Bedanya Naik Kereta di Tokyo dan di Jakarta

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Jepang

Bedanya Naik Kereta di Tokyo dan di Jakarta

Afif Farhan - detikTravel
Jumat, 05 Jun 2015 13:51 WIB
Suasana di dalam kereta di Tokyo (Afif/detikTravel)
Tokyo - Kereta adalah salah satu transportasi favorit untuk traveler saat menjelajahi Tokyo. Kereta di sana mengantarkan ke beberapa destinasi wisata, serta menjanjikan kenyamanan dan tepat waktu. Bagaimana ya kalau dibandingkan dengan kereta di Jakarta?

Dalam perjalanan menjelajahi Jepang atas undangan Japan National Tourism Organization (JNTO), detikTravel dan rombongan media dari Indonesia beberapa kali naik kereta ketika sedang berada di Tokyo. Kereta di sana, dioperasikan oleh JR yang merupakan singkatan dari Japan Railways.

Jika dibandingkan, tentu ada banyak perbedaan naik kereta di Tokyo dan di Jakarta. Saya menulis artikel ini, bukan untuk membanggakan atau menjelekan satu pihak. Tapi, mari kita sama-sama ambil pelajarannya dan dicontoh yang baik-baiknya.

Pertama, dari soal stasiunnya dulu. Tahukah Anda, jutaan orang di Tokyo memenuhi stasiun keretanya setiap hari. Yang paling padat, adalah saat jam-jam kerja di pagi hari atau jam pulang kerja di sore hari. Terang saja, kereta merupakan transportasi favorit bagi masyarakat setempat.

"Kami lebih suka naik kereta karena cepat, murah dan nyaman. Saat pagi hari, stasiun akan penuh orang yang naik kereta. Untuk turis, harap berhati-hati supaya tidak terpisah dari rombongan saat di stasiun," papar Tatsuo Yoshino, pemandu setempat yang menemani perjalanan rombongan media.

Karena ramai orang yang naik kereta, stasiun-stasiun di Tokyo pun dilengkapi aneka fasilitas untuk memberikan kenyamanan. Ada mini market, tempat makan, sampai toko buku. Para penumpang tidak perlu repot jika membutuhkan sesuatu, sehingga tidak perlu keluar dari stasiun.

Walau ramai, stasiun di sana ternyata sungguh bersih dan bebas dari sampah. Padahal bayangkan saja, ada jutaan orang di stasiun, tapi kok masih bisa bersih?

"Kami malu untuk membuang sampah sembarangan. Lagipula, disedikan tempat sampah di stasiunnya," tegas Yoshino.

Tempat sampahnya ternyata juga dibagi beberapa bagian. Terdapat tempat sampah untuk botol minuman, sampah kering, sampah basah, sampai sampah berupa koran atau majalah. Itu membuat sampah-sampah tidak akan menumpuk, sehingga tidak muncul bau tak sedap.

Setelah stasiun, mari kita lihat keretanya. Sebelas dua belas dengan stasiunnya, kereta-kereta di Tokyo sungguh bersih. Lantainya kinclong dan begitu pula atapnya yang bebas dari debu.

Sebelum naik kereta, traveler harus mematuhi peraturan berikut ini. Harap berada di pinggir pintu saat pintu kereta terbuka dan jangan naik dulu sebelum orang-orang sudah turun!

Berada di pinggir pintu, akan memudahkan orang-orang yang turun dari kereta sehingga tidak akan desak-desakan. Bagi yang tidak mengindahkan peraturan tersebut, siap-siap ditatap sinis oleh penumpang lainnya.

Nah, begitu pula saat sedang berada di eskalator. Anda yang tidak buru-buru baiknya berada di sebelah kiri untuk memberi ruang jalan kepada orang yang sedang buru-buru.

Kembali ke dalam kereta, selain bersih, informasi mengenai stasiun dan jalur kereta terpampang jelas. Sayangnya, untuk informasi mengenai jalur kereta hanya tersedia dalam bahasa Jepang. Untuk itu, ada baiknya Anda mengetahui lebih dulu stasiun mana yang hendak dituju. Tiap stasiun punya nomor masing-masing.

Satu lagi, Anda juga harus mendengar informasi yang jelas. Sebelum tiba di suatu stasiun, bakal terdengar pengumuman melalui pengeras suara. Kalau sudah begitu, langsung saja Anda berjalan ke arah pintu dan siap-siap turun. Jangan menunggu lama-lama, karena bakal banyak juga penumpang yang lain.

Hal menarik lainnya di dalam kereta di Tokyo yang saya rasakan, adalah suasananya yang tenang. Tidak ada orang-orang yang mengobrol dengan kencang atau tertawa terbahak-bahak. Itu tentu saja, makin membuat suasana di kereta menjadi nyaman.

Orang-orang Jepang pun, kebanyakan menghabiskan waktu di perjalanan dalam kereta dengan bermain gadget. Beberapa lainnya tidur dan beberapa lainnya membaca buku.

Kereta di Tokyo juga punya kursi prioritas untuk ibu hamil, penumpang yang membawa bayi dan manula. Saat sedang penuh, kursi-kursinya memang diduduki oleh siapa saja. Namun begitu ada penumpang yang masuk daftar prioritas tersebut. Mereka akan berdiri dan memberikan kursinya.

Angka kriminalitas di dalam kereta pun rendah. Jika ada barang yang tertinggal, penumpang lain akan mendiamkan begitu saja dan anti untuk mengambilnya. Bisa juga, petugas stasiun akan mengambilnya untuk diamankan.

Soal kedatangan kereta tepat waktu, jangan ditanya. Kereta-kereta di Tokyo sangatlah tepat waktu. Kalau pun mengalami kendala teknis, paling-paling keterlambatannya tidak sampai 10 menit atau sampai berjam-jam.

Tapi, ada satu hal yang membuat kereta di Tokyo dan juga di seluruh daerah Jepang tidak akan berjalan. Hal itu adalah bencana alam seperti gempa bumi. Ketika itu terjadi, maka pihak JR akan memberikan informasi untuk meng-update perkembangannya (biasanya 15 menit sekali). Apabila gempa buminya begitu kencang, kereta tidak akan beroperasi sampai situasi benar-benar normal.

Kereta di Tokyo beroperasi mulai dari pukul 05.00 sampai pukul 01.00 dinihari. Apa yang sudah saya tulis, tentu Anda bisa bandingkan sendiri apa perbedaannya naik kereta di Tokyo dan di Jakarta.

(aff/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads