Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 31 Okt 2019 11:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tangkahan, Ini Tempat Liburan ala NIcholas Saputra

Mega Anjasmoro
d'travelers
Foto 1 dari 5
Bermain dengan Sari
Bermain dengan Sari
detikTravel Community - Tangkahan, tempat ini menjadi destinasi liburan yang direkomendasikan oleh Nicholas Saputra. Di sini pula merupakan tempat shooting video clip adu rayu.

Saat melihat instagram Nicholas Saputra, saya sering sekali melihat foto sungai dan gajah dengan geotagging Tangkahan. Karena saya suka dengan wisata alam dan interaksi dengan binatang, maka saya mencari tahu lebih lanjut mengenai Tangkahan, sebuah desa asri yang masih menjadi bagian dari Taman Gunung Leuser.

Tak lebih dari 3 bulan sejak memikirkan Tangkahan, saya memutuskan untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Saya ikut open trip yang diadakan oleh seorang Travel Blogger, yang ternyata menggunakan lodge milik Nicholas Saputra sebagai sarana akomodasinya. Terrario Tangkahan, sebuah penginapan yang sangat tenang dan nyaman di tengah hutan Taman Nasional Gunung Leuser yang menawarkan keindahan Tangkahan dari Nicholas Saputra.

Kenny, travel blogger yang mengelola trip ini bercerita, seluruh rangkaian trip kami di Tangkahan ini direkomendasikan langsung oleh Nicholas Saputra. Setelah berkendara sekitar 4 jam dari Medan, pukul 18.00 kami sampai di Tangkahan. Perjalanan kami diwarnai oleh keraguan, karena untuk mencapai lokasi ini selama 2 jam kami harus melewati perkebunan kelapa sawit dan hutan.

1 jam berikutnya kami mulai memasuki jalanan yang lebih kecil namun masih beraspal, dan 1 jam terakhir, jalanan kami masih bebatuan tanpa aspal. Namun, begitu kami memasuki penginapan, kami sangat lega dan puas. Udara disini sangat sejuk dan segar. Saat kami beristirahat di teras dengan kolam kecil yang memisahkan penginapan dan hutan, kami disambut oleh 2 monyet kecil yang sedang bercengkerama di pohon.

Pagi pertama di Tangkahan, kami mengunjungi balai konservasi gajah, sebuah lembaga yang merawat dan mendidik gajah liar untuk menjadi gajah patroli yang bertugas menjaga hutan. Di sini, kami berkesempatan untuk melihat aktivitas gajah patroli di pagi hari. Mulai dari mandi, makan, dan bermain bersama pengunjung. 

Gajah-gajah inilah yang beberapa kali muncul di feed instagram Nicholas Saputra. Saya berinteraksi dengan Sari, gajah tertua di kelompok ini dengan usia 47 tahun. Saya ikut memandikan Sari bersama para ranger, kemudian saya juga ikut memberi makan Sari dengan pisang dan labu kuning. Seusai memandikan Sari, saya yang dimandikan olehnya. Sari menyembur saya dengan air melalui belalainya, lalu ia mencium pipi saya masih dengan belalainya sebagai ucapan perpisahan.

Setelah bermain dengan gajah, kami diajak oleh pengelola penginapan sekaligus tour guideSuntuk melakukan river tubbing dan river trekking di Sungai Buluh. Ini pertama kalinya saya menjelajahi sungai di Pulau Sumatera. Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh saya saat mengarungi sungai tersebut adalah sebuah kedamaian yang hakiki. Pantas saja Nicholas Saputra betah di Tangkahan, berdiam diri di sini sangat membuat pikiran jadi tenang dan hati jadi senang.

Kami mengunjungi sebuah air terjun kecil di Sungai Buluh ini. Tempat ini pernah disebutkan dalam instagram Nicholas Saputra dengan judul Forest Bathing Spot. Walaupun kecil, namun berendam di bawah air terjun ini terasa sangat seru. Airnya sangat jernih dan segar. Kami melanjutkan river trekking di sungai yang tenang ini. Walaupun dari atas terlihat sangat tenang, ternyata aliran di dalamnya sangat kencang. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat kami untuk berenang. Kami pun makan siang di salah satu spot makan siang favorit Nicholas Saputra di pinggir sungai Buluh ini. Makanan kami terasa sangat nikmat.

Menjelang sore, kami meminta tour guide kami untuk mengantarkan kami ke jembatan "Adu Rayu". Sesungguhnya jembatan ini hanyalah jembatan biasa yang menghubungkan desa di Tangkahan, jembatan inipun tidak memiliki nama. Tapi karena jembatan ini muncul di video klip Adu Rayu, yang menjadi tempat pertemuan dan perpisahan Nicholas Saputra dan Velove Vexia, akhirnya oleh pengunjung jembatan ini disebut jembatan Adu Rayu. Kamipun berlaga menjadi Nicho dan Velove, memeragakan adegan dalam video klip tersebut.

Di akhir perjalanan, kami kembali ke lokasi asal kami dengan melakukan River Tubbing, menikmati senja di sungai yang tenang, kami dimanjakan oleh semilir angin dan kehangatan matahari. Saya pun berinisiatif memutar lagu Adu Rayu untuk mengiri perjalanan kami, sambil membayangkan trip kami kali ini ditemani Nicholas Saputra secara langsung. Sore itu, damai dan tenang menyelimuti hati kami. Terlepas pesona instagram Nicholas Saputra, Tangkahan adalah sebuat tempat yang sangat sesuai bagi para kaum urban untuk menyatu kembali dengan alam dan terhubung kembali dengan jiwa kita.

Pukul 17.00, kami tiba di Terrario dan disambut oleh pisang goreng khas penginapan tersebut di terasnya. Menikmati matahari terbenam di sudut Tangkahan sambil menikmati pisang goreng yang sangat enak membuat saya enggan kembali ke Jakarta. Namun sayang, trip yang harusnya saya ikuti selama 4 hari ini, harus segera saya tinggalkan di hari kedua karena ada sebuah rapat yang harus saya ikuti.

Itinerary hari berikutnya terlalu seru untuk dilewatkan, forest trekking, berendam di hot spring, dan river tubbing di Sungai Batang. Semuanya direkomendasikan oleh Nicholas Saputra dan timnya, sehingga trip kali ini membuat saya dapat melihat Tangkahan dari "mata" seorang Nicsap. Seorang pekerja seni yang sangat mencintai hutan. Penginapan Nicsap pun memberikan pengalaman yang luar biasa dalam trip ini. Kenyamanan, ketenangan, dan kenikmatan masakan lokal yang disajikan.

Saya berjanji suatu saat akan kembali lagi kesini dan bermain kembali dengan Sari. Semoga ekowisata Tangkahan semakin berkembang tanpa merusak alamnya yang kaya dan menyejukkan jiwa serta raga.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA