Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 02 Jun 2022 06:41 WIB

PHOTOS

Ini Dia Kelenteng Tertua di Jakarta, Vihara Dharma Bhakti & Toa Se Bio

Jakarta - Glodok kini menjadi pusat wisata sejarah pecinan di Jakarta. Di dalamnya terdapat banyak kelenteng, dua di antaranya merupakan kelenteng tertua.

Glodok merupakan salah satu kawasan pecinan terbesar di Jakarta. Tidak hanya berisi pemukiman serta pusat perdagangan, kawasan ini juga ditunjang oleh berbagai fasilitas umum yang dibutuhkan. Salah satunya yaitu tempat peribadatan. Di Kampung Pecinan Glodok, terdapat cukup banyak vihara atau kelenteng. Di antaranya ada yang merupakan vihara tertua di Jakarta. Vihara ini dikenal sebagai Vihara Dharma Bhakti. (Rengga Sancaya/detikcom)

Glodok merupakan salah satu kawasan pecinan terbesar di Jakarta. Tidak hanya berisi pemukiman serta pusat perdagangan, kawasan ini juga ditunjang oleh berbagai fasilitas umum yang dibutuhkan. Salah satunya yaitu tempat peribadatan. Di Kampung Pecinan Glodok, terdapat cukup banyak vihara atau kelenteng. Di antaranya ada yang merupakan vihara tertua di Jakarta. Vihara ini dikenal sebagai Vihara Dharma Bhakti. (Rengga Sancaya/detikcom)

Vihara Dharma Bhakti didirikan oleh Letnan Guo Xun-Guan pada tahun 1650 dengan nama Guan Yin Ting. Dikisahkan, vihara ini dibangun bersamaan dengan pembentukan kampung pecinan Glodok. (Rengga Sancaya)

Vihara Dharma Bhakti didirikan oleh Letnan Guo Xun-Guan pada tahun 1650 dengan nama Guan Yin Ting. Dikisahkan, vihara ini dibangun bersamaan dengan pembentukan kampung pecinan Glodok. (Rengga Sancaya)

Vihara ini menjadi saksi sejarah sekaligus korban dari peristiwa mengerikan geger pecinan. Setelah peristiwa tersebut vihara ini dibangun kembali oleh Kapiten Oey Tjie pada tahun 1955. Nama vihara kemudian berganti menjadi Jin De Yuan atau Kim Tek Le. (Rengga Sancaya/detikcom)

Vihara ini menjadi saksi sejarah sekaligus korban dari peristiwa mengerikan geger pecinan. Setelah peristiwa tersebut vihara ini dibangun kembali oleh Kapiten Oey Tjie pada tahun 1955. Nama vihara kemudian berganti menjadi Jin De Yuan atau Kim Tek Le. (Rengga Sancaya/detikcom)

Pada tahun 2015, Vihara Dharma Bhakti sempat mengalami kebakaran karena korsleting listrik. Akhirnya lokasi peribadahan vihara direlokasi sementara ke bagian depan, di sebelah Vihara Dharma Sakti. Meski begitu, kegiatan peribadahan sehari-hari dan kunjungan dari masyarakat masih terus berjalan. (Rengga Sancaya/detikcom)

Pada tahun 2015, Vihara Dharma Bhakti sempat mengalami kebakaran karena korsleting listrik. Akhirnya lokasi peribadahan vihara direlokasi sementara ke bagian depan, di sebelah Vihara Dharma Sakti. Meski begitu, kegiatan peribadahan sehari-hari dan kunjungan dari masyarakat masih terus berjalan. (Rengga Sancaya/detikcom)

Selain Vihara Dharma Bhakti, di Kampung Pecinan Glodok, lebih tepatnya di Petak Sembilan, juga terdapat Vihara Dharma Jaya Toasebio. Vihara ini juga menjadi saksi bisu dan korban kekejaman peristiwa pada tahun 1740. (Rengga Sancaya/detikcom)

Selain Vihara Dharma Bhakti, di Kampung Pecinan Glodok, lebih tepatnya di Petak Sembilan, juga terdapat Vihara Dharma Jaya Toasebio. Vihara ini juga menjadi saksi bisu dan korban kekejaman peristiwa pada tahun 1740. (Rengga Sancaya/detikcom)

Namun, vihara ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1751 dan berdiri kokoh hingga saat ini. Menurut beberapa sumber, ornamen ukiran kayu melingkar yang ada di bagian depan vihara dengan warna merah yang lebih gelap merupakan ornamen asli sejak awal pendirian vihara. Ornamen serta empat tiang kayu penyangga bangunan utama tidak pernah mengalami renovasi dan masih asli. (Rengga Sancaya/detikcom)

Namun, vihara ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1751 dan berdiri kokoh hingga saat ini. Menurut beberapa sumber, ornamen ukiran kayu melingkar yang ada di bagian depan vihara dengan warna merah yang lebih gelap merupakan ornamen asli sejak awal pendirian vihara. Ornamen serta empat tiang kayu penyangga bangunan utama tidak pernah mengalami renovasi dan masih asli. (Rengga Sancaya/detikcom)

Dengan usia yang sudah tua, kedua vihara ini terjaga dengan sangat baik dan berdiri dengan kokoh hingga saat ini. Kegiatan beribadah terus berjalan setiap harinya. Bahkan, dengan dijadikannya Glodok sebagai pusat wisata sejarah pecinan, kedua vihara menjadi salah satu destinasi yang paling dicari wisatawan. (Rengga Sancaya/detikcom)

Dengan usia yang sudah tua, kedua vihara ini terjaga dengan sangat baik dan berdiri dengan kokoh hingga saat ini. Kegiatan beribadah terus berjalan setiap harinya. Bahkan, dengan dijadikannya Glodok sebagai pusat wisata sejarah pecinan, kedua vihara menjadi salah satu destinasi yang paling dicari wisatawan. (Rengga Sancaya/detikcom)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA