Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 03 Mei 2020 11:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Fort Canning Park Destinasi Singapura Bernuansa Jawa-Bali

Novi Kusumayanti
d'travelers
Foto 1 dari 5
Fort Canning Park
Fort Canning Park
detikTravel Community -

Singapura jadi destinasi wisata favorit bagi warga Indonesia. Bahasa tidak menjadi kendala karena hampir sama serta transportasi umum yang mudah digunakan untuk berkeliling Singapura.

Singapura identik dengan wisata belanja barang-barang bermerk dengan harga yang lebih murah dari pada membeli di Indonesia, berfoto di patung Merlion atau mengunjungi Universal Studio Singapura di Pulau Sentosa.

Singapura tidak membuat saya bosan. Selalu ada tempat yang ingin saya kunjungi di Singapura. Bukan saja tempat yang sedang happening, namun tempat-tempat bersejarah atau sekedar mengunjungi taman kota.

Kunjungan saya kali ini ke Singapura yang mengeksplor Fort Canning Park. Destinasi ini bukan hanya taman di tengah kota yang digunakan untuk berolah raga ataupun piknik, namun juga terdapat tempat bersejarah bagi Singapura.

Sangat mudah untuk mencapai Fort Canning Park. Selain bus umum, MRT pun dapat menjangkau tempat ini dengan turun di beberapa stasiun, yang terdekat adalah stasiun Fort Canning. Sebaiknya sepagi mungkin mengunjungi tempat ini terlebih pada akhir pekan. Selain matahari belum terlalu tinggi, pengunjung pun belum terlalu banyak pada pagi hari sehingga puas berkeliling taman ini.

Fort Canning sendiri telah berganti nama beberapa kali. Dikenal juga dengan nama Forbidden Hill, karena konon menurut hikayat di atas bukit ini berdiri kerajaan Singapura kuno dengan rajanya yang bernama Sang Nila Utama yang berasal dari Palembang (Indonesia). Nama lain dari Fort Canning yang juga terkenal adalah Government Hill, karena pada masa pemerintahan Sir Stamford Raffles, pusat pemerintahan berada di bukit ini.

Jika Anda keluar dari stasiun MRT Fort Canning berjalan sedikit dan menaiki tangga yang cukup melelahkan akhirnya sampai di pancuran larangan (forbidden spring). Replika dari tempat mandi para putri raja dan bangsawan dari Kerajaan Singapura kuno. Karena perpaduan budaya Indonesia dan Eropa, beberapa tempat di taman ini berarsitektur seperti bangunan di Eropa dan Indonesia.

Melanjutkan berkeliling Fort Canning Park dan sampai di replika gerbang Kerajaan Singapura kuno yang dinamakan Gerbang Sang Nila Utama yang mengingatkan saya akan bangunan gerbang di beberapa tempat di Pulau Jawa dan Bali yang dibuat dari tumpukan bata merah.

Istana kerajaan Singapura kuno memang telah hilang dan tidak berbekas namun ditemukan beberapa artefak yang diyakini berkaitan dengan kerajaan ini. Di dekat tempat ini juga terdapat kantor untuk pendaftaran pernikahan. Jadi tak hanya menemukan pasangan calon pengantin yang akan berfoto pre-wedding namun juga tak jarang akan bertemu dengan pengantin dan keluarganya yang akan mendaftarkan pernikahannya.

Sejarah berlanjut pada masa perang dunia pertama dan kedua. Di taman ini terdapat bangunan-bangunan pada masa kolonial Inggris. Sebut saja terdapat rumah Sir Stamford Raffles yang pernah memerintah Singapura dan menjadikan Singapura negara modern.

Terdapat juga tempat pemakaman Kristen bagi para pejabat kolonial Inggris. Pemakaman ini sudah ditutup dan hanya kurang dari sepuluh makam yang tersisa. Yang terlihat jelas hanyalah jejeran nisan yang tertempel di dinding. Juga terdapat hotel Fort Canning yang dulunya digunakan sebagai pusat komando tentara Inggris sebelum pindah ke Battle Box.

Rumah dinas Sir Stamford Raffles dilengkapi dengan menara suar untuk melihat langsung situasi laut yang mengelilingi Singapura. Seperti diketahui, Raffles juga adalah ahli tumbuhan dan di taman ini juga terdapat tanaman yang ditemukan dan dibudidayakan oleh Raffles.

Menyenangkan sekali berjalan di taman ini karena sebagian besar tanaman yang ada juga tumbuh di Indonesia. Sebut saja pohon pala, serai, asam, sirih, salam bahkan pohon mahkota dewa.

Tak hanya di Indonesia, di Singapura pun ada makam yang dikeramatkan. Di dalam taman ini ada makam yang diyakini sebagai makam Sri Sultan Iskandar Syah yang merupakan Sultan terakhir yang memerintah Kerajaan Singapura yang berasal dari Malaysia.

Dan yang terkenal di Fort Canning Park adalah Battle Box yang merupakan pusat komando tentara Inggris pada saat perang dunia kedua yang berlokasi di bawah tanah (bunker). Di mana melalui di tempat inilah Singapura melalui tentara kolonial Inggris menyerah kepada Jepang.

Bunker ini juga dilengkapi dengan pintu keluar rahasia yang pada saat ini hanya ditemukan satu pintu keluar rahasia yang disebut Sally Port. Untuk dapat masuk ke dalam Battle Box, pengunjung diharuskan mengikuti tur berbayar yang jumlah pesertanya dibatasi dan ada jadwal untuk tur setiap harinya.

Dilarang berfoto atau memoto apapun di dalam Battle Box. Di dalam Battle Box terdapat ruangan-ruangan yang difungsikan sebagai ruang rapat, ruang komunikasi dan ruang komando yang dilengkapi dengan penerangan, sirkulasi udara dan kamar mandi.

Untuk membuat Battle Box seperti suasana pada perang dunia kedua, di masing-masing ruangan dibuat diorama dengan patung-patung tentara Inggris dengan berbagai adegan. Tak ada ruginya menurut saya untuk mengikuti tur ini. Diakhir tur, pemandu wisata akan memberikan satu pertanyaan dan satu orang pemenang akan mendapatkan replika surat penyerahan Singapura kepada Jepang (the instrument of surrender).

Rasanya seharian ini saya hanya berkeliling di Fort Canning Park dan waktu sudah beranjak menjelang petang saat saya selesai berkeliling. Fort Canning Park pun sudah sangat ramai dibanjiri para pengunjung baik yang hanya sekedar berfoto ataupun piknik.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA