Museum Sisaket Vientiane, Saksi Bisu Sejarah Kelam di Laos

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Laos

Museum Sisaket Vientiane, Saksi Bisu Sejarah Kelam di Laos

Ahmad Masaul Khoiri - detikTravel
Selasa, 14 Feb 2017 12:10 WIB
Museum Sisaket Vientiane, Saksi Bisu Sejarah Kelam di Laos
Museum Sisaket (Masaul/detikTravel)
Vientiane - Ibukota negara Laos, Vientiane menawarkan destinasi wisata sejarah yang cukup lengkap. Ada museum yang menyimpan kisah kelam negeri ini.

Salah satu yang dikunjungi detikTravel, Minggu (5/2/2017) adalah Museum Sisaket. Terdapat pula vihara di dalam museum yang terletak di sudut Lane Xang Avenue dan Setthathirat Rue, Vientiane ini.

Menurut pemandu tur dari Laos, Mr Tony, komplek bangunan yang sekarang menjadi museum ini merupakan bentuk asli peradaban pada masa lampau. Selain ini, bangunan di Kota Vientiane merupakan bangunan baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini dikarenakan pecahnya perang dengan Kerajaan Thailand. Semua bangunan yang ada dibakar dan barang berharga lainnya dijarah pada abad ke-18.

Museum ini bekas kerajaan Laos di masa silam (Masaul/detikTravel)Museum ini bekas kerajaan Laos di masa silam (Masaul/detikTravel)
"Ini merupakan satu-satunya bangunan yang masih ada. Semua dibakar pada abad 18," ucap Tony.

Pada masa itu pula, komplek bangunan ini merupakan markas dari tentara Thailand. Mereka mempergunakannya untuk menyimpan senjata dan tempat tinggal.

"Bangunan ini pernah15 tahun terbengkalai semenjak tentara kerajaan Thailand pergi dari tanah Laos," imbuh Tony.

Sisaket merupakan tempat dikumpulkannya patung-patung Buddha dari seluruh penjuru Laos. Sebanyak 10.136 patung Buddha diletakkan di kolom-kolom dinding museum ini.

Koleksi patung Buddha di museum (Masaul/detikTravel)Koleksi patung Buddha di museum (Masaul/detikTravel)
Patung Buddha yang memiliki ukuran bervariasi ini terbuat dari perunggu dan ada pula yang terbuat dari tanah maupun kayu.

Dahulunya, di beberapa patung terdapat emas yang diletakkan di atas kepala Buddha. Akibat perang dan jarahan semuanya hilang dan hanya meninggalkan bekas berupa lubang di atas kepalanya.

"Dari sekitar sepuluh ribu patung itu, ada satu patung kecil terbuat dari emas murni. Namun dijarah pula saat perang berkecamuk. Mereka dapat mengenali patung yang terbuat dari emas walau semua patung yang berukuran kecil sudah dicat dengan warna emas," urai Tony.

Pada masa kolonial Prancis, Laos dibantu mengumpulkan kembali sisa-sisa penjarahan mereka. Hingga pada akhirnya diletakkan di Museum Sisaket ini.

Salah satu sudut museum (Masaul/detikTravel)Salah satu sudut museum (Masaul/detikTravel)
Di sekeliling Sisaket dipenuhi dengan makam-makam para petinggi negara Laos. Ada pula tempat penjualan oleh-oleh di dalam komplek yang menjual lukisan bergambar pohon emas maupun wajah Buddha.

Bagi para pengunjung tidak diperbolehkan memotret bagian dalam vihara. Di dalam tergambarkan kehidupan masa lampau masyarakat Laos dalam lukisan yang sudah berwarna di dindingnya. Ada pula beberapa patung Buddha yang berwarna emas.

Museum Sisaket buka setiap harinya dari pukul 08.00-17.00 waktu setempat. Tiket masuk bagi turis lokal sebesar 3.000 Kip atau setara Rp 5.000, sedangkan turis mancanegara dikenakan tiket seharga 10 ribu Kip atau setara Rp 16 ribu. (rdy/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads