Di balik keindahannya, Gunung Fuji menawarkan tantangan bagi para petualang. Di waktu-waktu tertentu, gunung tertinggi di Jepang ini sangat ramah bagi pendaki, tapi setiap saat kondisinya bisa berubah total menjadi sangat berbahaya.
Dengan ketinggian 3.776 meter di atas permukaan air laut (mdpl), Gunung Fuji bisa didaki dari 4 jalur atau trail yang tersedia. Dari keempatnya, Yoshida Trail menjadi jalur favorit dan paling banyak didaki terutama pada libur musim panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang jalur pendakian Gunung Fuji dilengkapi dengan fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari toilet, pos P3K, kedai-kedai penjual makanan bahkan sampai penginapan. Maka jangan heran, para pendaki yang datang ke sini nyaris tidak ada yang menggendong carrier atau ransel besar ala pencinta alam.
Namun jangan terlena oleh segala kemudahan di sepanjang jalur pendakian Gunung Fuji. Trek berpasir yang licin berpadu dengan bebatuan dan tanjakan curam adalah tantangan yang tidak boleh sekalipun diremehkan. Hempasan angin kencang dan cuaca ekstrem bisa datang sewaktu-waktu.
Sangat penting untuk memperhatikan perkiraan cuaca saat mempersiapkan pendakian ke Gunung Fuji. Saat detikTravel mendaki Gunung Fuji di awal September 2014, suhu di 8th station yang berada di ketinggian 3.400-an mdpl pada pukul 08.00 waktu setempat terukur -3 derajat celcius.
Bagi yang pernah berkunjung ke negara dengan 4 musim, suhu ini sebenarnya tidak jauh beda dengan suhu di musim dingin. Normalnya masih bisa ditoleransi oleh tubuh. Tapi di Gunung Fuji, kondisinya jauh berbeda karena berpadu dengan hujan dan hempasan angin kecang.
Sebagaimana gunung berapi yang masih aktif lainnya, sepanjang jalur pendakian Gunung Fuji sangat minim vegetasi bahkan nyaris tidak ada pepohonan besar yang bisa menahan angin. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan pasir dan bebatuan dengan berbagai ukuran, dari kerikil hingga bongkahan sebesar rumah.
Perlengkapan 'anti-badai' mutlak dipersiapkan karena cuaca bisa sewaktu-waktu berubah. Jas hujan wajib dibawa, lebih disarankan model setelan dan bukan ponco karena bisa melindungi celana. Untuk pakaian, khususnya celana, hindari jeans dan gunakan yang bahan-bahan quick dry.
Sepatu dan sarung tangan berbahan gore-tex cukup membantu karena kedap air sekaligus tetap memiliki sirkulasi udara yang baik. Sebagai pelapis baju hangat, gunakan jaket penahan angin.
Sepatu dengan potongan tinggi bisa menjadi 'otot kedua' bagi angkle agar tidak mudah keseleo. Tongkat pendakian atau trekking pole, jika tersedia juga akan sangat membantu. Trekking pole tradisional dari bahan kayu dijual juga di setiap pos atau station dengan harga sekitar JPY 1.000 atau sekitar Rp 100 ribu. Di setiap pos atau station, trekking pole tradisional ini bisa dimintakan cap untuk menandai ketinggian yang telah dicapai dengan ongkos cap JPY bervariasi antara JPY 200-300 (Rp 22-33 ribu).
Penting untuk diingat, pendaki Gunung Fuji diwajibkan untuk membawa pulang semua sampah selama pendakian. Benar-benar harus dibawa pulang, sebab di sepanjang jalur pendakian maupun di pintu masuk dan keluar tidak tersedia satu pun tempat sampah.
Bahkan sampai di parkiran, jangan harap bisa menemukan tempat sampah. Petugas informasi hanya akan mempersilakan untuk membawa pulang sampah masing-masing jika ada pendaki yang menanyakan di mana tempat untuk membuang sampah-sampah pendakian.
Untuk ukuran gunung yang paling banyak didaki, Gunung Fuji terbilang cukup bersih dari sampah. Kalaupun ada 1-2 yang tercecer, mungkin memang benar-benar tercecer saat pemiliknya hendak membawanya turun. Semoga!
(ptr/ptr)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun