Mari Mari Village di Kinabalu merupakan desa wisata yang terdiri dari 5 suku besar dari kawasan Sabah. Selain Suku Lundayeh yang disebut sebagi pemburu kepala, ada pula Suku Murut yang punya tradisi lompat rotan yang disebut dengan nama Lansaran.
"Ini saingannya lompat batu yang ada di Nias," ujar pemandu setempat, Alister kepada detikTravel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, terdapat rotan yang berukuran persegi dan di atasnya ada kain yang harus bisa disentuh. Rotannya elastis sehingga bisa menghasilkan tenaga untuk melompat yang tinggi," papar Alister.
Lanjut Alister, lompat rotan dilakukan oleh 2-3 orang. Satu orang akan melompat untuk menyentuh kain, sedangkan sisanya melompat-lompat untuk memberikan daya lompat yang lebih besar.
"Tinggi kainnya yang harus disentuh bisa mencapai 3-4 meter," kata Alister.
Asyiknya, turis bisa mencoba langsung tradisi lompat rotan ini. Dari anak kecil hingga orang tua dipersilakan mengikuti lompat rotan, yang dipandu langsung oleh Suku Murut.
usut punya usut, rupanya ada kesamaan antara lompat batu di Nias dengan lompat rotan di Kinabalu ini. Persamaannya yakni hanya dilakukan oleh pria dan sebagai bukti menandakan kedewasaan.
"Jika berhasil menyentuh kain, pria itu sudah dianggap dewasa dan boleh menikah. Tentu, harus sering latihan agar bisa menyentuh kain yang ada di atas itu," ungkap Alister.
Mari Mari Village berlokasi di kawasan Inanam yang dapat ditempuh naik mobil atau bus dari Kota Kinabalu. Tiket masuknya sebesar 80 Ringgit atau sekitar Rp 285 ribu, yang sudah termasuk makan dan jasa pemandu. Suku Murut sendiri diketahui sebagai salah satu dari pecahan Suku Dayak yang menetap di Kalimantan.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru