Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 05 Des 2019 14:44 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ritual Penyucian Arwah Leluhur dari Suku Tengger

Nadya Gadzali
d'travelers
Foto 1 dari 5
Rakan Tawang
Rakan Tawang
detikTravel Community - Suku Tengger di Gunung Bromo punya sebuah ritual bernama Entas-entas. Ritual ini terus khusus untuk menyucikan arwah leluhur.

Bromo tidak hanya dikenal dengan Bukit Pananjakan yang saban dini hari dipadati oleh para pemburu matahari. Tidak pula hanya menampakkan diri lewat dramatisnya pasir berbisik di Segara Wedi.

Sebab takhta Brahma di gugus pegunungan Jawa Timur itu juga menawarkan pilihan untuk bersukacita dalam rekreasi, sekaligus menjadi tempat yang tepat untuk mencerap magisnya tradisi.

Keistimewaan yang melekat pada destinasi wisata ikonik ini salah satunya dapat dijumpai di sebuah desa bernama Sedaeng. Meski dingin dari sentuhan para pelancong, masyarakat adat Suku Tengger yang mendiami Desa Sedaeng senantiasa tetap menghimpun kekuatan untuk bergeliat dalam aneka gelaran ritual adat, di antaranya adalah Entas-entas.

Ritus penyucian arwah leluhur yang sarat akan nuansa magis. Tradisi yang juga dikenal dengan istilah nyewu ini ditengarai merupakan upacara adat paling sakral dalam tingkatan ritual penghormatan terhadap Sitiderma, leluhur Suku Tengger.

Terkecuali Yadnya Kasada yang mahsyur, perhelatan Suku Tengger lainnya memang masih tersembunyi diantara riuh rendah jagat pariwisata Bromo. Sedangkan Desa Sedaeng yang termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Pasuruan ini sebenarnya dapat dicapai dengan menempuh Kecamatan Tosari.

Namun rimbunnya pepohonan serta areal perkebunan yang mendominasi di kiri dan kanan jalan membuat jalur ini tak begitu banyak dilintasi pelancong pada malam hari karena alasan keamanan. Agaknya hal ini juga yang membuat peradaban maju dan modernisasi seolah hanya memercik saja di tempat ini. Membuat warga Desa Sedaeng nampak selalu percaya diri dalam memelihara otentisitas tradisi.

Prosesi diawali dengan sejumlah sesaji yang ditempatkan di arena ritual. Tahun ini, Entas-entas jatuh pada bulan Agustus berdasarkan penentuan tanggal yang disepakati oleh para Dukun Adat.

Udara dingin berhembus di plataran Balai Desa. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Lebih dari seratus arwah leluhur akan dientas. Dimulai dengan Rakan Tawang sebagai ritual penjemputan Sitiderma.

Ritual pembuka di hari pertama gelaran Entas-entas ini berlangsung khidmat dalam rapalan mantra yang berkelindan dengan aroma kemenyan.

Serupa dengan upacara Ngaben di Pulau Dewata, Bali, Entas-entas juga ditujukan untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).

Tradisi ini tidak terlepas dari gagasan tentang kematian menurut penganut Hindu Dharma, yaitu adanya semacam dunia peralihan bagi arwah-arwah yang belum diswargakan oleh anggota keluarga yang masih hidup.

Robert W. Hefner dalam bukunya, Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, mengatakan bahwa Suku Tengger merupakan keturunan langsung dari pengungsi Kerajaan Majapahit. Invasi kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah pada abad ke-16, membuat sebagian masyarakat Majapahit menyelamatkan diri ke Pulau Bali, sementara sebagian lainnya mengungsi ke kawasan pegunungan di Jawa Timur.

Sedangkan asal usul nama Tengger menurut legenda setempat merupakan gabungan penggalan nama Roro Anteng dan Joko Seger, putri petinggi Majapahit dan putra seorang Brahmana yang juga ikut berpindah ke kawasan isolir Gunung Bromo. Berbeda dengan pemeluk Hindu di Pulau Bali, Suku Tengger memutuskan untuk tidak menerapkan sistem kasta.

Masyarakat adat Suku Tengger terilhami oleh alam sekitarnya. Terlihat dengan digunakannya Kulak atau bilah bambu untuk menampung benda-benda yang melambangkan kesejahteraan seperti beras dan uang.

Belum lagi ritual penyembelihan hewan ternak dan arak-arakan boneka Petra ke lokasi kremasi dengan total durasi pelaksanaan upacara: tiga hari tiga malam. Maka tak heran jika upacara adat Entas-entas sanggup menghabiskan biaya sekira harga satu unit kendaraan SUV terbaru.

Keesokan harinya, ritual penyembelihan hewan ternak dilaksanakan di ruang terbuka. Letaknya berbatasan langsung dengan areal perkebunan warga. Sekilas, ritus yang melibatkan darah dan pengorbanan ini kontradiktif dengan lanskap Tengger yang bersahaja.

Namun bagi warga setempat, tentu saja ritus ini memiliki makna yang sakral. Selain bertujuan agar kehidupan manusia terhindar dari malapetaka, Suku Tengger meyakini bahwa setiap laku ritual adalah pengejawantahan hubungan spiritual antara manusia, alam dan Sang Pencipta.

"Sitiderma itu dulunya juga manusia. Mereka menjalani hidup seperti kita. Makan, minum, berduka dan bergembira layaknya manusia lainnya. Jika belum diswargakan, mereka harus diberikan penghiburan," ujar salah seorang Dukun Adat.

Tibalah pada puncak ritus di hari ke-3 gelaran Entas-entas. Saat hari beranjak petang, alat musik tradisional mulai berkumandang. Mengiringi langkah para peziarah menuju punden tempat jenazah dikremasikan.

Boneka Petra yang ditempatkan di atas altar pun diarak bersamaan. Salah satu perbedaan yang cukup signifikan dengan upacara Ngaben di Pulau Bali—dalam Entas-entas, boneka Petra dihadirkan hanya sebagai simbol. Sementara jasad yang sesungguhnya tetap bersemayam di pemakaman.

Entas-entas adalah kesadaran spiritual pemeluk Hindu Dharma untuk menyempurnakan arwah pada unsur-unsur penyusun siklus hidup-mati manusia, diantaranya adalah tanah, kayu dan api. Tanah adalah makam tempat jasad dikebumikan, sementara kayu adalah nisan yang ditancapkan di atas kuburan, dan api adalah upacara kremasi.

Mengikuti serangkaian upacara Entas-entas, agaknya membuat imaji tentang ritus yang eksotis seketika tergenapi. Ritual yang sarat akan akulturasi tradisi Hindu dan keyakinan lokal Suku Tengger ini adalah satu bukti bahwa tradisi bukanlah mahakarya yang dipahat untuk kemudian keindahannya ditutup rapat-rapat.

Ia sejatinya tercipta untuk mengilhami para pelestari serta melengkapi ragam tabiat sinkretik yang dimiliki negeri ini. Begitulah agaknya, wujud harmoni Hindu Dharma dan keyakinan lokal di lereng Gunung Bromo.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA