Sepi. Begitu kira-kira pendapat saya sewaktu menginjakkan kaki di Auckland, bekas ibukota Selandia Baru. Saya langsung berpikir bakal mati kebosanan saat harus tinggal di kota ini barang seminggu saja.
Bandara di kota ini juga lengang. Padahal, di kota mana saja, bandara biasanya selalu ramai orang. Di jalanan, tak banyak kendaraan berlalu-lalang. Nyaris mustahil mendengar bunyi klakson saat melintasi jalanan di Auckland.
Β
Saya lantas mencoba mampir ke salah satu pusat perbelanjaan, dan ternyata sama saja. Nyenyat. Tidak banyak orang hilir-mudik melihat-lihat barang yang dipamerkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila dibandingkan Jakarta, penduduk Auckland memang tidak ada apa-apanya. Populasi di Jakarta saat ini sudah lebih dari 10 juta. Sedang penduduk Auckland, hanya sepersepuluhnya saja. Satu juta orang.
Saya jadi maklum mengapa salah satu kota terbaik untuk ditinggali ini sepi. "Lah, wong yang tinggal sedikit banget," ujar rekan saya.
Meski sepi dan membosankan, kota terbesar di Selandia Baru ini sebenarnya menyimpan pesona luar biasa. Terutama bagi para wisatawan berkantong tebal.
Untuk membaca artikel lengkapnya, silakan klik Majalah Detik.
(fay/fay)












































Komentar Terbanyak
Prabowo Beri Lampu Hijau, Bandara Husein Sastranegara Mulai Bersolek
Libur Sekolah, Tiket Pesawat Merangkak Naik
Terpopuler: Daftar Negara Paling Damai 2026: Indonesia Peringkat Berapa?