Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 11 Nov 2019 15:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Suku Baduy yang Menyatu dengan Alam

Foto 1 dari 5
Salah satu Kampung Suku Baduy Luar difoto dari ketinggian
Salah satu Kampung Suku Baduy Luar difoto dari ketinggian
detikTravel Community - Bertemu Suku Baduy di Banten, kita akan belajar banyak tentang kearifan lokalnya. Semangat gotong royong, keramahan, dan kehidupan yang menyatu dengan alam.

Liburan musim panas kami di Indonesia kali ini terasa istimewa, karena hanya mengunjungi objek-objek wisata di Pulau Jawa. Salah satu tujuan wisata yang begitu menarik buat kami adalah perkampungan Suku Baduy yang bermukim di wilayah Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Pemberian nama Baduy berasal dari peneliti Belanda. Hal ini kemungkinan besar dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat tersebut dahulu kala yang hidup nomaden seperti Suku Badui di jazirah Arab. Pendapat lain menyebutkan, nama Baduy berasal dari nama Sungai Cibaduy yang terletak di bagian utara Desa Kanekes. Tidak heran bila mereka lebih suka disebut orang Kanekes.

Suku Baduy terbagi dua yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Dalam yang bermukim di tiga desa yaitu Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo, samasekali tidak tersentuh budaya luar atau modernisasi. Mereka begitu kukuh dan taat menjalankan adat istiadat leluhur.

Mereka hidup begitu alami, sederhana, rukun dan senantiasa bergotong-royong dalam keseharian. Suku Baduy Dalam berpakaian didominasi warna putih, sebagai perlambang kesucian. Kemana pun mereka bepergian mereka berjalan tanpa alas kaki.

Adapun Suku Baduy Luar, yang bermukim di beberapa kampung di sekitar kaki Gunung Kendeng, sedikit banyak sudah membuka diri dengan arus modernisasi. Pakaian mereka didominasi warna biru tua atau hitam, perlambang mereka sudah tidak murni lagi atau sudah terpengaruh budaya luar.

Mata pencaharian utama Suku Baduy adalah bertani dan berladang.

Sistem kepercayaan mereka disebut Sunda Wiwitan.
Kepercayaan yang memuja nenek moyang sebagai bentuk penghormatan. Mereka percaya bahwa mereka mengemban tugas untuk menjaga harmoni dunia.
Suku Baduy pun beranggapan bahwa sesungguhnya mereka keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi.
Kepala Adat Suku Baduy disebut Puun dan wakilnya disebut Jaro.

Beruntung saya mempunyai rekan yang bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Banten, sehingga saya dapat informasi yang terbaik, bagaimana saya dan suami yang seorang WNA bisa berkunjung dan menginap di perkampungan Suku Baduy.

Kami sampai Ciboleger sekitar pukul 11.00 siang. Selanjutnya kami mendatangi rumah pemandu, seorang penduduk Baduy Luar. Kami beristirahat sejenak di rumah beliau. Perjalanan berlanjut menuju Kampung Gazeboh dengan berjalan kaki di bawah terik sinar matahari. Kami sampai di Kampung Gazeboh sekitar pukul 15.00 dengan berpeluh keringat.

Di Kampung Gazeboh inilah kami dititipkan, oleh pemandu, pada sebuah keluarga Baduy Luar untuk beristirahat dan bermalam. Di rumah sederhana nan alami dari Suku Baduy yang dibangun dari Batu kali, bambu, kayu dan atap sirap.

Setelah santap sore yang nikmat sekitar pukul 17.00, kami kembali berjalan menjelajahi sudut-sudut desa. Setelah melaksanakan ibadah shalat maghrib dan Isya, kami beristirahat. Suasana begitu sepi dan gelap, karena memang tidak ada listrik apalagi sinyal telepon seluler.

Ada banyak tabu atau larangan, teristimewa lagi bila saat berlangsungnya tradisi Kawalu, yang harus ditaati pengunjung, seperti tidak boleh gaduh, membunyikan radio, alat musik, menggunakan sabun, detergen dan lain-lain. Termasuk larangan bagi WNA memasuki perkampungan Baduy Dalam.

Karena suami yang seorang WNA, jd kami tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam. Sehingga setelah sarapan pagi, kami putuskan untuk mengitari beberapa Kampung Baduy Luar lainnya, dan selanjutnya menempuh perjalanan pulang ke Ciboleger.

Perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga, tapi kami begitu menikmatinya. Bersyukur kami masih diberi kesempatan melihat langsung kearifan lokal masyarakat Suku Baduy yang begitu gigih menjaga kelestarian alam, dan menjunjung tinggi adat istiadat yang diwariskan leluhur mereka.

Indahnya Indonesia!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA