Sungai Mekong yang melintasi Thailand memiliki sejarah yang erat dengan awal mula penduduk pribumi. Bekas peradaban manusia pada zaman dulu itu terpendam di situs Ban Chiang, Udon Thani.
Senin (6/2/2017) lalu, detikTravel mengunjungi situs tersebut. Saat ini, telah dibangun sebuah museum yang di dalamnya terdapat lubang sebagai tempat ekskavasi benda-benda purbakala itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Museum Ban Chiang tampak dari depan (Masaul/detikTravel) |
Situs arkeologi Ban Chiang pada zama dulu berupa gundukan tanah yang cukup tinggi dan terletak di daerah pertanian di Kecamatan Ban Chiang, Kabupaten Nong Han, Udon Thani, Thailand. Lokasinya sendiri dekat dengan daerah aliran Sungai Mekong.
Gundukan tanah yang dulunya berbentuk oval itu, dibangun sebagai tempat tinggal manusia. Ukurannya kurang lebih 500 meter x 1.350 meter dan tinggi 8 meter.
Situs Ban Chiang pertama kali ditemukan pada tahun 1966. Sejak saat itu dilakukan penggalian dan yang kemudian dipelajari oleh para ahli arkeologi dari Thailand juga internasional.
Pengrajin tembikar di sekitar museum Foto: Masaul/detikTravel |
Luas total lahan pertanian diketahui seluas 67,36 hektar. Sekitar 0,09% di antaranya telah diekskavasi hingga tahun 2012.
"Para ahli menganggap pemukiman prasejarah ini menjadi bukti paling penting manusia purbakala yang ditemukan di Asia Tenggara. Mereka dipercaya sebagai penanda awal mula perkembangan budaya membuat persawahan,"
Sebagaimana diketahui bahwa situs Ban Chiang telah menjadi situs warisan dunia yang diakui oleh organisai pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan PBB , UNESCO. Para ahli menganggapnya sebagai pemukiman prasejarah yang menandai awal perkembangan budaya pertanian di Asia Tenggara yang dimulai dari rentang waktu1495 sebelum masehi hingga 900 sebelum masehi.
Dalam situs Ban Chiang ini, traveler dapat melihat kerangka manusia utuh yang di sisi-sisinya terdapat barang pecah belah dari keramik maupun perhiasan. Letaknya yang hanya 30 menit perjalanan darat dari pusat kota Udon Thani, menjadikannya sebagai alternatif destinasi wisata pendidikan.
Kerajinan yang menjadi usaha sampingan warga Foto: Masaul/detikTravel |
"Mereka membuat tembikar hanya dari pesanan dan sebagian lainnya dijual di kota. Saat ini, jumlah mereka tidak lebih dari 10 keluarga yang menurunkan keahlian itu dari generasi ke generasi," tutup Tom. (bnl/aff)












































Museum Ban Chiang tampak dari depan (Masaul/detikTravel)
Pengrajin tembikar di sekitar museum Foto: Masaul/detikTravel
Kerajinan yang menjadi usaha sampingan warga Foto: Masaul/detikTravel
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh