Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 31 Mei 2022 22:03 WIB

PHOTOS

Mengenal Salah Satu Masjid Tertua di Kebayoran, Masjid Jami Muyassarin

Agung Pambudhy
detikTravel

Jakarta - Kebayoran memiliki masjid yang telah berdiri sejak akhir abad 18, masjid ini bernama Masjid Jami Muyassarin.




Jika berbicara tentang masjid di daerah Kebayoran, kebanyakan masyarakat akan menyebut Masjid Agung Al Azhar atau Masjid Raya Kebayoran Residence. Namun, sebagai sebuah distrik yang telah ada secara resmi sejak akhir abad 19, Kebayoran memiliki masjid yang telah berdiri jauh sebelum keberadaan distrik Kebayoran. (Agung Pambudhy/detikcom)

Jika berbicara tentang masjid di daerah Kebayoran, kebanyakan masyarakat akan menyebut Masjid Agung Al Azhar atau Masjid Raya Kebayoran Residence. Namun, sebagai sebuah distrik yang telah ada secara resmi sejak akhir abad 19, Kebayoran memiliki masjid yang telah berdiri jauh sebelum keberadaan distrik Kebayoran. (Agung Pambudhy/detikcom)

Masjid ini bernama Masjid Jami Muyassarin. Berlokasi di Jalan Masjid Muyassarin, Jalan Buntu Nomor 12A, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Menurut data dari berbagai sumber, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1780-an dan telah mengalami banyak renovasi. Masjid Jami Muyassarin pada awalnya hanya berupa musala, namun pada tahun 1850 dilakukan renovasi yang mengubah bentuknya menjadi masjid. (Agung Pambudhy/detikcom)

Masjid ini bernama Masjid Jami Muyassarin. Berlokasi di Jalan Masjid Muyassarin, Jalan Buntu Nomor 12A, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Menurut data dari berbagai sumber, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1780-an dan telah mengalami banyak renovasi. Masjid Jami Muyassarin pada awalnya hanya berupa musala, namun pada tahun 1850 dilakukan renovasi yang mengubah bentuknya menjadi masjid. (Agung Pambudhy/detikcom)

Berbeda dengan masjid lainnya, masjid ini tidak dihiasi oleh lambang bulan sabit dan lafaz Allah pada kubahnya. Namun, dihiasi oleh lambang busur panah emas yang dipasang pada menara masjid. Lambang ini mengacu pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menggunakan panah sebagai salah satu senjata. Selain itu, busur panah juga merepresentasikan sejarah masjid ini. Pada zaman kolonial Belanda, masjid ini merupakan tempat berkumpulnya para jawara.

Berbeda dengan masjid lainnya, masjid ini tidak dihiasi oleh lambang bulan sabit dan lafaz Allah pada kubahnya. Namun, dihiasi oleh lambang busur panah emas yang dipasang pada menara masjid. Lambang ini mengacu pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menggunakan panah sebagai salah satu senjata. Selain itu, busur panah juga merepresentasikan sejarah masjid ini. Pada zaman kolonial Belanda, masjid ini merupakan tempat berkumpulnya para jawara.

Tidak hanya sebagai tempat berkumpulnya para jawara, masjid ini juga dianggap sebagai salah satu masjid tertua yang ada di distrik Kebayoran. Diyakini masjid ini juga menjadi salah satu titik penting penyebaran dan perkembangan Islam di Kebayoran. 

Tidak hanya sebagai tempat berkumpulnya para jawara, masjid ini juga dianggap sebagai salah satu masjid tertua yang ada di distrik Kebayoran. Diyakini masjid ini juga menjadi salah satu titik penting penyebaran dan perkembangan Islam di Kebayoran. 

Hingga kini, Masjid Jami Muyassarin masih berfungsi dan digunakan setiap hari oleh masyarakat setempat. Selain itu, masjid ini juga masih menjadi titik kumpul para guru beladiri, baik untuk sekedar berkumpul maupun berlatih. Kemudian menurut laman Seni Budaya Betawi, di dalam area masjid ini terdapat makam para tokoh jawara serta ulama yang berperan dalam pembangunan masjid. (Agung Pambudhy/detikcom)

Hingga kini, Masjid Jami Muyassarin masih berfungsi dan digunakan setiap hari oleh masyarakat setempat. Selain itu, masjid ini juga masih menjadi titik kumpul para guru beladiri, baik untuk sekedar berkumpul maupun berlatih. Kemudian menurut laman Seni Budaya Betawi, di dalam area masjid ini terdapat makam para tokoh jawara serta ulama yang berperan dalam pembangunan masjid. (Agung Pambudhy/detikcom)

FOKUS BERITA

Muslim Traveler
BERITA TERKAIT
BACA JUGA