detikTravel beberapa pekan lalu bersama Tourism Authority of Thailand (TAT) menonton bareng Thai Boxing ini. Saya akhirnya kesampaian juga melihat stadion baru untuk Thai Boxing di Bangkok.
Lumpinee Boxing Stadium yang berumur 57 tahun di Rama IV Road ditutup pada 7 Februari 2014. Sebagai gantinya, dibuka stadion baru yang lebih besar yang saya datangi di Ram Intra Road. Lebih besar dari yang lama, stadion ini bisa memuat 5.000 penonton.
Stadion baru inilah yang saya datangi. Oh iya, pertandingan tinju tidak digelar setiap hari. Thai Boxing hanya ada pada hari Selasa, Jumat dan Sabtu. Untuk menonton pertandingan ini, wisatawan membayar 2.000 Baht (Rp 697 ribu) untuk di pinggir ring (kelas satu) dan 1.500 Baht (Rp 523 ribu) untuk di podium kelas dua dan tiga.
Agak mahal ya, namun itu karena penonton bisa melihat 9 pertandingan sekaligus yang ada di hari itu. Pertandingan dimulai sejak pukul 16.00 sore waktu setempat sampai malam.
Saya datang pas pertandingan pertama dimulai. Emmy di sudut merah VS Harnchai di sudut biru. Wah saya sama sekali tidak kenal mereka. Menit-menit awal, saya mengagumi bagian dalam stadion yang lega dan terang ini. Ada AC, layar besar dan kamera TV memantau jalannya pertandingan.
Oh iya, ilmu beladiri Muay Thai yang dipertandingkan dalam Thai Boxing ini membolehkan penggunaan tinju, sikut, lutut dan kaki. Jadinya, tontonan ini pun jadi lebih seru.
Nah dalam pertandingan kedua, barulah saya benar-benar memperhatikannya dari awal karena pindah ke pinggir ring untuk memotret dari dekat. Petchsatid di sudut merah VS Sanpol di sudut biru. Mereka masuk ke ring memakai kalung bunga dan ikat kepala yang disebut Mongkhon.
Kedua petarung lalu menari Wai Kru. Inilah tarian tradisi para petarung untuk menghormati para guru dan orang tua. Setelah itu pelatih melepas Mongkhon sambil mendoakan muridnya. Ting! Ting! Bel tanda pertandingan dimulai. Maka pertarungan 5 ronde pun siap disajikan ke hadapan penonton.
Awalnya ragu-ragu, kedua petinju lantas saling beradu pukulan dan tendangan. Bak! Buk! Bak! Buk! Mereka saling adu jotos dan tendangan. Pentonton bersorak-sorai dan berteriak mendukung jagoannya. 3 Menit waktu dalam setiap ronde rasanya hanya sebentar saking serunya.
Hook, jab, uppercut datang silih berganti. Kaki melayang sampai kepala lawan. Badan-badan yang segar lambat laun makin terhuyung-huyung. Malahan pada pertandingan ketiga, Petchdum yang bercelana biru, pelipisnya sampai berdarah-darah melawan Sankeang.
Darah mengucur turun dari pelipis ke pipi kanannya. Namun pertandingan berlangsung terus, Sankeang mendesak Petchdum sampai ke tali ring. Petchdum seperti kewalahan dan terganggu karena pelipisnya berdarah. Thai Boxing memang keras, kawan!
Di salah satu podium, puluhan penonton menyaksikan Thai Boxing sambil berjudi. Menurut Nee, pemandu saya, arena Thai Boxing adalah tempat yang legal bagi masyarakat untuk berjudi.
"Kalau berjudi di pinggir jalan, jangan coba-coba. Pasti ditangkap polisi. Tapi kalau berjudi saat menonton Thai Boxing, itu boleh-boleh saja," kata Nee.
Wisatawan pun tampak menonton di pinggir ring, ada wisatawan Asia dan juga wisatawan kulit putih mungkin dari Eropa atau Australia. Sayang, karena agenda liputan masih banyak, saya harus meninggalkan Lumpinee Stadium menjelang pertandingan keempat.
Oh iya, Lumpinee Stadium juga memiliki toko olahraga bertema Thai Boxing. Ada sarung tinju, celana dan aksesoris Thai Boxing yang bisa dibeli wisatawan.
Satu-satunya kekurangan menurut saya adalah akses transportasi. Tidak ada perahu atau kereta komuter di dekat kawasan ini. Wisatawan dari pusat kota Bangkok bisa naik bus nomor 26, 95 dan 520, kalau paham caranya. Kalau mau praktis ya naik taksi, cuma lebih mahal.
Kalau Anda sedia bujet banyak, dan harinya pas, menonton Thai Boxing di Lumpinee Stadium bisa menjadi agenda liburan seru di Bangkok, Thailand. Tapi kalau Anda liburan ala backpacker dengan uang pas-pasan jangan khawatir tidak bisa menonton Thai Boxing.
detikTravel menyarankan para backpacker menonton Thai Boxing gratisan di Mal MBK setiap hari Rabu sore pukul 18.00 waktu setempat. Seru juga kok!
(ptr/ptr)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru