|
Saat kami mengunjungi Pantai ini sayangnya ombak sedang surut, sehingga kami tidak bisa melihat ombak yang sering diperbincangkan para surfer pro mulai dari surfer lokal maupun mancanegara. Dan ingat dimanapun anda traveling
|
|
Ini jembatan menuju pantai
|
|
Di awal perjalanan kami menemukan pantai yang diselimuti batu karang yang kering, jangan lupa memakai alas kaki outdoor agar tidak terluka saat berjalan di sisi pantai.
|
|
Sudah berjalan kurang lebih 6-7 km, kami sama sekali belum menemukan pantai yang bebas karang, biru, berombak, yang bisa dipakai untuk berenang.
|
|
Sangat disarankan untuk membawa perbekalan air minum, karena di sekitar sini (6-7 km dari gerbang pantai Plengkung) anda tidak akan menemukan warung cemilan ataupun minuman, bahkan orang pun tidak ada!
|
|
Keringnya Pantai karena kami datang bukan pada musim pasang berombak. Di sarankan datang pada bulan Juni atau Juli.
|
|
Berjalan kaki hampir lebih dari 10 km, kami mulai menemukan pantai yang sangat sepi, pasir putih, laut berwarna biru indah. Namun semakin penasaran kami terus berjalan kaki berharap menemukan sesuatu yang lebih indah lagi.
|
|
Akhirnya! setelah berjalan kaki kurang lebih 12 kilo meter, kami menemukan pantai yang sangat luas, indah, biru, dan tidak ada satu orang pun terlihat disini, sangat tidak berpenghuni.
|
|
Lelahnya perjalanan dengan berjalan kaki terbayar dengan pemandangan yang belum pernah saya lihat sama sekali sebelumnya di pantai selatan Jawa. Sebuah pantai yang tidak bernama, terisolir, jauh dari pemukiman, berjarak sekitar 10-12
|
Halaman 2 dari 10












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun