedaan nilai. Hargai, hormati, cintai, dan berbagi lah, dunia terlalu sempit,  jika cuma satu nilai yang dianut!

Soal traveling, Dubai pasti menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di dunia, terutama soal lux traveling. Mulai dari restoran super mahalnya Salt Bae, terjun payung yang pasti super seru, burj khalifa, pulau buatan Palm Island, sampai mall yang besar dan mewah yaitu The Dubai Mall.

Semua menarik banget untuk di eksplor. Sebagai traveler yang selalu mencari sisi budaya, dan alam. Satu hal yang menarik untuk saya kunjungi di Dubai, yaitu Hatta. Daerah yang khusus diperuntukkan bagi wisata alam di Dubai.

Di sini, gue penasaran banget untuk liat sisi lain dari Dubai yang terkesan dengan segala kemewahannya. Jajaran pegunungan, danau, bendungan, serta udara segar. Pasti seru banget bisa main dan eksplor the other side of Dubai ini. Saya siap untuk pergi eksplor Dubai.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA