Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 24 Mei 2020 16:54 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Konon Ini Bangsal Tertua di Yogyakarta

Hosea Louis
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pintu masuk Bangsal Kamandungan Kidul
Pintu masuk Bangsal Kamandungan Kidul
detikTravel Community -

Bangsal Kamandungan, sebuah bangunan tua yang sudah ditinggalkan. Meski begitu bangsal ini memiliki peranan penting dalam sejarah.

Berkunjung ke Yogyakarta tak akan lengkap tanpa berkunjung dan menelisik wisata sejarahnya, Kawasan Keraton Yogyakarta menyimpan sejuta nilai historis dan filosofis yang menarik untuk dipelajari atau hanya sekadar diketahui.

Salah satu tempat menarik yang kaya dengan filosofinya adalah Bangsal Kamandungan Kidul, yang terletak di sebelah utara Gedung Sasonohinggil Dwi Abad, Alun Alun Selatan.

Mungkin beberapa dari kita pernah mendengar istilah Sumbu Imajiner atau Garis Imajiner yang membentang lurus melewati beberapa titik di Kota Yogyakarta, yakni Pantai Selatan – Panggung Krapyak Tugu Golong Gilig (Du White Pal), Gunung Merapi.

Bangsal Kamandungan sendiri berada diantara dua titik yakni Panggung Krapyak Tugu. Sri Sultan HB I yang pada masa itu masih menjabat sebagai Pangeran Mangkubumi, merancang semua arsitektur Kota Yogyakarta termasuk rancangan kawasan keraton dan tentunya Bangsal Kamandungan Kidul ini.

Konon katanya, Bangsal Kamandungan merupakan bangsal tertua di Yogyakarta yang pertama kali diboyong pada saat Pangeran Mangkubumi berperang melawan VOC.

"Kamandungan dalam Jawa Kuno berarti Kandungan," ujar Didit, yang adalah seorang Abdi Dalem Keraton.

Makna ini berkesinambungan dengan filosofi perjalanan hidup manusia berdasarkan garis imajiner. Terdapat jalan menuju pintu masuk Bangsal Kamandungan yang melambangkan rahim wanita. Di dalam rahim tersebut Sang Jabang Bayi mulai diberikan pilihan dan godaan yang dilambangkan dengan dua pintu disamping kiri dan kanan Bangsal, dimana pintu timur adalah kejahatan, dan pintu barat adalah kebaikan mengacu pada kiblat.

Dahulu, bangsal ini berfungsi sebagai tempat gladhi perang para prajurit pada masa pemerintahan HB I sampai dengan HB II.

Namun sayangnya, saat ini kondisi Bangsal Kamandungan cukup memprihatinkan. Bangunan ini nampak kurang baik terawat karena perawatan dan renovasi secara rutin diprioritaskan pada bagian bangunan lain yang menjadi prioritas para wisatawan.

Didit menambahkan, bahwa bentuk perawatan yang diberikan sedikit berbeda tanpa adanya maksud mengesampingkan atau mengurangi rasa hormat pada tempat bersejarah ini.

Untuk sekadar berkunjung dan berfoto disini, sama sekali tidak dikenakan biaya apapun, namun nilai-nilai filosofis yang didapatkan di tempat ini jauh lebih mahal bila tidak dilewatkan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA