Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 28 Feb 2020 10:24 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cobain Nih Wisata Kuliner Ekstrem Papua, Insonem

Liberius Pajo
d'travelers
Foto 1 dari 5
Masyarakat Kampung Dorekhar, Distrik Ayau sedang menggali pasir putih mencari insonem/cacing laut
Masyarakat Kampung Dorekhar, Distrik Ayau sedang menggali pasir putih mencari insonem/cacing laut
detikTravel Community - Papua punya segudang wisata kuliner unik yang bisa dicoba. Salah satunya adalah insonem, yaitu makan cacing laut!

Raja Ampat merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Papua Barat. 09 Mei 2003, lahir sebagai Daerah Otonomi Baru. Wilayah administrasinya terbagi atas 117 Kampung/Desa, 24 Distrik/Kecamatan dan 4 Kelurahan.

Luas wilayah 46. 108 Kilometer persegi dan hampir 82 persen wilayahnya perairan laut. Panjang garis pantainya mencapai 4. 860 km. Namun penghuninya hanya sekitar 60.000 jiwa di 35 pulau dari 2713 pulau yang ada.

Kabupaten yang dijuluki Negeri Bahari ini memiliki potensi sumber daya alam yang kaya khususnya pada sektor Kelautan, Perikanan dan Pariwisata.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Gerry Allen, Peneliti dari Departmen of Aquatic Zoology, Western Australian Museum dan Mark Erdmann, peneliti Conservation International Indonesia Marine Program, antara tahun 2002 hingga 2006 di perairan Raja Ampat ditemukan 1074 jenis ikan, 537 jenis karang. Jumlah ini menunjukkan bahwa Raja Ampat merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia.

Selain potensi perikanannya yang kaya, perairan laut Raja Ampat juga memiliki potensi cacing laut atau oleh masyarakat setempat menyebut Insonem. Cacing laut ini tersebar di pantai utara Raja Ampat yaitu di Distrik Ayau dan Distrik Kepulauan Ayau, di mana kedua Distrik tersebut merupakan wilayah terdepan Indonesia karena berbatasan langsung dengan Negara Republik federal Palau.

Insonem merupakan cacing putih Panjang, besarnya seukuran jari-jari tangan dengan panjang 30 hingga 40 cm.

Sejak dahulu kala cacing laut/insonem ini dijadikan salah satu makanan khas masyarakat Raja Ampat khususnya yang mendiami wilayah Pantura Raja Ampat. Karena itu, dalam masyarakat Pantura juga memiliki tradisi berburu Insonem.

Biasanya dilakukan pada siang hari atau malam hari pada saat air laut surut. Insonem hidup pada pasir putih Raja Ampat, karena itu ia berbeda dengan cacing tanah/darat yang terkenal kotor itu. Warnanya putih dan perutnya terisi pasir putih.

Cara pengolahannya pun mudah. Insonem yang sudah ditangkap lalu dibersihkan. Perutnya dibela mengeluarkan pasir kemudian dikeringkan. Ada dua Teknik pengeringan atau asar. Pertama, menggunakan asap, biasanya masyarakat membakar tempurung kelapa sehingga menimbulkan asap, lalu insonem diletakan di atas para-para (tempat pengeringan terbuat dari kayu atau pelepah kelapa)

Kedua, menggunakan sinar matahari. Insonem dijemur dengan cuaca Pantura yang sangat panas tentunya proses pengeringan sangatlah cepat. Jika sudah kering/garing maka insonem siap dimakan atau bisa juga digoreng lagi sehingga lebih garing lagi. Insonem yang sudah kering ini juga bisa bertahan lama, tidak akan busuk.

Masyarakat Ayau biasanya mengkonsumsi insonem dengan sinole kelapa, sagu, singkong rebus, pisang rebus, petatas rebus,nasi dan sebagai cemilan.

Jika berkunjung ke Pantura Raja Ampat (Distrik Ayau dan Distrik Kepulauan Ayau) maka kita dengan mudah menemukan dan menikmati insonem. Selain itu juga bisa kita temukan saat Festival Bahari Raja Ampat, juga di pasar Waisai ibukota Kabupaten Raja Ampat dan Kota Sorong. Kini insonem telah dijadikan kuliner khas Raja Ampat.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA