Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 03 Jul 2020 18:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Sabana Gunung Lawu via Candi Cetho

Foto 1 dari 5
Pemandangan saban yang memanjakan mata
Pemandangan saban yang memanjakan mata
detikTravel Community -

Gunung Lawu telah kembali dibuka. Traveler pun bisa kembali melihat sabananya yang indah.

Terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gunung Lawu menjadi gunung tertinggi ke-6 di Pulau Jawa. Gunung ini sering menjadi pilihan bagi pendaki pemula yang baru pertama kali naik gunung.

Untuk dapat mencapai puncak Gunung Lawu, kita dapat melalui beberapa jalur resmi yang telah disediakan antara lain Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, dan Candi Cetho. Dari ketiga jalur tersebut, Candi Cetho menjadi jalur yang sekarang diminati oleh para pendaki karena melalui jalur inilah kita dapat melewati sabana.

Meskipun dikenal sebagai gunung yang ramah bagi pendaki baru, bukan berarti jalur yang dilalui akan mudah. Untuk menaklukkan Gunung Lawu via Candi Cetho kita harus melewati 5 pos, dengan beberapa pos yang memiliki jalur ekstrim yang terjal dan menanjak.

Sebelum kita mulai melakukan pendakian, kita akan melewati basecamp. Di sini kita diwajibkan menulis data diri dan juga membayar uang retribusi Rp 15.000 per orang. Selain agar memberikan rasa aman pada pendaki, hal tersebut juga perlu supaya jika terjadi sesuatu yang darurat tim penyelamat dapat segera memberikan pertolongan.

Setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan dari basecamp menuju pos pertama. Dalam perjalanan tersebut kita akan melalui jalur yang landai dan kita juga akan melewati sebuah candi yang bernama Candi Ketek. Untuk sampai pos pertama hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.

Menuju pos kedua, kondisi jalur yang dilalui mulai rapat dan dikelilingi pohon-pohon. Di sini, Pendaki akan mulai merasakan jalan yang sedikit menanjak. Berbeda dengan perjalanan menuju ke pos pertama, perjalanan menuju pos kedua membutuhkan waktu sedikit lama dengan jarak tempuh sekitar 1 km. Setelah sampai di pos dua, pendaki dapat beristirahat di shelter yang telah disediakan.

Untuk dapat mengisi kembali persediaan air, terlebih dahulu pendaki harus melanjutkan perjalanan menuju pos ketiga. Di sana terdapat mata air dan juga tempat istirahat. Meskipun jalan yang dilalui tidak terlalu panjang.

Dibutuhkan waktu sekitar 90 menit. Karena kondisi jalur yang mulai terjal dan menanjak biasanya membuat pendaki lebih cepat lelah. Meskipun terdapat mata air, pendaki tidak disarankan membangun tenda lokasi tersebut merupakan jalur aliran air dari atas gunung, sehingga jika terjadi hujan cukup berbahaya bagi pendaki.

Untuk mendirikan sebuah tenda, pendaki disarankan mendirikan pada pos 4 yang berada di ketinggian 2.550 mdpl. Selain terdapat shelter, disana juga disediakan lahan yang cukup untuk 2 - 4 tenda. Di sini juga biasanya pendaki akan melakukan summit attack atau bermalam sebelum esok hari menuju puncak.

Namun, sebelum itu pendaki harus melalui jalur yang sangat menanjak dengan jalur yang dikelilingi pohon pinus. Medan yang dilalui untuk menuju pos ini juga dianggap menjadi medan yang paling menguras tenaga bagi pendaki pemula terutama. Tidak hanya medan yang ekstrim, pendaki juga akan dihadapkan dengan suhu dingin dibawah 10 derajat celsius pada malam hari.

Setelah berkemah di pos 4, keesokan harinya para pendaki yang akan menuju puncak dapat membawa barang seperlunya menggunakan tas kecil. Ini dilakukan agar beban yang dibawa tidak terlalu berat sehingga tenaga pendaki tidak terlalu terkuras.

Sebelum menuju puncak, pendaki akan melewati pos 5 yang disebut bulak peperangan. Biasanya pendaki dari pos 4 akan berjumpa dengan pendaki lain yang memilih berkemah di tempat tersebut. Bulak peperangan merupakan sabana pertama yang akan kita jumpai di lawu jika melalui jalur Candi Cetho.

Jalan yang dilalui sangat landai dan memanjakan pendaki. Di sekelilingnya, pendaki disuguhi pemandangan vegatasi dan juga pohon pinus besar yang berjejer rapi. Selain itu, kita akan menjumpai tanaman edelwais yang hanya dapat kita jumpai di pegunungan tinggi. Tentunya tanaman ini tidak boleh dipetik atau dirusak oleh pendaki.

Menariknya di Gunung lawu, jika kita beruntung kita akan dituntun oleh burung jalak yang konon kabarnya merupakan pertanda baik dan menunjukkan jalan yang benar jika kita memiliki niat yang baik.

Menuju ke puncak, dari pos 5 menuju puncak yang disebut Hargo Dumilah. Mata pendaki akan dimanjakan oleh indahnya sabana kedua yang tidak kalah cantik dengan sabana pertama. Berada di sabana ini membuat rasa lelah kita terbayarkan dengan pemandangan yang disajikan. Di sini kita dapat mengabadikan momen berlatar sabana yang sangat luas. Di tempat ini juga kita akan menemukan sebuah telaga kecil yang jika musim hujan akan terisi oleh air.

Untuk dapat sampai puncak Gunung Lawu yang disebut Hargo Dumilah, kita hanya membutuhkan waktu sekitar 90 menit dari pos 5. Namun sebelum sampai ke sana, rasanya tidak lengkap jika ke puncak Lawu tidak mampir ke warung legendaris satu ini.

Di tengah perjalanan, kita akan melewati sebuah warung milik Mbok Yem. Di sini kita dapat beristirahat dan juga memesan makanan. Selain itu, kita juga dapat berkenalan dengan pendaki lain yang tiba lebih dulu di warung Mbok Yem.

Setelah mengisi tenaga di warung Mbok Yem, pendaki dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah. Medan menuju puncak memiliki jalur menanjak dan berbatu. Pendaki harus berhati-hati di sini, karena batu yang terlapisi oleh tanah akan sangat licin.

Ketika sampai di puncak, kita akan melihat tugu yang bertuliskan "Puncak Lawu Hargo Dumilah 3265 Dpl" yang berarti bahwa kita telah resmi menaklukan puncak Gunung Lawu.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA