Trem yang masih beroperasi sampai sekarang sudah mengalami beberapa perubahan bentuk, dari awalnya trem kuno sampai yang keluaran terbaru alias modern. Nah, trem yang sudah kuno ternyata tidak cepat-cepat pensiun.
Ada beberapa yang disulap menjadi restoran berjalan oleh The Colonial Tramcar Restaurant. Anda bisa menikmati hidangan khas Melbourne sambil berkeliling kota di atas tram mulai dari AUD 85 (Rp 850.000) sampai AUD 121 (Rp 1,2 juta) per orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk makan siang (pukul 13.00-15.00) tarifnya AUD 85 untuk empat sajian makanan. Sementara makan sore tarifnya AUD 80 untuk tiga sajian makanan.
Sedangkan untuk makan malam (pukul 20.35-23.30) tarifnya AUD 121 untuk lima sajian makanan. Nah, pekan lalu detikTravel bersama dua rekan mencoba makan malam di atas trem.
Para tamu yang sudah reservasi diminta menunggu di salah satu stasiun trem, yang sehari-hari masih dipakai untuk transportasi umum, di daerah Melways Ref 43 F11 yang terletak du pojok Whiteman Street dan Normanby Road.
Jangan telat! Karena terlambat beberapa menit saja Anda akan ditinggal. Ada 6 tram sekali jalan, tiap tram memuat 36 tamu. Masing-masing tram ada satu koki dan dua pelayan.
Sebelum memulai perjalanan, salah satu pelayan bertanya apakah kami mengkonsumsi alkohol dan makanan yang mengandung babi. Karena kami bertiga muslim, kami pun memilih menu halal.
Selama tiga jam perjalanan kami dihidangkan Hummus dan Roasted Red Capsicum Dip untuk makanan ringan, Duck Terrine (bebek cincang) dan Smoke Salmon Avocado untuk makanan pembuka, Grilled Chicken Breast dan Victorian Farmed Eye Fillet of Beef untuk makanan utama, aneka keju setelah makanan utama, dan Volcano Cake serta puding untuk makanan penutup.
Trem berjalan lambat selama makanan dihidangkan. Para tamu bisa mengobrol, bersantap, sambil menikmati pemandangan kota Melbourne.
Setelah makanan utama dihidangkan, trem akan berhenti dan mempersilakan para tamu untuk turun sekedar meluruskan badan, merokok, atau mencari udara segar. Suhu udara di Melbourne yang hanya 9 derajat celcius sepertinya kurang bersahabat bagi orang tropis seperti kami.
Akhirnya kami hanya bertahan sekitar 10 menit saja di luar ruangan dan memutuskan masuk kembali ke dalam tram. Dua hidangan terakhir, yaitu aneka keju dan makanan penutup dihidangkan sambil trem melaju ke halte tempat pertama kami menunggu.
Sebelum turun, salah satu pelayan memberikan kartu pos, beberapa batang cokelat, dan kartu nama koki serta pelayan yang bertugas malam itu. Kami pun menutup hari dengan perut kenyang dan senyum puas atas makan malam yang tak terlupakan di Negeri Kangguru.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun