Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 13 Des 2019 14:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Budaya Wala Sebagai Identitas Suku Matbat di Raja Ampat

Abi Awin J.Macap
d'travelers
Foto 1 dari 5
Suku matbat saat menampilkan tari Wala,Foto:Abi
Suku matbat saat menampilkan tari Wala,Foto:Abi
detikTravel Community - Raja Ampat-Nyaris punah termakan zaman,akhirnya budaya 'Wala' dalam tradisi suku matbat atau suku asli di Misool kini ditetapkan oleh,kementerian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia sebagai warisan budaya nasional.

Pengakuan Wala sebagai budaya nasional tersebut telah dituangkan dalam bentuk sertifikat yang ditandangani oleh menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia,Prof.Dr.Effendy Muhadjir,di Jakarta Pada Tanggal 08 Oktober 2019.

Sertifikat Wala sebagai warisan budaya nasional itu diserahkan secara simbolis oleh,Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati,SE,kepda kepala suku matbat Alexander mom,pada acara penutupan festival pesona Misool dikampung harapan jaya,distrik Misool Selatan,Minggu (25/11) beberapa hari yang lalu.


dihimpun dari berbagai sumber bahwa,Wala adalah tradisi lisan berupa nyanyian yang dibawakan dengan gerakan tari dalam budaya orang Matbat, suku asli di Misool pada waktu tertentu.

Mayoritas masyarakat Misool secara luas mengenal wala sebagai'lan batan o' atau lagu tanah yang menceritakan tentang asal usul 'Batan Me' atau lahirnya pulau Misool dan asal usul persebaran kehidupan orang Matbat dengan segala bentuk peristiwa yang mereka alami.

Selain berisikan Tarian dan nyanyian,Wala bagi orang Matbat merupakan sesuatu yang dianggap sakral karena dalam lantunan nyanyian yang didengungkan memiliki pesan-pesan yang berkaitan dengan ritual sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Praktek ritual adat Wala seringkali dikaitkan dengan suasana pesta.
Tetapi pada hakekatnya, nilai relijus sangat jelas dilihat dan dirasakan
oleh peserta,

Untuk pesta yang mementaskan tarian tersebut dibutuhkan untuk tertib dan tidak saling mengganggu anatar sesama peserta.

Akselerasi hentakan kaki dan nyanyian yang dituturkan dengan irama
yang harmonis adalah suatu hiburan namun penuh penghayatan,hal tersebut dipercaya
dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan dan menciptakan
kerukunan yang luar biasa dalam kehidupan sosial orang yang berasal dari suku Matbat.

Pada zaman ini budaya Wala nuaris hilang oleh zaman,Para pelaku ataupun
penutur dari tarian tersebut kini berlahan berkurang.hal tersebut lah yang
mendorong pemerintah provinsi Papua Barat mencanangkan pemusatan
karya budaya Wala di Misool dengan mengusulkan Wala untuk menjadi
Warisan Budaya Nasional.

berkat usaha dari pihak-pihak tertentu, akhirnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan republik Indonesia dapat menerima usulan tersebut yang kemudian tari wala ditetapkan sebagai warisan kebudayaan nasional.

Terkait hal tersebut,Abie Awin J Macap,salah satu pemudah yang masih memiliki darah matbat, mengaku terharu dengan ditetapkan Budaya wala sebagai warisan nasional.

"Saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah berupaya untuk mengusulkan budaya Wala yang hampir hilang ini ke kementerian , sehingga hari ini wala bisa dikembangkan kembali dan dimasukkan menjadi warisan budaya nasional."

Abie juga menambahkan bahwa,budaya Wala merupakan identitas masyarakat suku matbat,dengan adanya budaya ini sehingga suku matbat berbeda dengan suku suku lainya di kepulauan raja Ampat.ujarnya
BERITA TERKAIT
BACA JUGA