Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 04 Jun 2021 05:41 WIB

PHOTOS

Lorong Buangkok Sisa Jejak Singapura di Masa Lalu

AFP/SIMIN WANG
detikTravel

Singapura - Singapura menyisakan satu kampung tradisional, berada di Kampong Lorong Buangkok. Menjadi jejak masa lalu Negeri Singa di tengah kepungan gedung bertingkat.

Lokasi Kampong Lorong Buangkok tidak jauh dari kawasan sibuk Yio Chu Kang yang bisa dicapai dengan kereta cepat atau MRT dengan tujuan Stasiun Serangoon. Dari stasiun itu, perjalanan dilanjutkan dengan bus nomor 70 atau 103 dan turun di depan Gereja St Vincent de Paul. Dari halte bus ini, traveler tinggal menyeberang jembatan ke seberang kanal dan akan terlihat petunjuk arah ke Kampung Lorong Buangkok. (AFP/SIMIN WANG)

Lokasi Kampong Lorong Buangkok tidak jauh dari kawasan sibuk Yio Chu Kang yang bisa dicapai dengan kereta cepat atau MRT dengan tujuan Stasiun Serangoon. Dari stasiun itu, perjalanan dilanjutkan dengan bus nomor 70 atau 103 dan turun di depan Gereja St Vincent de Paul. Dari halte bus ini, traveler tinggal menyeberang jembatan ke seberang kanal dan akan terlihat petunjuk arah ke Kampung Lorong Buangkok. (AFP/SIMIN WANG)

Berada di tengah hutan eton, Kampong Lorong Buangkok menyuguhkan suasana Singapura tempo dulu. Di sini masih ada tumbuhan ketapang dan kabel listrik yang menggantung. Di area Singapura lain, jaringan listrik dipasang di bawah tanah, dan masih ada ayam berkeliaran di halaman. Harga sewa rumahnya pun sangat murah dibandingkan flat yang menjadi tempat tinggal 90 persen warga Singapura, sekitar  Rp 65 ribu sampai Rp 430 ribu per bulan.(AFP/SIMIN WANG)

Berada di tengah hutan eton, Kampong Lorong Buangkok menyuguhkan suasana Singapura tempo dulu. Di sini masih ada tumbuhan ketapang dan kabel listrik yang menggantung. Di area Singapura lain, jaringan listrik dipasang di bawah tanah, dan masih ada ayam berkeliaran di halaman. Harga sewa rumahnya pun sangat murah dibandingkan flat yang menjadi tempat tinggal 90 persen warga Singapura, sekitar  Rp 65 ribu sampai Rp 430 ribu per bulan.(AFP/SIMIN WANG)

Salah satu alasan Kampong Lorong Buangkok tetap bertahan adalah seorang perempuan berusia 70 tahun, Sng Mui Hong. Dia bungsu dari empat bersaudara putri pedagang obat, Sng Teow Koon, yang membeli tanah di kampung itu pada 1959, sembilan tahun sebelum Singapura merdeka. Saat itu kampung tersebut masih berupa rawa-rawa. Kemudian, Koon menyewakan tanahnya kepada orang-orang Melayu dan China yang datang dan menetap di sana.(AFP/SIMIN WANG)

Salah satu alasan Kampong Lorong Buangkok tetap bertahan adalah seorang perempuan berusia 70 tahun, Sng Mui Hong. Dia bungsu dari empat bersaudara putri pedagang obat, Sng Teow Koon, yang membeli tanah di kampung itu pada 1959, sembilan tahun sebelum Singapura merdeka. Saat itu kampung tersebut masih berupa rawa-rawa. Kemudian, Koon menyewakan tanahnya kepada orang-orang Melayu dan China yang datang dan menetap di sana.(AFP/SIMIN WANG)

Di Kampong lorong Buangkok cuma ada 25 rumah. Salah satu penduduk setempat, Nassim, berharap pemerintah tidak mengubah kebijakan. Sebab, Kampong Lorong Buangkok merupakan salah satu jejak masa lalu Singapura yang patut diketahui anak cucu. (SIMIN WANG)

Di Kampong lorong Buangkok cuma ada 25 rumah. Salah satu penduduk setempat, Nassim, berharap pemerintah tidak mengubah kebijakan. Sebab, Kampong Lorong Buangkok merupakan salah satu jejak masa lalu Singapura yang patut diketahui anak cucu. (SIMIN WANG)

BERITA TERKAIT