Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 06 Jul 2020 12:39 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cerita Pendakian di Gunung Lawu yang Indah, Bukan Mistis

sri wahyuni
d'travelers
Foto 1 dari 5
detikTravel Community -

Gunung Lawu merupakan salah satu gunung tertingi di Jawa Tengah yang memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut. Musim hujan tidak menjadi penghalang untuk mendaki Gunung Lawu justru pendaki dapat menikmati pendakian tanpa debu tebal.

Basecampnya pun merupakan perumahan warga yang di siapkan untuk para pendaki beristirahat, para warga menyediakan tempat tidur dan kamar mandi untuk para pendaki.

Meski Gunung Lawu kental dengan aura mistis namun tidak membuat gunung ini sepi pendaki. Pendaki justru ramai dikunjungi apalagi pada saat akhir pekan.

Gunung Lawu mempunyai 2 jalur pendakian yang terkenal sulit dan jauh yaitu Jalur Cemoro Sewu dan dan Candi Cetho. Kedua jalur sangatlah berbeda. Jalur Cemoro Sewu adalah jalur untuk para ziarah yang berupa jalur bebatuan sedangkan Jalur Candi Cetho sudah berupa tanah.

Jalur Cetho menjadi pilihan kami untuk mendaki gunung. Setelah beristirahat semalam di basecamp, kami mempersiapkan logistik dan carrier kami masing masing. Setelah semua beres, kami sarapan lalu memulai pendakian pada jam 8 pagi.

Jam 8, kami berangkat mengarah ke pos 1. Kondisi hutan yang semakin rapat dan track yang mulai menanjak harus kami lalui. Konon di hutan jika kami bertemu dengan anjing maka anjing itu akan mengantarkan kami tanpa tersesat.

Pos 1

Setelah sampai di pos 1 kami memutuskan untuk istirahat sambil minum dan makan roti untuk memulihkan kondisi kami, tidak lupa juga memutar musik sepanjang perjalanan.

Perjalanan kami sangat santai tidak terburu buru, kami melewati pendaki lain yang juga mempunyai tujuan yang sama.

Pos 2

Setelah kami sampai di pos 2 kami menemukan mata air, kami pun memutuskan untuk mengisi botol kosong dengan air yang akan sangat kami butuhkan pada saat diperjalanan. Kami juga memasak mie instan untuk makan siang.

Cuaca mulai berembun karena hujan mulai turun pada siang hari namun hujan tidak terasa karena pohon pohon sangat rapat memenuhi hutan.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos 3 sambil meneriakkan yel-yel kami sembari makan cokelat untuk mengisi tenaga.

Pos 3

Cuaca kembali cerah dan kabut mulai menghilang, sinar matahari yang menembus melalui daun daun pepohonan membuat tubuh hangat ditambah dengan alunan musik yang kami dengarkan, membuat kami sangat bersemangat untuk mencapai puncak.

Dalam perjalanan menuju pos 4, kami mendapati pendaki yang turun saling menyapa dan menyemangati orang yang tidak dikenali di pendakian. Itu adalah hal yang manis.

Pos 4

Sore hari mulai datang lelah, letih, dan lapar mulai kami rasakan namun itu tidak membuat kami menyerah. Kami tetap menjalankan perjalanan dengan semangat.

Adzan ashar mulai berkumandang kami memutuskan untuk beristirahat sembari menunggu adzan selesai.

Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di area camp dimana kita harus melewati 1 pos lagi untuk sampai di area camp

Sembari beristirahat kami ngobrol dengan pendaki lainnya dan melanjutkan perjalanan bareng

Pos 5

Track makin curam dan kabut mulai menutupi pandangan, hanya membutuhkan waktu 1 jam perjalanan untuk sampai area camp.

Kami tidak dapat menikmati pemandangan di sekitar pos 5 dimana savana yang indah terlihat sangat menawan pada saat musim kemarau.

Setelah sampai di Gupak Munjangan, kami langsung bergegas mendirikan tenda karena cuaca mulai mendung yang kiranya akan turun hujan. Kami membagi tugas untuk mendirikan tenda dan memasak.

Setelah tenda berdiri kokoh kami makan lalu beristirahat. Tanpa kami sadari, kami semua tertidur sehabis makan.

Hujan turun lumayan deras membuat cuaca sangat dingin membuat kami terbangun di tengah malam, namun kami tidak melanjutkan tidur melainkan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ditemani dengan bintang-bintang yang terang benderang. Walaupun malam hari namun pemandangan sangat indah.

Pada pukul 5 pagi akhirnya kami sampai di Puncak Agro Mulyo Lawu 3.265 mdpl. Setelah 1 jam berada di puncak kami memutuskan untuk turun dan sarapan di warung tertinggi di Indonesia yaitu Warung Pecel Mbok Yem.

Dingin menyapa kami bersama cahaya matahari pagi yang menyinari tubuh kami saat sarapan nasi pecel di Warung Mbok Yem.

Pukul 8, kami turun menuju area camp. Sepanjang perjalanan turun kami berbincang dimana kami semua tidak menyangka telah sampai di ujung perjalanan kami.

Sesampainya di tenda, kami melanjutkan tidur kami yang terpotong malam hari karena summit. Setelah hari semakin sore kami mengemasi tenda dan melanjutkan perjalanan pulang namun karena kami kelelahan, kami memutuskan untuk kembali ke Warung Mbok Yem untuk menginap 1 malam lagi.

Pukul 3 dini hari, kami terbangun dan mengemasi carrier lalu berangkat untuk pulang. Kami memutuskan untuk lintas Jalur Cemoro Sewu. Kami pulang dengan jalur yang berbeda butuh waktu 8 jam untuk sampai di basecamp dengan jalanan berbatu dah hujan yang kami lalui.

Setelah kami sampai di basecamp  Gunung Lawu kami bersih bersih dang anti pakaian dan mencari angkutan untuk menuju pulang ke rumah.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA