Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 03 Des 2019 11:24 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengulik Pesona Pantai Cantik di Bulukumba

Zakiyya Sakhie
d'travelers
Foto 1 dari 5
Saya berpose di salah satu spot cantik pantai Tanjung Bira
Saya berpose di salah satu spot cantik pantai Tanjung Bira
detikTravel Community - Sebagai pecinta pantai, rasanya traveler wajib berkunjung ke Pantai Tanjung Bira yang cantik di Bulukumba. Ada juga destinasi menarik lainnya. Apa saja?

Pantai-pantai di Indonesia memang cantik. Seolah pantai yang membentang di pelosok negeri ini ingin saya singgahi semua. Tapi kali ini saya akan menceritakan pengalaman traveling pada Oktober kemarin ke salah satu destinasi wisata pantai yang berada di Bulukumba, Sulawesi Selatan yaitu Pantai Tanjung Bira dan Tebing Apparalang.

Traveling ini amat tepat disandingkan dengan peribahasa 'sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui'. Pasalnya saya singgah ke Pantai Bira dan Tebing Apparalang selepas mengikuti ajang olimpiade matematika di Jakarta.

Dari Jakarta saya bersama guru pendamping sebut saja Bu Rika, terbang menuju Makasar menggunakan maskapai Batik Air yang dipesan dua hari sebelum hari keberangkatan.

Penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta ke Makasar memakan waktu yang tidak terlalu lama, hanya 2 jam saja. Dan untuk urusan tiket pesawat dari dulu kami selalu percayakan sepenuhnya pada layanan penyedia tiket online dari tiket.com.

Selain praktis, pelayanannya yang cepat dan sigap, proses pembayarannya pun juga sangat mudah dan terjamin keamanannya. Tiket.com menjadi andalan berburu tiket pesawat dengan harga lebih murah sebagaimana yang kami angankan.

Selisih hingga ratusan ribu sangatlah menguntungkan, penghematan budget bisa kami pergunakan untuk tambahan uang saku selama dalam perjalanan.

Tiket.com juga memanjakan para pelanggannya dengan pengadaan tiket promo dalam setiap harinya. Pokoknya tiket.com selalu membuat kami puas dan tersenyum bahagia. Sebahagia manakala pesawat yang saya tumpangi berhasil landing mulus di bandara Sultan Hasanuddin Makasar yang kemudian perjalanan dilanjut ke rumah Bu Rika di Bulukumba.

Kami dijemput menggunakan mobil. Lumayan jauh jarak antara kota Makasar ke Bulukumba, mengikis waktu hingga 7 jam lamanya karena kondisi jalanan saat itu sedang dihadang macet. Biasanya jika jalanan lengang 5 jam tempuh sudah sampai di Bulukumba. Begitu terang Bu Rika.

Sesampai di rumah Bu Rika saya membereskan diri, makan dan kemudian istirahat. Esoknya selepas Dhuhur saya diajak Bu Guru Rika menikmati suasana Bulukumba dengan mengendarai sepeda motor.

"Yuk ke Pantai Tanjung Bira. Dan kalo masih ada waktu sekalian kita ke Appalarang"

"Dimana itu, Bu?" tanya saya yang merasa asing dengan nama-nama tempat yang disebutkan beliau.

" Pokoknya ayolah, nanti dijamin kamu bakalan nolak pulang, deh." Jawab beliau sembari terkekeh meyakinkan.

Nggreenggggg... kamipun berangkat berboncengan.

Pantai Tanjung Bira terletak di Jln. Tanjung Bira, Bonto Bahari.
Kebetulan cuaca agak kurang bersahabat, mendung tipis dan sedikit gerimis ketika kami belum tiba di tempat tujuan,tepatnya masih berada di tengah-tengah pejalanan.

Kami sebentar-sebentar musti mencari tempat berteduh tak kala kucuran air padat mulai membasahi tubuh, untungnya ada persediaan rain coat di jok motor. Kebetulan juga ada nenek Bu Rika yang tinggal di jalan poros Bulukumba-Bira, saya diajak oleh beliau singgah menselonjorkan kaki, makan-makan, dan melepas dahaga di situ.

Hujan mereda, kami bangkit melanjutkan pelancongan. Butuh waktu kurang lebih satu jam-an untuk kami sampai ke pantai Tanjung Bira. Dari kota Bulukumba menuju kecamatan Bonto Bahari jalanan yang kami lalui lumayan bagus dan bebas hambatan alias tidak ada jalanan bergelombang hingga pintu gerbang masuk Pantai Tanjung Bira.

Setelah merogoh kocek sebesar 25.000 untuk ongkos parkir dan tiket masuk, kamipun bebas melenggang menikmati panorama pantai yang indahnya tidak terkira. Saya sampai merasa tidak sedang menginjak bumi, tapi di nirwana.

Suara deburan ombak dari kejauhan serona musikal alam yang menggoda panca indra. Sungguh Tanjung Bira gambaran nyata pantai penuh pesona yang selama ini menjadi destinasi wisata yang saya impi-impikan. Di sini saya puaskan diri bergumul dan menyibak butiran-butiran pasir berwarna putih yang teramat lembut selembut tepung terigu, menghampar rata seluas mata memandang.

Saya tak membuang kesempatan menikmati beningnya air laut di pesisir pantai yang membentuk degradiasi warna hijau (tosca) kebiru-biruan yang teramat eksotis, ketika terkena pantulan sinar matahari serupa lautan kristal yang terpendam dalam air. Sungguh pemandangan alam yang tak hanya indah tapi juga seksi.

Tak sekedar menghanyutkan diri oleh keindahan alam dan berburu titik-titik terkece untuk berpotret-potret ria, di sini pengunjung bisa diving dan snorkeling, ada tempat penyewaan alatnya, hanya saja saya belum sempat mencobanya.

Jika ingin menikmati pesona pantai pada pagi, sore, atau malam hari, buang jauh rasa kekhawatiran masalah tempat menginap karena di lokasi tidak jauh dari pantai banyak sekali lokasi penginapan semacam villa, bungalow, homestay, bahkan juga hotel.

Untuk memesan hotel jangan lupa colek langsung di layanan tiket.com. Dijamin no ribet. Booking jauh-jauh hari juga bisa kok. Pada musim liburan seringnya penginapan diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin sekedar refresing, menekuni hobby, atau menerapi diri dari kejenuhan di sela kesibukan kerja atau kegiatan kuliah/sekolah.

Jika tidak ingin repot membawa bekal atau sedang berwisata spontan jangan takut akan kelaparan, karena di tempat ini banyak pedagang aneka makanan dan minuman. Tinggal siapin dokunya saja.

Tidak terasa hari bergulir menuju sore, tapi dua kaki rasa berat sekali meninggalkan tempat yang yang dipenuhi kemolekan tanpa cacat ini. Tapi saya berjanji dalam diri dan berdoa, semoga suatu saat ada peluang datang ke sini lagi.

"Ke Tebing Apparalang sekarang, ya", ajak Bu Rika, memecah lamunan saya.

Saya mengacungkan ibu jari seraya berseru, "Siap, Bu Guru!"

Motor melaju dengan kecepatan sedang. Tidak seperti jalanan yang kami lalui sewaktu ke pantai Tanjung Bira, rute ke Tebing Apparalang kondisi jalan cenderung berkelok-kelok, menanjak, hingga turunan tajam dan bergeronjal. Sungguh memompa jiwa petualang saya yang sedang mekar-mekarnya.

Angin sepoi-sepoi mengibarkan hijab yang saya kenankan. Kurang lebih 30 menit kami sampai ke lokasi wisata yang disebut Tebing Apparalang. Hanya dengan membayar parkir 5000 untuk roda dua dan 10.000 sekelas mobil, pengunjung sudah bisa sepuasnya menikmati pemandangan aduhai di kawasan ini.

Tebing Apparalang ini menampakkan panorama pantai dengan rona biru berpadu tosca serupa Pantai Bira dengan tebing curam dan bebatuan karang menambah pancaran gagah destinasi ini.

Ada sebuah anjungan yang memudahkan pengunjung untuk lebih dekat dan bisa bermesraan langsung dengan jernihnya air laut, cukup menuruni tangga kayu untuk mencapai ke sana. Kita juga dibolehkan terjun berenang, tapi harus hati-hati sebab banyak batu karang tajam yang siap mengenai kaki jika tidak mawas diri.

Kelelahan dan perjuangan selama perjalanan menuju ke tempat ini sungguh terbayar lebih dari sekedar kontan, tapi mendapatkan bonus lebih yakni menikmati alam ciptaan Tuhan yang luar biasa memukau dan sangat menakjubkan secara langsung dan mengabadikannya untuk kenang-kenangan.

Enggan rasanya meninggalkan spot-spot yang di mata saya tidak ada secuilpun nilai minusnya. Tapi apa daya hari yang berangsur gelap memaksa saya segera mengalihkan pandangan dan beranjak pulang. Beberapa bidikan berhasil saya dokumentasikan dan tersimpan rapi di galeri smartphone saya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA