Mencapai taman cantik ini harus masuk dulu ke Taman Daisen, yang terletak persis di depan makam Nintoku Tumulus Koufun, Sakai, Prefektur Osaka, Jepang. Japanese Garden ditandai gerbang kayu. Pada Jumat (8/11/2013) lalu, detikTravel melihat ada segerombolan bunga krisan dengan bunga besar-besar berdiameter 10-15 cm yang dijajar dekat pintu kayu.
Pemandangan di dalam gerbang itu lebih fantastis lagi, sesaat bisa membuat nafas berhenti. Cantiik sekali! Ada danau di tengah taman cantik itu, dan di tengahnya ada taman kecil lagi. Unsur-unsur taman Jepang seperti air, batu-batu, tanaman perdu yang dibentuk seperti bonsai, rumah apung, bunga sakura sungguh memanjakan mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa jembatan tampak di atas aliran sungai tadi. Rupanya taman ini tak cuma buat melepas stres dan lelah, namun dimanfaatkan beberapa pasangan muda di Sakai untuk foto prewedding. Seperti pasangan berbaju tradisional Jepang yang berjalan di taman itu. Mereka adalah calon mempelai Junpei dan Yumi ingin mengabadikan momen untuk pernikahan mereka.
"Kami memutuskan untuk menikah dengan tradisi Jepang pada musim semi mendatang. Kami suka tempat ini, menunjukkan alam Jepang," kata Junpei.
Tak lama setelah mereka berlalu, ada lagi yang sedang foto prewedding. Kedua pasangan memakai pakaian tradisional Jepang, membaya payung tradisional pula, terlihat diarahkan oleh fotografer mereka. Pasangan ini lebih heboh karena membawa serta kedua orang tua mereka hingga saudara-saudaranya. Jeprat-jepret!
Tak lama bertemulah kami dengan Kepala Kebun Japanese Garden, Tsujii. Tsujii menjelaskan taman ini dibangun karena kecintaan pada Kota Sakai.
"Taman ini dibangun 25 tahun lalu, saat ulang tahun Kota Sakai ke-100. Luasnya 26 ribu meter persegi," kata Tsujii.
Tsujii kemudian menjelaskan taman ini adalah miniatur Kota Sakai. Kalau sebelah kiri, ada aliran sungai menuju ke bawah, ke danau. Di seberang danau, ada gerbang atau bangunan bergaya China yang dikelilingi pohon sakura.
"Sakai berhadapan dengan laut, dan di seberang lautya itu sudah negara China," imbuhnya.
Komposisi tanaman yang ada di taman sendiri, Tsujii mengatakan ada sekitar 30 jenis tanaman perdu, dengan 15 ribu batang tanaman perdu. Untuk tanaman keras, Tsujii mengatakan ada bunga sakura yang mekar pada pertengahan April hingga akhir April 2013.
Pengunjung taman ini, lanjut Tsujii, tergantung musim. Pada musim puncak seperti musim panas, bisa 3 ribu orang per hari mengunjungi taman ini, namun kalau musim dingin menurun.
"Jumlah pengunjung tahunan sekitar 80 ribu," tutur pria yang memakai seragam berkebun ini.
Dalam merawat taman, Tsujii dibantu oleh 8 staf lain yang terdiri dari pekebun, petugas kebersihan dan staf kantor. Dana operasional berasal dari APBD Kota Sakai dan biaya tiket. Tiket masuk untuk dewasa 200 Yen (Rp 20 ribu-an) dan anak-anak separuhnya.
"Untuk orang di atas 60 tahun, gratis masuknya," jelas dia.
Tsujii juga mengatakan sedang ada pameran bonsai dan krisan di bagian belakang taman. Wah rupanya, ada beberapa bonsai hasil kompetisi nasional yang sedang dipajang. Bonsai itu dari tanaman krisan. Di seberangnya ada bunga-bunga krisan yang tingginya lebih dari 50 cm dengan bunga yang besar-besar, sekitar 10 cm. Orang Jepang menyebut suasana ini dengan istilah kawai, alias cantik. Benar-benar taman penuh cinta!
(fay/fay)










































