Kawasan Cappadocia, Turki dikenal sebagai wilayah bebatuan vulkanik, batu dari hasil erupsi gunung berapi. Bebatuan tersebut digunakan oleh penduduk setempat sebagai tempat tinggal. Bahkan, sampai sekarang, masih ada beberapa rumah penduduk yang di bebatuan alias gua.
Salah satu rumah gua penduduk Uchisar yakni milik keluarga Adnan, yang ditempati keluarganya sejak 150 tahun lalu. detikTravel berkunjung ke sana pekan lalu dalam undangan dari Turkish Airline.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak bebatuan vulkano yang bentuknya lancip dikeruk dan dibentuk menjadi tempat tinggal. Bebatuan tersebut ada yang dikeruk dan menjadi seperti gua.
Ada tiga bagian bebatuan yang dijadikan sebagai tempat tinggal warga Uchisar pada saat itu. Bagian pertama atau lantai dasar adalah tempat berkumpul atau ruang keluarga. Lantai dua tempat kamar tidur. Sedangkan lantai tiga digunakan untuk menjadi semacam gereja.
Seiring berkembangnya waktu, dari zaman kerajaan menjadi zaman Republik Turki, banyak masyarakat yang turun 'gunung' dan menjadi warga yang tinggal tidak di bebatuan.
Namun, keluarga dari Adnan Splace ini tetap bertahan menjaga kelestarian budaya yakni menempati rumah gua sebagai tempat tinggal.
"Ini rumah dari turun-temurun dari kakek-kakek," kata Usman menerjemahkan keterangan dari Bursyah, anak gadis dari keluarga Adnan.
Ada budaya warga Uchisar yang tinggal di rumah gua. Ketika masih anak-anak, mereka tinggal bersama orang tuanya di sana. Namun, saat menikah, mereka dilepaskan untuk mencari jalan hidup sendirinya.
Komunitas rumah batu alias gua di Uchisar semakin tahun semakin menurun. Sebabnya, anak-anak mereka lebih memilih tinggal di rumah perkotaan atau pedesaan dibandingkan dengan tinggal di rumah gua.
Bursyah, gadis dari Uchisar yang menempuh pendidikan perguruan tinggi di salah satu kota di Turki ini, tetap bertahan tinggal di rumah tradisional, karena ingin membantu orang tuanya.
Sehari-hari, bagi anak-anak perempuan membantu merajut membuat kerajinan tangan seperti kerudung, gelang dan beragam lainnya. Kerajinan tangan ini dijual ke wisatawan yang datang ke rumah gua, dan menjadi salah satu mata pencaharian warga setempat.
(roi/krn)










































