Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 18 Nov 2019 15:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengeksplorasi Keindahan Banyuwangi di Ujung Timur Pulau Jawa

Yasa Sidik Permana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Sunrise pantai Watu Dodol
Sunrise pantai Watu Dodol
detikTravel Community - Banyuwangi, yang terletak di ujung timur pulau Jawa memiliki ragam destinasi menarik. Berikut pengalaman mengeksplorasi keindahannya.

Banyuwangi memiliki banyak destinasi wisata yang sudah tidak asing ditelinga wisatawan, sebut saja Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Pantai Pulau Merah, Pantai Plengkung, Pantai G-Land dan masih banyak lagi.

Karena rasa tertarik yang teramat besar bercampur dengan rasa penasaran yang sudah tak terbendung lagi, saya mengajak kelima teman yang juga memiliki ketertarikan serupa untuk menuju Banyuwangi. Kami ingin menyaksikan sendiri keindahan Banyuwangi.

Pada perjalanan ini kami mengusung konsep backpacker. Persiapan sudah kami lakukan 1 bulan sebelum hari keberangkatan. Kami gunakan untuk menabung dan membuat rencana perjalanan sedetail mungkin, mulai dari destinasi yang akan dikunjungi, jarak masing-masing destinasi, estimasi biaya, penginapan, rute tiap destinasi, hingga transportasi dari-ke Banyuwangi.

Untuk urusan membeli tiket perjalanan pulang-pergi langsung saya serahkan pada ahlinya, yaitu tiket.com. Dengan membuka website/aplikasinya semua masalah tentang perjalananmu terpecahkan. Cari tiket pesawat, kereta api, hotel, sewa mobil, atau entertainment? Semua tersedia di tiket.com.

Perjalanan kali ini, saya dan teman-teman menaiki KA Sri Tanjung dari Yogyakarta dengan tujuan akhir Stasiun Ketapang Banyuwangi. KA Sri Tanjung menjadi pilihan dengan sejumlah alasan. Selain murah, kereta ini juga satu-satunya yang punya tujuan akhir langsung menuju Banyuwangi, dengan waktu tempuh kurang-lebih 13 jam.

Sesampainya di stasiun akhir Kami langsung mencari penginapan yang sebelumnya juga sudah Kami pesan melalui tiket.com untuk bergegas istirahat. Soalnya, keesokan harinya kami akan memulai perjalanan pukul 04.00 pagi.

Perjalanan mengeksplorasi Banywangi kami mulai dengan mengunjungi Pantai Watu Dodol yang terletak di Kalipuro, atau berada sekitar 5 km di utara pelabuhan Ketapang, tepatnya berada di pinggir jalur Banyuwangi-Situbondo. Akses menuju lokasinya cukup mudah karena letaknya di pinggir jalan penghubung antarkabupaten.

Salah satu sebutan Banyuwangi yang cukup terkenal sendiri adalah The Sunrise of Java. Kenapa? Karena Banyuwangi adalah Kabupaten yang letaknya di ujung timur pulau Jawa. Banyuwangi adalah daerah pertama yang melihat dan terkena sinar matahari terbit di pulau Jawa. Momen The Sunrise of Java ini bisa dinikmati sepanjang pantai di sisi timur dari Banyuwangi, salah satunya adalah pantai Watu Dodol.

Berangkat ketika hari masih gelap agar tak melewatkan momen matahari terbit yang hanya terjadi 1 kali dalam satu hari, petunjuk paling mudah ketika mencari pantai Watu Dodol di sepanjang jalur Banyuwangi-Situbondo adalah adanya batu besar yang terletak di tengah jalan yang memisahkan lajur kiri-kanan. Selain itu ada patung penari Gandrung yang cukup besar membelakangi bibir pantai.

Ketika sudah menemui dua petunjuk ini, tandanya sudah sampai di Pantai Watu Dodol. Tepat di sebelah timur bibir pantai Watu Dodol, membentang lautan luas. Di belakangnya terlihat pula pulau Dewata.

Sampai di lokasi pantai Watu Dodol pukul 5 pagi, kami hanya butuh 30 menit menunggu sang surya menampakkan wujudnya menyinari ujung timur pulau Jawa. Cahaya menyilaukan yang dipancarkan sang Surya meraba kulit kami dan memberikan semangat membara untuk menjalani hari. Seketika langit dan laut berwarna oranye kekuningan karena pantulan cahaya matahari. Tak ingin kehilangan momen yang singkat ini, kami bergegas mengambil kamera dan mengabadikan indahnya The Sunrise of Java yang sungguh memesona.

Usai puas mengabadikan momen indahnya matahari terbit, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Bangsring yang terletak di Dusun Krajan, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Lokasinya hanya sekitar 20 menit berkendara ke arah utara dari Pantai Watu Dodol.

Kami tiba di pantai Bangsring jam 7 pagi. Agenda di pantai Bangsring adalah snorkeling melihat indahnya terumbu karang sekaligus berenang bersama ratusan ikan. Keunikan dari pantai Bangsring adalah adanya rumah apung yang terletak sekitar 50 meter dari bibir pantai. Rumah apung berukuran 7m x 27m ini menjadi lokasi pengunjung ketika ingin melakukan aktivitas snorkeling. Di area rumah apung ini juga terdapat dua keranda yang difungsikan sebagai penangkaran hiu.

Keunikan pantai Bangsring tak habis di situ saja, karena dari rumah apung kita bisa melihat bibir pantai Bangsring yang sangat rupawan, ditambah dengan kegagahan Gunung Ijen jauh di belakangnya walaupun tetap terasa dekat. Keindahan dalam air pantai Bangsring pun sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ratusan ikan berbagai spesies dan bermacam jenis terumbu karang akan memanjakan panca indera pengunjung. Ombak yang relatif kecil di pantai Bangsring turut membuat aktivitas snorkeling menjadi lebih mudah dilakukan, termasuk untuk orang awam seperti kami sekalipun.

Setelah 90 menit puas menikmati keindahan bawah air Pantai Bangsring, kami menuju Taman Nasional Baluran yang terkenal dengan sebutan Little Africa in Java. TN Baluran adalah kawasan pelestarian alam seluas 25.000Ha yang mempunyai ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Secara geografis, Taman Nasional Baluran terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, dan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Pintu/loket masuk TN Baluran berada di wilayah Kabupaten Situbondo dan beberapa zona di dalamnya ada yang ikut Kabupaten Situbondo dan sebagian lagi masuk Kabupaten Banyuwangi. Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun.

TN baluran memiliki beberapa zona yang populer di kalangan pengunjung. Tentu saja Gunung Baluran itu sendiri terlihat dari berbagai sisi. Selain itu ada Hutan Evergreen, Savana Bekol, Tengkorak Banteng, Pantai Bama, Kramat Kajang, Goa Jepang, Teluk Air Tawar, dan masih banyak lainnya. Kala itu kami singgah di Savana Bekol dan Pantai Bama.

Salah satu alasan kenapa TN Baluran disebut Little Africa in Java adalah karena kemegahan savana Bekol yang luasnya mencapai 10.000Ha atau 40% dari luas keseluruhan TN Baluran. Savana Bekol adalah savana terluas yang dimiliki Pulau Jawa sehingga tidak salah jika sebutan Little Africa in Java melekat pada TN Baluran. Ketika berkunjung ke TN Baluran, kita akan menemui berbagai satwa, seperti monyet ekor panjang, Banteng, Rusa, Merak, aneka burung dengan berbagai jenis, dan masih banyak satwa lainnya.

Puas mengeksplorasi bagian utara Banyuwangi pada hari pertama, kami kemudian memacu kendaraan sejauh 85 km ke arah barat daya menuju Gunung Raung yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga para pendaki. Gunung ini punya jalur pendakian yang menantang.

Namun, kami tidak akan mendaki. Kami hanya berada di kaki gunung saja demi menikmati keindahan air terjun Telunjuk Dewa Raung yang terletak di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Tidak hanya air terjun Telunjuk Dewa Raung, Kecamatan Songgon juga memiliki banyak sekali potensi air terjun yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri, seperti air terjun Linder, Pertemon, Giri Asih, Selendang Arum, dan air terjun Glugo.

Air terjun Telunjuk Dewa Raung berada di tengah rimbunnya belantara. Untuk mencapai lokasi ini kita harus trekking terlebih dahulu sekitar 20 menit menuruni bukit dan melewati aliran sungai.

Air terjun Telunjuk Dewa Raung punya ketinggian sekitar 20 meter dengan volume air sangat deras. Air yang jatuh mengeluarkan suara gemuruh dan cipratan airnya terbawa angin hingga puluhan meter. Bentuk air yang jatuh menyerupai jari telunjuk yang sedang menunjuk ke atas. Itu membuatnya dinamai air terjun Telunjuk Dewa Raung, karena memang letaknya berada di kaki gunung Raung.

Selain air terjun utama, di area air terjun Telunjuk Dewa Raung juga terdapat grojogan setinggi 1,5 meter dengan kolam besar tepat di depannya. Area ini biasa digunakan untuk bermain air oleh pengunjung. Air terjun Telunjuk Dewa Raung memiliki segudang cerita. Salah seorang warga yang tidak sengaja kami temui di lokasi air terjun bercerita banyak tentang legenda dari air terjun Telunjuk Dewa Raung. Kami senang karena perjalanan ini tidak hanya tentang menikmati keindahan alam saja, tetapi ada pengetahuan lebih dan pengalaman baru yang kami dapat dari orang-orang di sekitar lokasi wisata.

Area selatan Banyuwangi menjadi tujuan di hari terakhir kami dalam mengeksplorasi keindahan Banyuwangi. Kami menuju pantai Pulau Merah dan Teluk Hijau/Green bay yang berada didalam area TN Meru Betiri.

Pantai Pulau Merah terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggrahan, Kabupaten Banyuwangi. Lokasinya berada di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, atau sekitar 70 km dari pusat kota Banyuwangi. Yang membedakan pantai Pulau Merah dengan kebanyakan pantai lain adalah adanya bukit kecil yang terletak beberapa meter dari bibir pantai.

Bukit yang menjadi ikon dari pantai Pulau Merah ini bisa kita datangi ketika air laut sedang surut. Daya tarik pantai Pulau Merah adalah ombak yang bergulung-gulung dan garis pantai yang cukup panjang, yakni 3 km. Hal itu bikin pantai ini bisa menampung banyak wisatawan dalam satu waktu. Bagi yang punya hobby berselancar, pantai Pulau Merah adalah salah satu destinasi yang wajib dikunjungi selain pantai Plengkung dan pulau Tabuhan. Bahkan kompetisi selancar beberapa kali diadakan di pantai Pulau Merah.

Destinasi selanjutnya adalah Green Bay atau bisa juga disebut Teluk Hijau. Untuk mencapai Green Bay/Teluk Hijau membutuhkan perjuangan ekstra dikarenakan akses menuju lokasi yang cukup berat dan menguras tenaga.

Dari gerbang masuk TN Meru Betiri menuju area parkir, kami harus memacu kendaraan melewati jalan terjal dan menanjak yang cukup sulit dilewati. Tidak berhenti sampai situ, kami berikutnya harus trekking sekitar 40 menit membelah perbukitan dengan trek naik- turun sehingga keringat tidak berhenti mengucur. Setelah trekking cukup lama dengan mengikuti papan petunjuk yang tersebar di beberapa titik, sampailah kami di Green Bay/Teluk Hijau.

Keindahan yang kami lihat seolah tidak nyata karena nyaris mendekati sempurna. Bahkan kata-kata pun sulit menggambarkan betapa cantiknya tempat ini, yang bagaikan sebuah surga tersembunyi dengan panorama yang mampu menyihir siapapun dengan keindahannya. Perpaduan hijaunya pepohonan, pasir putih, deburan ombah yang bersahutan, dan langit cerah berwarna biru menjadikan Green Bay begitu memesona. Tak heran jika Green Bay menjadi destinasi favorit dan kerap dikunjungi wisatawan meski akses menuju lokasinya tidak mudah.

Dalam kesempatan yang cukup terbatas, kami bisa mengunjungi beberapa destinasi di Banyuwangi. Masing-masing destinasi memberi kami pengalaman, pelajaran, dan cerita yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Jika masih diberikan kesempatan, suatu hari saya ingin kembali menginjakkan kaki di Banyuwangi untuk mengunjungi beberapa destinasi lainnya yang pastinya tidak kalah menarik.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA