Ini Sebabnya Suvenir Bambu di Jepang Bisa Seharga Mobil
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Jepang

Ini Sebabnya Suvenir Bambu di Jepang Bisa Seharga Mobil

- detikTravel
Selasa, 26 Nov 2013 08:14 WIB
Ini Sebabnya Suvenir Bambu di Jepang Bisa Seharga Mobil
3 Karya paling penting dari 4 generasi keluarga Tanabe Chikuunsai (Hany/detikTravel)
Sakai - Kerajinan bambu jadi salah satu suvenir dari Jepang yang disukai wisatawan, sayang harganya bisa semahal harga mobil. Ternyata, proses pembuatan yang rumit jadi salah satu sebabnya.

"Mari silakan masuk," sambut Shouichiku Tanabe ketika detikTravel dan wartawan dari Media Sakai ASEAN Week datang ke bengkel kerja kerajinan bambunya di kawasan Kitatadei-cho, Sakai, Osaka, Jepang pada Senin (11/11/2013) lalu.

Pemandu kami Prof Hisanori Kato, sebelumnya membisiki orang ini sangat terkenal di Jepang. Benda kerajinannya pun sangat mahal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harganya, untuk dompet seukuran tempat kacamata, mencapai JPY 500 ribu (Rp 57,7 juta). Sedangkan yang paling mahal, adalah vas bunga berbentuk bubu atau keramba ikan. Harganya mencapai, JPY 3 juta (Rp 346 juta)! Wajar kalau Anda menahan nafas mengingat di Indonesia dengan nilai yang sama sudah mendapat mobil atau rumah.

Di bengkel kerjanya, Shouchiku menunjukkan jenis-jenis bambu. Bambu yang paling banyak dipakai adalah Madake, bambu besar berwarna hijau. Ada juga bambu hitam alami, kemudian bambu asap yang berubah warna menjadi cokelat karena ditaruh di atas perapian rumah selama ratusan tahun. Ada pula bambu yang meliak-liuk seperti gelombang atau punggung unta, kemudian bambu yang bermotif seperti macan tutul.

Setelah menjelaskan mengenai bahan baku, Shouchiku sempat mendemonstrasikan bagaimana mengolah bambu itu hingga siap dianyam. Shouchiku dan beberapa pengrajin magang menganyam bambu di atas potongan gelondongan kayu. Di bengkelnya selain berserakan kapak kecil, palu kecil, bermacam gergaji yang tergantung di dinding, juga gambar-gambar desain abstrak seperti patung. Begini proses pembuatannya:

Pertama, bambu dibelah dengan kapak atau gergaji kecil hingga tercapai lebar yang diinginkan. Saat itu Shouchiku membelah bambu hingga lebarnya 0,5 cm. Shouchiku bahkan sempat menunjukkan bambu yang diserut hingga kelebaran 0,17 cm, sampai-sampai mirip mie atau spaghetti!

"Lebih 0,02 mm saja, bambu itu sudah tidak bisa dipakai," kata Shouchiku.

Kemudian, bambu disemprot air. Tujuannya, supaya bambu lebih lentur dan lebih mudah dibentuk.

Ketiga, bambu kemudian siap dianyam. Teknik menganyam dasar adalah meletakkan bambu selang-seling atas bawah dengan satu pusat.

"Ada ratusan jenis teknik menganyam," kata Shouchiko.

Bagi Shouchiko, dirinya tak sekadar menganyam, dia menggambar dengan menganyam! Beberapa benda kerajinan karyanya bahkan ada gambar timbul, yang bukan dilukis atau digambar, melainkan dianyam.

"Sebelum bikin apa saja, saya memikirkan, tema, konsep, gambar dan kemudian mengeksekusi. Yang paling sulit adalah anyaman yang ada gambar emboss-nya," tutur Shouchiko.

Tak ada pewarna yang dipakai, warna itu tergantung dari warna bambu yang dipakai. Setelah benda kerajinan itu jadi, maka bambu dipelitur atau dipernis. Pernis yang dia gunakan berasal dari cairan pohon yang tumbuh di Jepang bernama 'Urushi'.

Proses membuat 1 benda kerajinan pun bermacam-macam. Ada yang 2 hari, 1 bulan hingga 2 bulan. Bengkel kerajinan keluarga Tanabe memiliki beberapa pengrajin.

"Sebenarnya ayah saya masih kuat berkarya, ibu saya, saya dan ada 3 pengrajin lainnya. Kami bisa menghasilkan 50 benda seni bambu tiap tahun," jelas Shouchiku.

Mengingat banyaknya ide dan desain orisinal apa dirinya tidak mengkhawatirkan hak cipta dan pembajakan? "Teknik saya sangat tinggi, tidak begitu saja bisa dikopi. Di sini sangat kreatif, tidak bisa membuat hal yang sama. Yang penting membuat sesuatu yang orang lain tidak bisa membuat karena itu saya tidak pentingkan hak cipta," jawab Shouchiku dengan tegas.

Nah, kini saya mengerti mengapa benda kerajinan bambu ini harganya selangit.

(sst/sst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads