"Kami selaku Taiwan Leisure Farms Development Association menetapkan standar dan memberi sertifikat kepada tiap farm resort," tegas marketing division Taiwan Leisure Farms Development Association, Leo selepas kunjungan dari Flying Cow Cranch, suatu farm resort di Tongxiao, Taiwan, Kamis (15/5/2014).
Menurut Leo, ada 300 farm resort di Taiwan tapi hanya 46 yang sudah dianggap mumpuni untuk didatangi turis mancanegara. Pelayanan, keramahan, aneka kegiatan dan fasilitas jadi prioritas penilaian suatu farm resort di Taiwan.
"Ada tiga tim yang menilainya, yaitu pemerintah, petani senior dan Taiwan Leisure Farms Development Association sendiri," papar Leo.
Menariknya, penilaian tersebut dilakukan setiap dua tahun sekali. Jadi, tiga tim tersebut akan melakukan inspeksi kapan saja tanpa memberitahu terlebih dulu.
"Petani senior menilai soal lahan pertanian atau perkebunan yang dikelola suatu farm resort. Serta, produk-produk yang mereka hasilkan, seperti di Flying Cow Ranch yang memproduksi susu, keju atau yoghurt," terang Leo.
Sedangkan Taiwan Leisure Farms Development Association, menilai farm resort dari pengalaman yang didapat pengunjung. Pengunjungnya baik turis, siswa sekolah atau wartawan mancanegara.
"Kami sudah mengajak wartawan Malaysia, Singapura, Jepang, Filipina untuk mengunjungi tiap farm resort dan meminta pendapat mereka. Wartawan itu sangat penting untuk publikasi," ujar Leo.
Oleh sebab itu, tiap farm resort berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik kepada pengunjung. Tiap farm resort selalu membuat inovasi baru, menambah fasilitas di kamar, bahkan sampai membuat menu-menu makanan yang unik.
Contohnya, Flying Cow Ranch yang mengajak turis membuat balon puding yakni puding berbentuk bulat seperti balon. Kalau di Fairy Lake Leisure Farm, turis bisa diajak membuat red turtle cake, kue khas Taiwan. Jadi, agrowisata pun tak hanya soal berkebun atau menanam, tapi juga sebagai wadah untuk mengenalkan budaya dan melakukan segudang aktivitas.
"Dengan itulah, farm resort selalu menarik dikunjungi dan terus berkembang," pungkas Leo.
Tentu, hal tersebut bisa dijadikan pelajaran untuk pengelola-pengelola agrowisata di Indonesia. Jangan hanya menawarkan kegiatan yang itu-itu melulu, tapi baiknya mengembangkan tiap kegiatan dan menambah fasilitas. Toh, wisatawan yang datang bakal lebih mendapatkan banyak pengalaman bukan?
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru