Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Okt 2019 15:34 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Aura Nasionalisme yang Kental di Makam Bung Karno

Aisa Marisa
d'travelers
Foto 3 dari 5
PATUNG BUNG KARNO DENGAN LATAR AIR MANCUR DAN LAMPU MALAM HARINYA
PATUNG BUNG KARNO DENGAN LATAR AIR MANCUR DAN LAMPU MALAM HARINYA
detikTravel Community -

Memperingati Hari Sumpah Pemuda, ada baiknya kita berziarah ke makam Bapak Bangsa. Di Makam Bung Karno, traveler bisa merasakan aura Nasionalisme yang kental.

Kota ini memang kecil, namun menyimpan banyak sejarah. Blitar yang berada di provinsi Jawa Timur merupakan lokasi dari Makam Bung Karno, Presiden pertama Indonesia. Di kota ini juga terdapat Istana Gebang yang merupakan rumah kediaman Sukarno dan sekarang beralih fungsi menjadi museum.

Di dalamnya terdapat barang-barang peninggalan beliau termasuk beberapa mobil yang pernah digunakan pada masanya. Jarak dari Makam Bung Karno dengan Istana Gebang hanya sekitar 2 kilometer saja.

Hari itu saya kedatangan tamu dari Jakarta dan saya berkesempatan mengenalkan Makam Bung Karno kepada beliau untuk berziarah di hari jumat yang penuh barokah. Karena kami berkunjung di weekday dan di siang hari, maka tidak sulit bagi saya untuk mencari tempat parkir.

Kalau kamu datang ke sini hari sabtu atau minggu harus sedikit bersabar untuk memakirkan kendaraan. Tapi tenang saja, para petugas parkir siap siaga membantu kamu. Tarif parkir mobil yang dibebankan adalah sebesar Rp 10.000 dan ini harus langsung dibayar di awal.

Kamu akan menjumpai beberapa penjual bunga segar di sepanjang jalanmasuk menuju makam. Bunga yang dijual cukup murah, hanya dengan Rp 10.000 kamu sudah bisa mendapatkan 3 kantong bunga segar.

Bunga ini akan ditabur di atas makam Bung Karno, makam Ayahnya dan juga Ibunya. Kalau tujuan kamu datang ke sini hanya untuk melihat-lihat atau berfoto saja, maka kamu bisa melewati jajaran penjual bunga ini.

Begitu masuk, kamu akan diminta untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Tujuannya sederhana, supaya mereka tahu berapa banyak pengunjung yang datang dan dari mana para wisatawan berasal.

Tidak ada tiket masuk yang perlu dibayar, jadi setelah melakukan registrasi, kamu bisa langsung menuju Cungkup Astono Mulyo. Di sinilah terdapat makam Bung Karno yang berdampingan dengan makam ayah dan ibunya - Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Hal umum yang dilakukan di sini adalah tabur bunga, berdoa, dan berfoto. Juru Kunci makam dan staf siap siaga selama jam operasional untuk membantu menjelaskan tata cara kunjungan kepada para wisatawan. Jadi kamu tidak perlu kikuk ketika berkunjung ke tempat bersejarah ini karena panduannya cukup jelas.

Sebelum tahun 2001, Cungkup Astono Mulyo ini ditutup rapat dengan dinding kaca sehingga pengunjung hanya bisa melihat makam dari luar saja. Namun setelahnya, seluruh dinding kaca dibongkar sehingga pengunjung bisa melihat makam secara dekat sekaligus memberikan penghormatan dengan melakukan tabur bunga.

Di sebelah kiri dan kanan Cungkup, terdapat fasilitas yang disediakan berupa mushola dan pendopo paseban. Menurut Juru Kunci, ini dibangun untuk mengenang dan menghormati orang tua Bung Karno.

Nisan Bung Karno terbuat dari batu pualam besar berwarna hitam yang bertuliskan : "Di sini dimakamkan Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan & Presiden Pertama Republik Indonesia, Penyambung Lidah Rakyat".

Ini bukan batu nisan biasa, karena ada pahatan macan pada nisannya. Menurut Juru Kunci, ini memang sengaja dibuat sebagai lambang bahwa Bung Karno adalah salah satu Macan Asia. Di kanan kiri nisan terdapat bendera merah putih dan bendera kepresidenan Republik Indonesia yang berwarna kuning.

Masih di kawasan yang sama, di dalam kompleks ini terdapat perpustakaan dan museum Bung Karno. Kamu hanya perlu menuruni beberapa anak tangga dan kamu akan langsung menemui kolam air mancur yang terlihat cantik di malam hari.

Di dalamnya, kamu akan melihat patung Sang Proklamator yang sedang duduk sambil memegangi buku sebagai sambutan kepada pengunjung perpustakaan. Perpustakaan ini hadir dengan tujuan untuk mengajak para peziarah mewarisi dan mereaktualisasi cita-cita dan pemikiran Bung Karno.

Di belakang museum dan perpustakaan tepatnya di bagian pelataran kompleks terdapat Gong Perdamaian atau World Peace Gong. Gong yang berdiameter 2.5 meter ini merupakan sumbangan dari The World Peace Committee sebagai pengingat untuk menjaga perdamaian dunia, Tidak ada lagi perang, konflik SARA, terorisme, dan sebagainya.

Pada permukaan gong terdapat 9 simbol agama dan bendera negara-negara di dunia (kurang lebih 202 negara). Selain di Blitar, gong ini juga terdapat di Bali, Ambon, Palu serta di beberapa negara lainnya seperti di India dan China.

Perjalanan wisata ziarah diakhiri dengan berkeliling toko souvenir. Untuk bisa keluar dari kawasan ini kamu harus melalui jalan kecil yang di sebelah kiri kanannya dipenuhi penjual cinderamata. Jadi kamu tidak perlu bingung mencari souvenir untuk dibawa pulang.

Kompleks Makam Bung Karno ini harus masuk dalam daftar kunjungan kamu kalau sedang berada di Blitar. Dalam satu kawasan kamu bisa belajar, menemui banyak hal baru dan tentunya mendapat transfer semangat cinta terhadap bangsa. Belum ke Blitar kalau belum mampir ke sini!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA