Wow! Kerajinan Bambu Termahal Sedunia di Jepang Seharga Mobil

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Jepang

Wow! Kerajinan Bambu Termahal Sedunia di Jepang Seharga Mobil

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikTravel
Senin, 25 Nov 2013 07:45 WIB
Wow! Kerajinan Bambu Termahal Sedunia di Jepang Seharga Mobil
3 Karya paling penting dari 4 generasi keluarga Tanabe Chikuunsai (Hany/detikTravel)
Sakai - Kerajinan bambu adalah suvenir khas Asia kesukaan wisatawan yang murah meriah. Tapi di Jepang, kerajinan bambu bisa sangat mahal seharga rumah atau mobil.

"Mari silakan masuk," sambut Shouichiku Tanabe ketika detikTravel dan wartawan dari Media Sakai ASEAN Week datang ke bengkel kerja kerajinan bambunya di kawasan Kitatadei-cho, Sakai, Osaka, Jepang pada Senin (11/11/2013) lalu.

Pemandu kami Prof Hisanori Kato, sebelumnya membisiki orang ini sangat terkenal di Jepang, benda kerajinannya pun sangat mahal. Wah, jadi makin penasaran!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari luar bangunan itu sudah bergaya Jepang 'banget' dengan pintu geser kayu bercat hitam vertikal. Di depannya terdapat taman mini yang ditanami bambu-bambu kecil. Masuk ke dalam melintasi selasar sempit di tengah-tengah ternyata ada taman minimalis yang menjadi pusat bangunan ini.

Di samping kirinya ada bangunan kayu dengan dinding kaca bening. Di dalam ruangan berukuran sekitar 3x5 meter itu tergelar tatami (karpet/tikar bambu Jepang, red), beberapa meja kecil, beberapa perkakas, dan banyak bambu yang sudah diserut dalam ukuran tertentu, dua perempuan muda yang sedang asyik menganyam.

Di sebelah kanan ada ruang pamer berukuran 3x4 meter, berpintu geser kayu, ruangan itu juga bertatami, ada meja di tengahnya. Shouchiku mempersilakan kami melihat ke ruang pamer itu. Ada 3 bagian dinding tempat pamer. Di salah satunya ada 4 benda kerajinan bambu yang sangat berseni, berwarna hitam.

Namun saya dan jurnalis lain terperangah ketika mendengar sejarah dan proses pembuatan di balik benda-benda itu, bukti sejarah panjang generasi dari klan Tanabe Chikuunsai. Paling kiri sendiri, ternyata adalah keranjang bunga buatan kakek buyut Shouchiko sendiri, Tanabe Chikuunsai I.

Shouchiko mengatakan kakeknya mulai membuat kerajinan bambu itu 120 tahun lalu, dan kini dirinya meneruskan sebagai generasi keempat. Jadi umur keranjang bunga berjudul 'Ryurikyou' itu memang sudah berkisar 100-an tahun.

Di sampingnya buatan kakeknya, Tanabe Chikuunsai II, berupa keranjang bunga yang tinggi. Di sebelahnya lagi adalah milik ayah Shouchiku, Tanabe Chikuunsai III, yang berciri khas gaya geometri yang tegas, garis dan lingkaran. Karya Shouchiko sendiri terpampang di sebelahnya, dengan ciri khas gambar timbul dari anyaman atau bentuk abstrak seperti patung.

Selain benda-benda seni untuk pajangan, Shouchiko juga membuat benda anyaman bambu yang fungsional seperti tempat kacamata, clutch bag dan dompet. Semuanya cantik dan antik.

Harganya, untuk dompet seukuran tempat kacamata, mencapai JPY 500 ribu (Rp 57,7 juta). Sedangkan yang paling mahal, adalah vas bunga berbentuk bubu atau keramba ikan. Harganya mencapai, JPY 3 juta (Rp 346 juta)! Wajar kalau Anda menahan nafas mengingat di Indonesia dengan nilai yang sama sudah mendapat mobil atau rumah.

Di Jepang sendiri banyak benda kerajinan bambu yang dipakai sehari-hari seharga JPY 100-200 (Rp 11 ribu-23 ribu). Namun Shouchiku mengatakan keluarganya secara turun temurun menjadikan bambu ini sebagai seni, kerajinan yang memiliki filosofi.

"Sebetulnya tidak peduli harganya, pembeli sudah berpikir ini ada nilai tambahnya karena pembeli menghargai yang dilakukan, idenya itu priceless," kata Shouchiko .

Benda kerajinan keluarga Tanabe, lebih dilirik orang Eropa, dan Amerika Serikat. Bahkan, ada beberapa orang di yang sama sekali belum pernah melihat bambu ini. Kendati harganya selangit menurut ukuran orang awam, namun banyak kolektor benda seni selalu menunggu karya terbarunya.

"Mereka menganggap ini sebagai karya seni. Kalau di Indonesia barang-barang seperti ini digunakan sehari-hari. Kalau saya menjadikan bambu sebagai benda seni, ada filosofi dan nilai tambahnya, karena itu barang saya dihargai oleh orang luar negeri," tutur Shouchiku yang mencirikan karyanya simpel, dekoratif dan new art.

Shouchiko lantas mengajak para jurnalis Media Sakai ASEAN Week 2013 ke bengkel kerjanya. Hal ini belakangan membuat kami mengerti mengapa harga benda-benda kerajinan bambu itu begitu tinggi.

(aff/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads