Klontangg.....klontangggg....! Bunyi derit trem tidak bisa ditampik. Suara rem beradu dengan mesin membuat jantung berdebar-debar. Beberapa kali trem ini tidak kuat menanjak untuk sudut curam, kira-kira 30 derajat. Trem pun kembali ke titik datar guna mengumpulkan tenaga, berhenti sebentar dan memacu mesin dengan cepat melintasi perbukitan curam di San Francisco.
detikTravel dan wisatawan yang turut menumpang trem ini turut menahan nafas. Sedikit ragu-ragu apakah trem tua masih kuat menanjak atau kah kembali harus berhenti di lereng bukit dengan tuas rem ditarik manual sehingga menimbulkan bunyi berderit yang keras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lihat di sebelah kanan, jembatan Golden Gate terlihat. Jembatan itu usianya lebih muda dari trem ini," kata kondektur trem yang merangkap menjadi guide bagi para turis, meski sebenarnya tugas utama dia yakni menarik tiket US$ 7 per penumpang. Bersama sopir trem, keduanya melengkapi pengalaman personal naik trem San Francisco dengan ramah, sopan dan hangat.
Jumlah armada trem yang digagas oleh insyinyur asal Inggris Andrew Smith Hallidie tidaklah banyak. Sehingga turis perlu menunggu trem yang berangkat 15 menit sekali. Kapasitas trem yang hanya muat 40 penumpang, membuat sebagian turis memilih bergelantungan seperti naik Metro Mini di Jakarta.
Para turis diberi pilihan untuk naik trem dengan 3 rute berbeda yakni dari Powell menuju Hyde, Powell menuju Mason dan California menuju Van Ness. Dari ketiga rute, trayek kedua paling banyak diminati karena menghubungkan dua pusat turis yakni Union Square di pusat kota dan Fisherman Warf di pantai dengan waktu tempuh 30 hingga 40 menit. Di antara keduanya, banyak spot yang menarik seperti Taman Lombard dan Pier 39.
Di Union Square itu pula, detikTravel mencoba mengantre namun diurungkan karena panjangnya antrean. Dibutuhkan 2 hingga 3 jam pada jam sibuk seperti akhir pekan untuk bisa naik trem. detikTravel baru merasakan trem pada malam hari ketika penumpang sudah mulai berkurang, meski tetap harus antre namun tidak separah siang hari.
Di atas trem itu pula, pengalamannya benar-benar berbeda. Ada nuansa nostalgia, romantis maupun kesan sejarah yang sangat menyentuh. Terutama saat menyisir deretan rumah klasik bergaya Victoria dengan warna pastel lembut berlatar bentang kota pantai yang cantik.
Para turis menikmatinya dengan caranya masing-masing. Ada yang berdua-duaan dengan pasangan, ada yang sibuk dengan kameranya dan ada yang duduk manis menahan nafas karena was-was dengan suara trem yang ngos-ngosan.
Klontang...klontang...., bunyi klakson dari bel besar benar-benar melengkapi romantisme San Francisco.
(sst/fay)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru