Beberapa waktu lalu, sekitar pukul 14.30 waktu setempat, langit agak gelap. Rintik gerimis sesekali turun. Beberapa turis sebagian besar berwajah Jepang, Korea, Taiwan, dan Tiongkok, masuk ke kapal 2 dek untuk berburu lumba-lumba. Hanya kami, rombongan Maskapai Qantas dan Destination New South Wales dari Indonesia, yang berwajah melayu.
"Tunggu sebentar," kata pemandu kapal, perempuan bertubuh subur yang berusia sekitar 30 tahun, kepada kami yang sudah berada di atas kapal
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angin pantai menusuk kulit. Dingin. Untung, gerimis tak berakumulasi menjadi hujan. Saat kapal berangkat, gerimis hilang. Tapi mendung hitam masih mengelayut.
Kapal berisi 20-an turis melaju ke tengah perairan yang dikelilingi permukiman dan bukit. Mata tiap orang menyapu air. Depan, samping kanan dan kiri. Bahkan ke belakang. Tak ada pergerakan.
15 Menit setelah kapal angkat jangkar, pemandu berteriak-teriak dalam bahasa Inggris, "Lihat itu! Lihat itu!"
Semua kaget. Mata kami mengikuti telunjuk sang pemandu. Hanya terlihat debur ombak di perairan. Setelah menajamkan pandangan, baru terlihat beberapa lumba-lumba melompat dari jarak 80-100 meter dari kapal kami.
Beberapa turis turun ke dek bawah, lalu mengkavling ujung depan kapal. Harapannya, tentu saja, bisa melihat lumba-lumba lebih dekat. Lebih jelas. Tapi sia-sia, karena mamalia laut itu terus bergerak menjauh.
Kapal kami terus mengejar kumpulan lumba-lumba. Kami kalah cepat. Lumba-lumba menghilang. Kami hanya melihat kecipak air di bawah mendung gelap.
Tak berapa lama, pemandu berteriak lagi, "Lihat itu!" Semangat kami, tumbuh lagi. Sebagian langsung mengarahkan kamera ke arah yang ditunjukkan pemandu. Terlihat 1-2 lumba-lumba melompat-lompat di air. Jepret! Jepret!
Setelah berputar-putar selama 45 menit, kapal kembali ke dermaga. Di perjalanan, pemandu menunjukkan foto-foto 'aksi' sempurna lumba-lumba yang diambil beberapa waktu sebelumnya. Dia menunjuk foto lumba-lumba melompat tinggi di perairan saat cuaca cerah. Jauh berbeda dengan yang kami temui.
Port Stephens berada di Newcastle. Kira-kira berjarak 100 km dari Sydney, ibukota NSW. Hanya 2 jam melalui jalur darat. Selain pesisir, kawasan ini juga memiliki kawasan pedesaan yang menawan. Lumayan untuk mengobati ketidakberuntungan berburu lumba-lumba di Port Stephens.
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Viral Bule Hadang Mobil di Nusa Dua, Ia Berlutut Minta Tolong