Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 08 Nov 2019 11:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Lembah Kebar: Keindahan Alam Tersembunyi di Papua Barat

Foto 2 dari 5
Ruas jalan di Bukit Pasir yang belum beraspal, curam dan rawan tergelincir
Ruas jalan di Bukit Pasir yang belum beraspal, curam dan rawan tergelincir
detikTravel Community -

Pesona pantai dan laut di Papua Barat melalui Raja Ampat sudah mendunia. Tetapi pesona wilayah pegunungannya belum banyak menarik perhatian.

Adalah sebuah distrik di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat yang memiliki keindahan pegunungan yang jarang ditemui di wilayah lain di Indonesia. Distrik tersebut adalah Distrik Kebar atau sering disebut Lembah Kebar karena kondisi topografisnya seperti lembah yang dikelilingi oleh perbukitan.

Mungkin sedikit mirip dengan wilayah Sumba dan New Zealand, untuk mencapai kawasan ini diperlukan waktu 4 jam perjalanan darat dari Manokwari dengan menggunakan kendaraan double garda atau empat jam dari Kota Sausapor, ibukota sementara Kabupaten Tambrauw. Sorong-Sausapor dapat ditempuh dengan perjalanan laut sekitar 2,5 jam atau perjalanan darat 3,5 jam.

Kami menempuh perjalanan menuju Lembah Kebar dari Manokwari, melewati jalan yang berkelok-kelok dan beberapa penggal ruas jalan yang cukup menantang. Seperti pada ruas jalan di bukit pasir sekitar 10 km yang sangat rawan tergelincir, karena jalan yang berpasir tidak bisa diaspal. Terdapat juga jembatan yang masih terbuat dari kayu dengan kiri kanannya jurang.

Di lokasi ini, menurut penuturan driver, sering terjadi kecelakaan. Hanya driver berpengalaman yang mampu menempuh jalur sulit ini. Namun sepanjang perjalanan, kami dihidangkan lukisan alam yang tidak henti-hentinya kami kagumi.

Hutan alami yang masih sangat lebat, langit biru nan bersih, serta suara burung yang tiada henti. Waktu perjalanan yang seharusnya tidak lebih dari empat jam kami lalui hingga lima jam lebih karena tiap saat kami minta driver untuk berhenti dan mengambil gambar.

Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan untuk mencapai Lembah Kebar terbayar dengan bentang alam yang disuguhkan wilayah ini. Pemandangan alam Lembah Kebar sangat memanjakan mata, sejauh mata memandang, hamparan bukit hijau yang digelayuti awan putih bersih selalu menyambut pagi hari kami.

Kami yang menginap di mess Pemda Kabupaten Tambrauw. Penduduknya sangat ramah, selalu memberikan salam ketika bertemu, baik oleh anak-anak maupun penduduk dewasa. Penduduk Lembah Kebar tidak banyak, terbagi dalam beberapa kelompok di pinggir jalan utama dengan mata pencaharian utama berladang di sekitaran tempat tinggalnya.

Di lembah ini terdapat bukit yang sangat terkenal akan keindahan bentang alamnya, yaitu Bukit Sontiri atau sering juga disebut dengan Bukit Teletubbies. Disebut demikian karena bukit ini mirip dengan rumah Teletubbies.

Bukit ini berupa hamparan padang rumput yang sangat luas seperti karpet hijau yang dibentangkan. Ketika berada di hamparan padang rumput ini sejenak teringat akan film klasik The Sound of Music, di mana para artisnya menari dan bernyanyi di hamparan padang rumput hijau seperti ini.

Tidak perlu jauh-jauh ke Eropa untuk menikmati pemandangan seperti ini. Terdapat jalan setapak yang bisa dilewati kendaraan roda empat, yang memang dipersiapkan untuk pengunjung yang ingin menikmati alam ini.

Waktu terbaik menikmati bukit ini adalah di pagi hari tetapi ketika tidak turun kabut. Jika kabut turun di pagi hari akan menutupi wilayah perbukitan meskipun tetap menawarkan pesona lain dari wilayah ini.

Udara sejuk dipadukan dengan pemandangan alam yang cerah, sungguh membuat tidak ingin beranjak dari bukit ini. Akan terasa lebih nikmat jika kita mendirikan tenda di sini.

Ketika melihat ke dunia maya, pesona Lembah Kebar ini sudah mulai banyak dibicarakan pada beberapa artikel perjalanan seseorang, terutama yang sudah pernah singgah disana. Semua sepakat dengan keindahan alam yang dimiliki Lembah Kebar sulit ditemui di daerah lain di Indonesia. Namun, lokasinya yang jauh dari pusat kota baik Manokwari maupun Sorong masih menjadi kendala besar untuk menarik banyak pengunjung dari luar.

Untuk perjalanan Manokwari-Kebar dengan kendaraan double garda Hilux, traveler harus merogoh Rp 2,5 juta sekali jalan. Untuk pergerakan sehari-hari juga tidak tersedia angkutan umum, harus mencarter mobil sendiri dengan biaya Rp 1 sampai Rp 1,5 juta jika perjalanan yang dilakukan tidak terlalu jauh.

Infrastruktur yang masih terbatas ini menjadi kendala dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kebar. Sebagai objek wisata yang masih virgin juga belum tersedia fasilitas penginapan bagi pengunjung kecuali rumah penduduk setempat atau mess Pemda Tambrauw.

Saat ini, kunjungan wisatawan luar masih belum banyak. Lembah Kebar memerlukan branding kawasan yang kuat untuk dapat menarik kunjungan dan dapat berkembang seperti halnya Raja Ampat.

Raja Ampat sudah menjadi ikon bagi pariwisata Papua Barat yang sudah banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Destinasi ini dikenal sebagai salah satu pantai dan laut terindah di dunia.

Lembah Kebar menawarkan alternatif objek wisata yang memberikan nuansa yang berbeda, nuansa pegunungan yang masih belum berkembang di Papua Barat dengan potensi besar yang tersedia.

Lembah Kebar dapat menjadi destinasi yang lengkap bagi para wisatawan. Selain pemandangan pegunungan, paket wisata di Lembah Kebar juga bisa dilengkapi dengan wisata burung cendrawasih, tracking ke air terjun alami dan beberapa kegiatan di alam lainnya.

Tentunya diperlukan ketersediaan infrastruktur yang mumpuni untuk mewujudkan Lembah Kebar sebagai sebuah destinasi wisata yang layak dikunjungi. Jaringan infrastruktur berupa listrik, air bersih serta akomodasi yang memadai menjadi kebutuhan minimal yang harus tersedia.

Fenomena glamourous camping yang sedang menjamur sebagai destinasi wisata di kota-kota besar dapat diadopsi dengan pemandangan orisinal sebagai nilai lebih wilayah ini.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA