Kota Mong La pun sampai diberitakan media asing seperti The Daily Beast, News Australia, hingga The Economist. Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Rabu (20/5/2015) media The Economist pun menuliskan kalau Mong La dibangun di atas ladang opium.
Sejarahnya, Kota Mong La yang terpencil memang dibangun dari keuntungan hasil berjualan opium dan bantuan dana keuangan dari Provinsi Yunnan di Tiongkok. Pada tahun 1989, Kota Mong La bahkan pernah ramai didatangi turis.
Setidaknya 350.000 turis Tiongkok berkunjung ke Mong La setiap tahunnya untuk berjudi dan berkunjung ke panti pijat. Pada tahun 2002 lalu, Mong La memiliki pendapatan sekitar USD 9,6 juta dari sektor pariwisata, seperti diberitakan News.com Australia.
Perdagangan narkoba hingga senjata dan mobil colongan pun merupakan hal yang lumrah di Mong La. Edannya lagi, sejumlah hotel bahkan memasang selebaran berbau jasa seks dengan siaran televisi berisi film porno. Bikin geleng-geleng kepala.
Selain itu Mong La juga terkenal akan perdagangan produk binatang yang dilindungi. Termasuk di dalamnya seperti cakar macan dan gading gajah. Namun prakteknya, hampir sebagian besar barang yang diperdagangkan adalah barang palsu, seperti diberitakan The Daily Beast.
Adapun Mong La juga mempunyai Drug Eradication Museum atau yang juga disebut Opium Free Zone Museum, serta Pagoda Dway Nagara yang dapat dikunjungi secara cuma-cuma.
Intinya, Kota Mong La yang terletak di perbatasan Myanmar dan Tiongkok bisa disebut bermasalah. Ketiadaan aturan dan maraknya praktik usaha yang tidak sehat menjadikan Mong La seakan menjadi 'Sin City' yang tidak terjamah hukum.
(Sri Anindiati Nursastri/Sri Anindiati Nursastri)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah