Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 23 Apr 2020 14:27 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Quebec, Kota di Kanada yang Paris Banget

Gema Perdana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Haute-Ville
Haute-Ville
detikTravel Community -

Quebec sebuah kota di Kanda, namun memiliki cita rasa yang amat Prancis. Saya berkesempatan menghabiskan waktu di kota tuanya.

Dua tahun lalu, tepatnya Agustus 2018, kapal ms Maasdam, yang saya tumpangi bersandar di Quebec. Ini menjadi debut saya singgah di Quebec.

Kebetulan, saya mendapat jadwal bekerja lunch atau jam makan siang, jadi saya bisa start berkeliling kota pada pagi hari. Berbekal headset dan smartphone, saya mulai perjalanan dari pelabuhan Quebec, berjalan santai di sepanjang dermaga sambil menikmati playlist lagu yang sengaja diputar untuk menambah semangat pagi saya.

Lima menit berjalan, sampailah di terminal kedua Pelabuhan Quebec. Saya mencoba menyapa penduduk lokal. Saya menanyakan bangunan berbentuk kastil yang terkenal di Quebec.

Seorang pria paruh baya dengan senang hati melayani beberapa pertanyaan saya, dan dengan kebaikannya pula ia berkenan mengantarkan menuju lokasi yang dimaksud.

Saya sapa pria itu dengan monsieur, yang artinya bapak.

Kami memulai langkah menuju Old Quebec yang berjarak tidak terlalu jauh dari dermaga. Dari sana ia kemudian mengajak saya ke Funiculair du Vieux-Quebec. Sebuah kereta gantung yang menghubungkan Haute-Ville atau kota bagian atas dengan Basse-Ville atau kota bagian bawah dari Old Quebec.

Funiculair Railway dibangun dengan kemiringan empat puluh lima derajat serta panjang lintasan rel yang mencapai enam meter. Monsieur Don menjelaskan bahwa funiculair ini telah dibangun lebih dari seabad silam, tepat di tahun 1879.

Saya sedikit takjub ketika mendengar penjelasan monsieur tersebut, karena walaupun sudah berumur cukup tua, namun operasional dari kereta gantung ini masih sangat baik, dan ini dibuktikan saat saya dan monsieur menaiki kereta gantung tersebut menuju Haute-Ville, terasa lembut saat bergerak naik, sehingga kami pun bisa menikmati pemandangan Basse-Ville serta Quebec pier dari funiculair ini.

Sesampainya di Haute-Ville atau kota bagian atas, kami berjalan santai di sekitaran Le Chacteau Frontenac. Yes, inilah bangunan berbentuk kastil yang saya cari, tak lupa saya mengambil beberapa jepret terbaik untuk diabadikan nantinya.

Sambil berjalan santai, monsieur Don menjelaskan kepada saya tentang bangunan yang menjadi landmark Quebec ini kepada saya, jadi bangunan megah ala kastil ini merupakan sebuah hotel yang dibangun pada tahun 1892 dengan nama The Fairmont Le Chacteau Frontenac, atau lebih dikenal dengan nama Le Chateau Frontenac.

Hotel yang terletak di kawasan Kota Tua Quebec ini dibangun oleh serikat Pekerja Canadian Pacific Railway Company, desain arsitekturnya sendiri bergaya The Chacteauesque, yang artinya bergaya ala Prancis. Pembuatnya adalah seorang arsitek bernama Bruce Price yang ditunjuk pemerintah Quebec kala itu untuk membangun suatu struktur bangunan segiempat yang bergaya ala bangunan-bangunan di Prancis.

Baca Juga: Seperti Inikah Rasanya Berjemur di Pantai Masa Depan?

Chacteau Frontenac sering menjadi lokasi pengambilan film layar lebar, seperti Confess yang dibuat di tahun 1953 berlokasi di tempat ini, kemudian serial drama Korea Goblin yang sempat booming dengan mengambil tempat di sudut bangunan The Fairmont Le Chacteau Frontenac, sehingga tak heran banyak turis Korea berdatangan untuk menapak tilas dan menginap di hotel yang menjadi lokasi syuting Goblin tersebut.

Saya sangat kagum saat melihat bangunan ini, arsitekturnya sangat indah, seperti kastil di Eropa dengan taman kecil yang mengelilingi areanya. Benar-benar serasa di negeri dongeng. Beberapa momen saya ambil untuk diabadikan dalam bentuk gambar, sehingga nantinya bisa menjadi cerita berkelana di Kanada.

Setengah jam saya berjalan sambil mengabadikan gambar di sekitaran Le Chacteau Frontenac yang begitu indah pagi itu. Dan, setelah dirasa cukup mengeksplore keindahan Le Chacteau Frontenac, kami kemudian beranjak menuju ke Rue du Petit-Champlain, sebuah jalanan kecil indah yang dimiliki Quebec.

Nama Champlain diambil dari nama pendiri kota Quebec, yakni Samuel de Champlain, yang mendirikan kota Quebec pada tahun 1608. Jalanan yang terletak bersebelahan dengan Vieux-Quebec, Cap-Blanc, colline-Parlementaire serta Gereja Tua Notre Dame des Victories ini punya kecantikan sendiri yang wajib dijelajahi saat berkunjung ke Quebec.

Selain itu, berbagai pertokoan seperti souvenir, kedai kopi dan butik pakaian berjejer rapi sepanjang jalan. Juga, cukup banyak tempat bagus yang bisa disinggahi lainnya, seperti Rue du Petit-Champlain Mural yang terlukis pada dinding sebuah rumah 102 Rue du Petit-Champlain.

Mural tersebut menggambarkan history Old Quebec. Mengambil gambar berlatar mural tersebut adalah momen terbaik yang perlu diabadikan. Maka, jangan lupa siapkan kamera anda jika berkunjung ke Rue du Petit-Champlain, karena bagi pecinta street photography, tempat ini adalah surganya.

Berpindah dari Rue du Petit-Champlain Mural, monsieur Don mengajak saya menapak langkah di Escallier Casse-Cou dimana para monsieur dan madame disana sering menyebutnya The Breakneck Stairs, sebuah anak tangga tertua yang ada di Quebec. Dibangun pada tahun 1635, anak tangga ikonik kini telah berumur 383 tahun.

Monsieur Don menjelaskan sebenarnya ada beberapa julukan yang diberikan kepada tangga ikonik itu, seperti Escallier Champlain yang berarti tangga Champlain atau Escallier de la Basse-Ville atau lower town stairs. Pada intinya, julukan tersebut merupakan kebanggaan dan apresiasi dari warga kota Quebec akan keberadaan tangga tersebut.

Satu jam saya dan monsieur Don berjalan mengeksplore Quebec dari sisi kota tuanya yang begitu menawan sambil mengabadikan foto dan momen terbaik disana. Kemudian, saya berpamitan serta mengucap terima kasih atas short trip dan berbagai penjelasan mengenai old city Quebec kepada saya.

Baca juga: Cerita WNI di Moskow Jalani WFH saat Pandemi Corona

Sebelum berpisah, saya sempat memberikan selembar uang kertas rupiah bernilai lima puluh ribu sebagai tanda terima kasih dan kenang - kenangan khusus dari saya. Beliau sendiri cukup mengagumi Indonesia dari budaya yang sering dilihatnya di media, jadi hal yang berbau Indonesia akan berarti baginya.

Monsieur berpesan jika mampir kembali ke Quebec jangan lupa memberi kabar, ia akan senang hati mengantar.

Dan akhirnya kegiatan eksplore Quebec telah saya selesaikan. Menjelajah Quebec seakan membawa saya menyusuri jalanan kota Paris lama, begitu klasik dan romantis, hingga saya teringat satu ungkapan yang terkenal dari Quebec, yakni du Quebec avec amour yang artinya dari Quebec dengan sebuah cinta.

Nanti, andai wabah virus Corona usai, masukkan Quebec ke dalam wish list-mu ya!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA