Tiap-tiap negara di dunia punya suku yang memiliki kebudayaan dan cerita menarik. Salah satunya Suku Lundayeh yang menetap di perbukitan di Sabah, Malaysia. Mereka adalah suku pemburu kepala manusia!
Beda negara, beda pula suku yang bisa dilihat. Kali ini, saya berkesempatan mengunjungi Mari Mari Village, suatu desa buatan di Inanam, Kinabalu, Malaysia. Jaraknya dari pusat Kota Kinabalu sampai ke sana sekitar 45 menit.
Mari Mari Village sudah dibuka untuk umum sejak tahun 2008. Dengan luas 7 hektar di tengah hutan, di sini ada 5 suku yang masing-masing letak rumahnya terpisah. Kelimanya yakni Kadazan Dusun, Bajo, Lundayeh, Murut, dan Rungus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya yang mendengarnya langsung terkejut. Mungkin, Anda pun belum mendengar nama Suku Lundayeh yang disebut sebagai pemburu kepala ini. Alister, lantas dengan senang hati menjawab deretan pertanyaan dari rasa penasaran saya.
BACA JUGA: Berburu Mutiara di Kinabalu
"Yang berburu kepala manusia, adalah pria-pria dari suku Lundayeh. Mereka melakukan itu sebagai syarat untuk menikah. Mereka harus memenggal kepala musuh alu menyerahkan kepada orang tua si wanita. Satu kepala saja, cukup," tutur Alister panjang lebar.
Kepala yang diburu pun adalah kepala pria. Mereka tidak pernah dan tidak boleh memenggal kepala wanita dan anak-anak. Pedang yang digunakannya namanya mandau.
"Pedang ini biasa, tapi di bagian gagangnya terdapat semacam rambut yang diikat. Jumlah ikatannya, menandakan jumlah kepala yang sudah dipenggal," ujar Alister.
Kemudian, sambung Alister, kepala-kepala yang diburu diletakan di dalam rumah di satu tiang yang tinggi. Kepalanya disusun sampai ke ujung tiangnya.
BACA JUGA: Makanan Penggoyang Lidah di Kinabalu
"Tiap tahun, ada upacara khusus untuk mendoakan kepala-kepala yang sudah diburu. Kalau tidak diadakan upacaranya, bisa celaka," tegas Alister.
Namun, kini Suku Lundayeh tidak lagi melakukan tradisi berburu kepala. Mereka sudah meninggalkannya dan cukup menjadi cerita atau sejarah yang diceritakan secara turun menurun. Alister sendiri, tak tahu pasti kapan tradisi berburu kepala itu dimulai.
"Suku Lundayeh menetap di wilayah perbukitan yang ada di Sabah. Lokasinya terpencil, harus naik mobil off road untuk bisa melihatnya langsung," ucapnya.
Tak perlu jauh-jauh, Mari Mari Village punya rumah adat suku Lundayeh, barang-barang dan informasi mengenai suku tersebut. Tiket masuk ke dalamnya sebesar 80 Ringgit atau sekitar Rp 285 ribu, yang sudah termasuk makan dan jasa pemandu. Sayangnya, tidak ada tengkorak kepala asli di sana.
"Mari Mari Village buka tiga sesi, yaitu pukul 10 pagi, pukul 2 siang dan pukul 6 malam. Kami juga punya pagelaran budaya yang bisa disaksikan," kata Alister yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini.
(shf/fay)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru