Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 13 Jan 2020 13:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ziarah Ke Makam Cheng Ho

RASYUHDI
d'travelers
Foto 1 dari 5
Dok pribadi perjalanan ke makam Cheng Ho
Dok pribadi perjalanan ke makam Cheng Ho
detikTravel Community - Siapa yang tak kenal Cheng Ho? Tokoh paling populer dari China yang juga punya jejak di Indonesia. Mari melihat dan ziarah ke makamnya.

Pada hari kamis tepatnya (09/01/2020) saya kedatangan teman lama Indonesia dari Shanghai untuk pergi berkunjung ke kota tempat saya belajar di kota Nanjing, tentunya dia punya tujuan tertentu seperti mengunjungi tempat bersejarah di kota yang dulunya menjadi ibu kota China. Dengan senang hati saya mengajak ke Makam Cheng Ho, yang saat ini masih jarang orang ketahui bahwasanya pemakaman beliau berada di daerah Niushoushan, kota Nanjing, Provinsi Jiangsu.

Sebagaimana yang masyhur dalam sejarah kita, Cheng Ho pada zaman Dinasti Ming (1368-1644) di perintahkan untuk berlayar keluar daerah China yang pada awalnya bertujuan mencari jejak kaisar Jian Wen, kaisar yang baru di gulingkan pada masanya. Tetapi di tengah pencarian mereka punya tujuan lain, yaitu ingin memperkenalkan China kepada dunia luar dalam bidang politik maupun budaya daratan China.

Cheng Ho pada 1405 M, merupakan salah satu 'Panglima Tertinggi yang Bertanggung Jawab', memimpin armada pelayaran besar melalui titah dari Ming Chengzu Zhu Xi dan berlayar keluar dari Liujiagang di Taicang, Jiangsu.

Banyak pula sejarawan mencatat bahwa perjalanan ekspedisi Cheng Ho seperti catatan pada buku Terada-Takanabu karya pemuda Jepang, tujuh kali pelayaran Cheng Ho pernah disebut sebagai 'Ekspedisi Cheng Ho ke barat' atau 'Ekspedisi Cheng Ho ke laut selatan' dan lain-lainnya. Sebutan tersebut seolah-olah memberi suatu kesan perjalanan Cheng Ho tak lain bertujuan sebagai operasi militer semata.

Menuju Makam Cheng Ho

Perjalanan menuju makam Cheng Ho sangat mudah di tempuh dengan angkutan umum dan tarifnya masih bisa di bilang cocok untuk kantong mahasiswa. Menuju arah niushoushan (makam Cheng Ho) bisa di tempuh dengan dua cara, menggunakan angkutan umum ataupun menggunakan kereta bawah tanah yang di sediakan oleh pemerintah setepat. Akan tetapi dari jalan raya kita masih harus berjalan kaki sekitar 800 meter ke dalam area pemakaman.

Makam Cheng Ho tersebut masih berada di satu lokasi dengan destinasi yang sangat populer (niushoushan) di kota Nanjing, maka setiap orang yang masuk harus membeli tiket sekitar 88 RMB atau sekitaran Rp 180.000 kalau di Indonesia, dan lagi area pemakaman tersebut juga masih banyak di kunjungi oleh para wisatawan lokal maupun asing yang yang berada di China. Jika kalian adalah mahasiswa China ataupun mahasiswa internasional yang sedang menempuh pendidikan di China kalian akan mendapatkan potongan harga sekitar 50%, dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa.

Beda lagi dengan orang Muslim, awalnya saya tidak tahu kalau area pemakaman tersebut di dalam destinasi wisata, oleh karena itu hampir saja kita membatalkan rencana untuk masuk berziarah ke makam Cheng Ho. Akan tetapi saya memberanikan bertanya kepada Bao An (penjaga di sana) kalau cara masuk kedalam bagaimana, dan akhirnya saya pun bilang kalau saya ini adalah seorang muslim taat yang ingin berziarah. Akhirnya selang beberapa menit saya pun dibolehkan masuk tanpa harus membayar tiket karena kata si penjaga karena saya itu adalah seorang muslim.

Ketentuan dari pemerintah setempat setiap warga muslim yang ingin berkunjung ke makam Cheng Ho meskipun area tersebut adalah destinasi wisata di China yang berbayar, akan tetapi kita khusus muslim masih mendapatkan kemudahan dengan tanpa harus membeli tiket seperti warga lainnya. Dari sinipun nalar saya kepada toleransi yang di bangun China semakin bangga.

Bukan Hanya Tentang Makam

Ada sekitar empat penjaga di sana dan salah satunya bersedia menjadi pemandu kami dalam perjalan menuju Pemakaman Cheng Ho, meskipun sang penjaga berpakaian seperti Polisi China tetapi mereka dengan sangat profesional memandu kita menuju tempat pemakaman. Walaupun kami tidak mengeluarkan uang untuk membeli tiket atau membayar pemandu tersebut.

Di makam Cheng Ho kami membaca surat Al-Fatihah dengan berkeyakinan beliau adalah seorang muslim yang kaffah, karena di makam beliau juga tertulis lafadz basmalah dengan kaligrafi yang sangat indah, meskipun ada beberapa orang yang masih meragukan kalau Cheng Ho itu adalah adalah seorang muslim.

Selepas berziarah dari pemakaman Cheng Ho, kami di arahkan ke museum di daerah pemakaman. Dis ana saya banyak melihat benda-benda peninggalan laksamana Cheng Ho. Tapi, saya lebih tertuju kepada mading yang menunjukkan beberapa Negara yang sudah berkunjung ke makam tersebut dan tengah menjalin kerjasama dengan pihak setempat, akan tetapi disana saya tidak melihat Negara Indonesia, yang ada hanyalah negara tetangga (Malaysia).
BERITA TERKAIT
BACA JUGA