Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 20 Jun 2021 16:15 WIB

PHOTOS

Foto: Desa Paling Timur di Pulau Jawa yang Cantik Jelita

Situbondo - Inilah desa Wonorejo di Situbondo yang dikenal sebagai desa paling timur di pulau Jawa. Desa ini cantik jelita dan potensi wisatanya segudang. Yuk, lihat!

Traveler tahu dimana desa paling timur di pulau Jawa? Jawabannya ada di desa Wonorejo, Situbondo. Desa ini potensi wisatanya segudang, mulai dari potensi wisata desa berbasis lingkungan, perkampungan nelayan, serta sejumlah potensi lainnya. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Traveler tahu dimana desa paling timur di pulau Jawa? Jawabannya ada di desa Wonorejo, Situbondo. Desa ini potensi wisatanya segudang, mulai dari potensi wisata desa berbasis lingkungan, perkampungan nelayan, serta sejumlah potensi lainnya. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Banyak turis bule datang ke desa Wonorejo karena tertarik untuk melihat kehidupan masyarakat di sana. Mereka asyik menikmati suasana pedesaan sembari melihat aktivitas warga. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Banyak turis bule datang ke desa Wonorejo karena tertarik untuk melihat kehidupan masyarakat di sana. Mereka asyik menikmati suasana pedesaan sembari melihat aktivitas warga. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Desa yang berada di Kecamatan Banyuputih, Situbondo ini posisinya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Baluran dan Kabupaten Banyuwangi. Industri perikanan jadi salah satu andalan warga di sini. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Desa yang berada di Kecamatan Banyuputih, Situbondo ini posisinya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Baluran dan Kabupaten Banyuwangi. Industri perikanan jadi salah satu andalan warga di sini. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Uniknya, di desa yang berbatasan langsung dengan Selat Bali ini ada 5 agama yang dipeluk warganya yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, serta Buddha. Masing-masing memiliki tempat ibadah yang saling berdekatan. Tanpa merasa terganggu satu sama lain. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Uniknya, di desa yang berbatasan langsung dengan Selat Bali ini ada 5 agama yang dipeluk warganya yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, serta Buddha. Masing-masing memiliki tempat ibadah yang saling berdekatan. Tanpa merasa terganggu satu sama lain. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Salah satu potensi wisata lainnya yakni, dari desa ini dapat menyaksikan matahari terbit dengan sempurna. Tanpa terhalang apapun. Itulah sebabnya, kawasan ini sering disebut Sanur-nya pulau Jawa. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Salah satu potensi wisata lainnya yakni, dari desa ini dapat menyaksikan matahari terbit dengan sempurna. Tanpa terhalang apapun. Itulah sebabnya, kawasan ini sering disebut Sanur-nya pulau Jawa. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Wisatawan asing tak canggung ikut memerah sapi warga. Di Desa Wonorejo ini juga banyak sekali terdapat homestay sederhana dengan nuansa desa. Ada 11 homestay yang bisa disewa wisatawan. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Wisatawan asing tak canggung ikut memerah sapi warga. Di Desa Wonorejo ini juga banyak sekali terdapat homestay sederhana dengan nuansa desa. Ada 11 homestay yang bisa disewa wisatawan. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Wisatawan asing justru kadang lebih banyak yang memanfaatkan kunjungannya untuk berkeliling jalan-jalan di Desa Wonorejo. Banyak wisatawan yang menyempatkan menginap di sini sebelum masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Baluran. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Wisatawan asing justru kadang lebih banyak yang memanfaatkan kunjungannya untuk berkeliling jalan-jalan di Desa Wonorejo. Banyak wisatawan yang menyempatkan menginap di sini sebelum masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Baluran. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Suasana kehidupan warga Desa Wonorejo Situbondo dapat dirasakan secara langsung oleh para wisatawan. Pun tak jarang para wisatawan turun langsung menyatu dalam tata kehidupan masyarakat sekitar. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
Suasana kehidupan warga Desa Wonorejo Situbondo dapat dirasakan secara langsung oleh para wisatawan. Pun tak jarang para wisatawan turun langsung menyatu dalam tata kehidupan masyarakat sekitar. (Chuk Shatu Widarsha/detikTravel)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA